oleh

Kasus Kavling Bodong Menyeret PT Kampung Kurma Mulai Memanggil Saksi

POSKOTA. CO – Kasus sengketa antara pembeli dengan PT Kampoeng Kurma yang diselidiki Mabes Polri, kini memanggil saksi-saksi.
Namun Mabes Polri melalui Karo Penmas, Brigjen Awi Setiyono di Mabes Polri mengatakan, penyidik kesulitan dalam mengusut kasus dugaan kavling bodong di bidang perkebunan dengan memakai agama dan bebas riba yang menyeret Kampoeng Kurma Group.

Menurut Brigjen Awi, proses pemanggilan saksi-saksi masih berjalan. Proses tracing aset, sampai sekarang juga belum ada yang disita. Ini yang harus diklarifikasi.

Menurut Jenderal polisi bintang satu ini, penyidik memerlukan waktu untuk melakukan klarifikasi terkait sejumlah transaksi yang tidak tercatat dengan baik oleh perusahaan. “Kalau datanya lengkap sih gampang. Yang jadi masalah karena datanya yang sudah saya sampaikan tadi, datanya memang amburadul,” kata Brigjen Awi.

Ia lalu merinci data yang kurang lengkap seperti, ada sejumlah pembeli yang baru membayarkan uang muka atau down payment (DP), tetapi ada juga yang sudah lunas membayar. Hasil sementara, ada sekitar 2.000 orang yang jadi korban.

Kasus ini bermula dari informasi Satgas Waspada Investasi (SWI) pada awal 2020. Dari hasil penyelidikan polisi, diketahui seseorang mendirikan enam perusahaan Kampung Kurma Group yang tersebar di Kabupaten Bogor, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Lebak, dan Kabupaten Pandeglang.

Penjualan lahan kavling meraup lebih dari Rp 333 miliar. Dimana ada 4.208 kavling yang dijual dengan bonus sebuah pohon kurma untuk masing-masing kavling.

Masih kata Brigjen Awi, penjual juga menjanjikan akan mendirikan pesantren, masjid, arena olahraga, kolam renang, dan fasilitas lainnya. Akan tetapi, faktanya tidak seperti yang dijanjikan.

Pembeli juga tak bisa langsung mendapatkan kavling yang dijanjikan karena terkendala dalam hal proses peralihan akta jual beli (AJB) antara pemilik lahan dengan konsumen karena legalitas Kampung Kurma Grup ternyata bermasalah.

Untuk diketahui Kampung Kurma mulai dikenal pada tahun 2018. Mereka menawarkan paket kavling tanah seluas 400 meter-500 meter untuk ditanami pohon kurma, dan termasuk investasi kavling kolam lele dengan 10.000 bibit.

Harga kavling bervariatif mulai dari Rp 99 juta per kavling. Kecurigaan investor terkait investasi ini bermula saat sejumlah nasabah yang datang ke PT Kampung Kurma di Bogor untuk menagih janji mengenai status lahan kavling dan pengembalian dana.

Namun ratusan pembeli ini tidak dapat menemui Direktur Utama PT Kampung Kurma berinisial AH. Kasus ini akhirnya mencuat dan kini menjadi urusan hukum di polisi. (yopi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *