oleh

Mediator Non Hakim PN Jakut Palsukan Tanda Tangan dan Sidik Jari Istrinya

POSKOTA.C0 – Mediator non hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Hasim Sukamto, diseret istrinya ke Pengadilan Negeri Jakarta Utara karena dugaan pemalsuan tandatangan dan cap jempol dirinya guna memperoleh pinjaman dari bank sebesar Rp 23 miliar.

Melliana Susilo, yang juga istri dari terdakwa Hasim Sukamto ini berharap agar ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara Djuyamto SH MH menjatuhi hukuman sesuai hati nurani tanpa memandang bahwa suaminya merupakan sebagai mediator non hakim di Pengadilan negeri Jakarta Utara

Hasim Sukamto yang tercatat sebagai mediator non hakim di PN Jakarta Utara dilaporkan istrinya sendiri dikarenakan melakukan tindak pidana dengan memalsukan tandatangan dan sidik jari (cap jempol) nya guna memperoleh pinjaman dari bank.

“Saya minta para hakim jangan takut diintervensi dari manapun dan jangan pandandang bulu dan jangan melihat kedudukan terdakwa sebagai mediator noh hakim PN Jakarta Utara. Pak Hakim Harus menjunjung tinggi rasa keadilan, sebab nantinya putusannya harus dipertanggung jawabkan di hadapan Maha Kuasa,” tutur Meliana Susilo melalui penasehat hukumnya Leo Famli SH MH di Jakarta, Rabu (16/9/2020).

Sidang yang digelar di PN Jakarta Utara tersebut dipimpin Ketua Majelis Djuyamto SH MH sebagai ketua dan Taufan Mandala Putra SH MHum serta Agus Darwanta SH MH sebagai anggota.

Hasim Sukamto yang juga sebagai Dirut PT HMU duduk sebagai terdakwa di Pengadilan Negeri Jakarta Utara karena diduga bersalah melakukan tindak pidana pemalsuan sebagaimana diatur pasal 266 KUHP.

Penasehat hukum Leo mengatakan kliennya Melliana Susilo hanya ingin memperoleh rasa keadilan dari kasus yang menimpa dan merugikannya.

Dikatakan Leo, dalam persidangan sebelumnya menunjukkan kuatnya indikasi tindak pidana dilakukan terdakwa Hasim Sukamto terhadap saksi korban Melliana Susilo.

Kayakinan itu diperolehnya berdasarkan keterangan para saksi yang dihadirkan JPU Iqram Saputra SH MH dan Erma Octora SH MH dalam sidang, ditambah alat bukti yang ada menunjukkan adanya tindak pidana pemalsuan tandatangan dan cap jempol Melliana Susilo.

“Fakta persidangan Itu semuanya sesuai dengan dakwaan Jaksa Penuntut Umum maupun requisitornya, serta keterangan saksi satu dan lainnya yang saling bersesuaian. Menurut kami perbuatan pidana yang dilakukan terdakwa Hasim Sukamto sudah bisa dikatakan terbukti secara sah dan meyakinkan sesuai fakta dalam persidangan selama ini,” ujar Leo.

Terdakwa Hasim Sukamto yang Dirut PT HMU duduk di kursi pesakitan lantaran diduga telah memalsukan tandatangan dan cap jempol saksi korban Melliana Susilo untuk kepentingan pencairan kredit di salah satu Bank swasta senilai Rp 23 miliar.

Diungkapkannya, saksi Melliana menolak menandatangani dan memberikan cap jempol pada dokumen Surat Kuasa Untuk Memberikan Hak Tanggungan (SKMHT) sebagai persyaratan pencairan kredit.

SKMHT adalah surat atau akta yang berisikan pemberian kuasa yang diberikan oleh pemberi agunan/pemilik tanah (pemberi kuasa) kepada pihak penerima kuasa untuk mewakili pemberi kuasa guna melakukan pemberian Hak Tanggungan (HT) kepada Kreditor atas tanah milik Pemberi Kuasa.

Namun, tanpa sepengetahuan Melliana, terdakwa Hasim membubuhkan tandatangan palsu dan cap jempol seakan-akan saksi korban telah setuju dan selanjutnya dokumen tersebut diserahkan ke notaris atau PPAT.

Akibat perbuatan pemalsuan oleh terdakwa yang juga suami saksi korban, ruko dan gudang yang merupakan harta bersama Melliana Susilo – Hasim Sukamto dijadikan sebagai agunan kredit di Bank swasta oleh PT HMU.

Padahal, kata pengacara Leo, kliennya Melliana Susilo tidak tercatat sebagai direksi atau apapun di PT HMU. Hanya suaminya (Hasim Sukamto) dan saudara-saudara kandungnya berkedudukan di PT HMU.

Atas perbuatan suaminya yang juga dirut di perusahan tersebut merugikan saksi korban Melliana dan terancam akan kehilangan seluruh harta bendarnya. Oleh karenanya, dia berharap dalam putusan sidang nanti para hakim harus netral.

“Bu Melliana Susilo memimpikan keadilannya terhadap majelis hakim, dan klien kami berkeyakinan majelis hakim tidak akan mengecewakannya karena memang apa yang dilakukan terdakwa itu terhadap dirinya tidak terbantahkan dan benar-benar merupakan suatu tindak pidana,” ujar Leo. (fery)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *