oleh

IT for Road Safety Suatu Kebutuhan dan Keharusan


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

TUJUAN road safety seringkali diabaikan, dan yang diagungkan justru caranya. Berdebat pada cara atau alat tidak menyelesaikan masalah, melainkan hanya menimbulkan perebutan kewenangan dan ego sektoral. Sama halnya perdebatan sistem teknologi dan proses pembangunannya dapat saya analogikan dengan memperdebatkan kesaktian suatu jimat atau pusaka yang tentu lebih pada hal tidak kasat mata.

Namun bagi IT atau sistem elektronik atau sistem-sistem online kesaktian atau kemanjurannya dapat ditunjukkan dalam bentuk:

  1. Info grafis.
  2. Info statistik.
  3. Info virtual.

Ketiga hal di atas dapat ditunjukkan secara realtime ontime, dan anytime.

IT for road safety dibangun melalui tiga komponen dasar:

  1. Back office sebagai operation room, pusat data, pusat komunikasi, koordinasi kodal, dan informasi yang saling terkait, yang dpt dijadikan sebagai call centre, quick response time, control room, one gate service system, dan sebagainya.
  2. Application yang berbasis artificial intellegence, yang mampu menyinergikan antarbagian dan sub bagian sebagai suatu sistem imputing data, sistem integrasi data, analisis data, dan produk secara virtual atau grafis maupun statistik yang menunjukkan prediksi antisipasi sebagai bentuk solusi.
  3. Network yang berbasis IoT sebagai bagian integrasi menuju big data dan one gat service system.

Tujuan road safety adalah untuk:

  1. Mewujudkan dan memelihara lalu lintas yang aman selamat tertib dan lancar.
  2. Meningkatkan kualitas keselamatan dan menurunkan tingkat fatalitas korban kecelakaan.
  3. Membangun budaya tertib berlalu lintas.
  4. Memberikan pelayanan prima di bidang lalu lintas dan angkutan jalan.

Keempat poin tersebut merupakan standar penilaian atau keberhasilan dalam mengimplementasikan road safety. Implementasi road safety diselenggarakan lima pilar:

  1. Road safety management yang penjurunya adalah Bappenas.
  2. Safer road penjurunya Kementerian PUPR.
  3. Safer vehicle penjurunya Kementerian Perhubungan.
  4. Safer road users penjurunya Polri.
  5. Post crash care penjurunya Kementerian Kesehatan.

Implementasi kelima pilar tersebut pada penyelenggaraan tugas Polri dalam menangani lalu lintas (road safety policing) di era digital dibangun dengan sistem IT for road safety atau e-policing pada fungsi lalu lintas.

IT for road safety pada road safety policing juga mengacu sistem pemolisian untuk mendukung kelima pilar tersebut, adalah:

  1. 1. TMC (traffic management centre) sebagai pusat big data, call and comand centre, one gate service system, maupun operation room yang mampu memberikan pelayanan LLAJ secara prima.
  2. SSC (safety and security centre) untuk mendukung safer road, yang berisi sistem inputing dan analyzing data yang berkaitan dengan jalan dan perilaku berlalu lintas.
  3. ERI (electronic registration and identification) untuk mendukung safer vehicle yang dibangun pada sistem ceck and verification data kendaraan bermotor, automatic number plates recognation (ANPR) yang didukung dengan sistem-sistem OBU, RFID, QR dan sebagainya untuk mendukung program: a) ERP (electronic road pricing), b) ETC (electronic toll collect), c) e-parking, d) e-samsat, dan f) ETLE ( electronic law enforcement), dan sebagainya.
  4. SDC (safety driving centre) sebagai sistem online pendidikan keselamatan atau sekolah mengemudi sistem uji SIM dan sistem penerbitan SIM yang mampu mendukung program ETLE (electronic traffic law enforcement), TAR (traffic attitude record), dan DMPS (de merit point system).
  5. Intan (intellgence traffic analysis) sebagai pendukung post crash care merupakan suatu sistem pelayanan berbasis peta digital yang mampu memonitor sistem-sistem pada poin 1 sampai dengan 4 di atas yang digerakkan untuk memberikan pelayanan cepat yang mampu memberikan informasi, komunikasi maupun solusi.

Implementasi dari poin 1 sampai 5 tersebut didukung dengan smart management yang berbasis SOP untuk membangun profesionalisme dalam pemolisian pada tingkat manajemen maupun operasional dalam masyarakat yang diawaki oleh polisi siber atau cyber cops.

Keharusan dan kebutuhan membangunan IT for road safety pada road safety policing aadalah berfungsi sebagai:

  1. Monitoring dan evaluasi dalam berbagai sistem-sistem virtual info grafis maupun info statistik secara ontime, realtime, dan anytime.
  2. Sebagai pendukung forensik kepolisian.
  3. Techno crime prevention.
  4. Menunjukkan algoritma road safety.
  5. Pelayanan prima yang cepat, tepat, akurat, transparan, akuntabel, informatif, dan mudah diakses.
  6. Mendukung program pemerintah untuk membangun ERP, ERC, e-parking, e-samsat, e-bangking, serta ETLE, dan sebagainya.
  7. Akuntabilitas kepada publik secara moral, hukum, administrasi, dan secara fungsional.
  8. Reformasi birokrasi, inisiatif antikorupsi, dan terobosan kreatif.
  9. Landasan mewujudkan polantas yang profesional, cerdas, bermoral, dan mudah diakses.
  10. Membangun budaya tertib berlalu lintas.

IT for road safety dalam implementasinya memerlukan:

  1. Political will yang kuat.
  2. Adanya tim transformasi.
  3. Program-program literasi road safety.
  4. Road safety coaching and training.
  5. RSPA (road safety partnership action).
  6. Master trainer, trainer, dan training.
  7. TARC (traffic accident research centre) yang dikembangkan menuju road safety research and development centre.
  8. Program-program unggulan.
  9. Pilot project.
  10. Sistem monitoring dan evaluasi.
  11. Model implementasi untuk dikembangkan sesuai corak masyarakat dan kebudayaannya. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *