oleh

Ingin Kuasai Harta Gono Gini Ayah Sambung Diduga Palsukan Akta Perkawinan

POSKOTA.CO – Ingin menguasai harta istrinya yang telah meninggal dunia, ayah sambung dilaporkan anak tirinya ke Polda Metro Jaya atas dugaan pemalsuan akta otentik perkawinan.

Rivai Zakaria SH, kuasa hukum kepada wartawan menjelaskan kliennya Hendre merupakan anak Tabitha (istri terlapor) telah melaporkan dugaan pemalsuan akta perkawinan ayah sambungnya ke Polda Metro Jaya tanggal 6 April 2021Nomor TBL/1832/IV/YAN 2.5/2021/SPKT PMJ,

Dalam laporannya, terlapor Hermanto The diduga memalsukan akta otentik dan atau menuruh
menempatkan keterangan palsu ke dalam akta otentik.

Terlapor menggunakan akta perkawinan palsu nomor 801/1994 dikeluarkan kantor catatan sipil Kabupaten Dati II Bekasi tertanggal 22 September 1994 dengan nama Gouw Hermanto dan Tabitha. untuk menggugat cerai istrinya dan ingin menguasai separuh harta gono gini.

Padahal cerita Rivai, menurut anak-anaknya dan kakak dari istri terlapor selama perkawinan merreka tidak ada pernikahan. “Semua keluarga dan anaknya menegaskan  tidak pernah ada acara pernikahan/perkawinan secara resmi dengan terlapor,” kata Rivai.

Namun semua keluarga kaget, mana kala Hermanto menggugat cerai istrinya (ibu pelapor) dan langsung diputus verstek (tanpa dihadiri istri atau perwakilan keluarga) oleh hakim pengadilan negeri Bekasi.

Tidak hanya itu,hakim juga langsung memutus pembagian harta gono gini. “Diduga data-data yang diajukan selama proses persidangan adalah palsu satu diantara akta perkawinan,” tutur Rivai, Kamis (8/4).

“Lantaran proses sidang tidak pernah menghadirkan saksi hakim juga salah memutus, misalnya harta gono gini yang dinyatakan dalam putusan itu bukan milik atau nama istri terlapor tapi milik anak-anak tiri terlapor seperti rumah dan mobil dibeli dari uang anak-anak bukan ibunya,” ungkap Rivai. “Ini jelas data informasinya yang masuk ke hakim salah semua.”

Rivai menjelaskan, terlapor Hermanto sebelumnya warga negara asing dengan nama The Tjung Huat. Terlapor baru mengajukan pergantian nama Indonesia sekaligus menjadi warga negara Indonesia pada tahun 1996.

Sedsngkan dalam gugatan cerainya di pengadilan negeri Bekasi, terlapor melampirkan akta otentik perkawinan nomor 801/1994 nama Gouw Hermanto dan Tabitha tahunnya terbitnya lebih dulu dari permohonan WNI.

“Kok bisa ya, tahun 1994 akta perkawinan udah nama Hermanto, padahal terlapor tahun itu namanya masih The Tjung Huat dan penetapan pengadilan negeri Kuala Tungkal baru menetapkan terlapor menjadi warga negara Indonesia 6 juli 1996,” kata Rivai.

Rivai menerangkan, dalam syarat untuk mendapatkan akta perkawinan diantaranya harus ada surat keterangan kawin gereja dan menggunakan nama sebenarnya.

Sedangkan keterangan gereja Pantekosta Tabernakel Kristus Alfa dan Omega Bekasi bahwa Eliezer Hermanto dengan Tabitha keduanya pernah diteguhkan nikah pada tanggal 26 Pebruari 1996 sesuai petikan daftar nikah No.008/PN/GBT/-KAO/II/96.

“Saya datangi kantor catatan sipil dan menanyakan sah atau tidaknya akta perkawinan mereka tidak menjawab, hanya bilang terdaftar saja,” ujar Rivai. “Kita diga ada permainan soalnya baru didaftarkan baru-baru ini, seharusnya langsung terdaftar di tahun 1994 saat kutipan akta dikeluarkan.”

Dari kejanggalan tersebut kliennya melaporkan bapak tirinya tersebut ke Polda Metro Jaya

KASASI

Masalah putusan Pengadinan Negeri Bekasi yang menyatakan harta gono gini harus dibagi sengan terlapor telah dilakukan upaya hukum kasasi di Mahkamah Agung.

Sebab kata Rivai, data yang digunakan di pengadilan negeri dugaan kuat palsu disamping harta gono gini yang tertera dalam putusan bukan milik istri terlapor, tapi milik anak-anak yang dibeli dengan uang pribadi anak-anaknya serta semua surat-surat bukti kepemilikan atas nama anak-anak, tidal ada nama ibu mereka. (Dwi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *