oleh

Dua Pengacara Pertamina Temui Kapolda Metro Terkait Dugaan Mafia Tanah

POSKOTA . CO – Dua pengacara PT Pertamina persero, Yakni Harry Ardian dan Bagus Haryo Hariarto, menemui beberapa pejabat polda seperti Kapolda Metro Jaya Irjen M Fadil Imran, Direktur Reserse Kriminal Umum Kombes Tubagus Ade Hidayat, serta Kabubdit Harda AKB Dwi Asih.

Keduanya datang ke Polda Metro untuk meminta pihak penyidik dapat mengembangkan kasus yang mereka tangani. “Kami mendesak agar polisi segera melakukan pemgembangan hingga ke dalangnya. Bahkan bila ada oknum pertamina yang ketahuan bersekongkol dan terlibat, kami persilahkan untuk ditindak,” ujar Herry di Jakarta.

Permintaanya tersebut kata Herry, adalah bagian dari komitmen pimpinan pertamina. Dirinya melihat, Polda Metro Jaya saat ini sedang giat-giatnya memberantas mafia tanah.

“PT pertamina salah satu korban dari mereka yang patut diduga komplotan mafia tanah. Akibat ulah lawan, uang Rp244 miliar milik Pertamina di Bank BRI cab Veteren Jakpus, berhasil dieksekusi PN Jakpus yang mendapat mandat dari PN Jaktim, tempat dimana Pertamina berperkara Perdata,” terangnya.

Harry menceritakan, kasus ini berawal dari lahan sekitar 16.000 m2 yang dikuasai Pertamina sejak 1973 di antara Jl Jati Rawamangun dan Jl Jati Barang Raya, Kawasan Jl Pemuda, RT12/04, Kelurahan Jatirawamangun, Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur. Di atas lahan itu kini berdiri Maritime Training Center Pertamina (MTCP), Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBBG) Pertamina, dan Perumahan Pegawai Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bapenas). “Yang digugat itu lahan SPBBG dan Perumahan Bapenas. Luas sekitar 12.000 m2,” ucapnya.

Berdasarkan versi riwayat dan dokumen yang ada, lahan itu dahulunya milik Teuku Nyak Markam. Ia adalah pengusaha kaya raya pada era Presiden Soekarno. Saking kayanya, ia menyumbang emas yang sampai saat ini masih bertengger di puncak Monas.

Namun berdasarkan SKB Waperdam Hankam tahun dan Kepres no 31 tahun 1974 tentang kekayaan PT. Karkam (perusahaan milik Teuku Markam) diambil alih Negara dan diserahkan Pemerintah kepada PP Berdikari tapi fisiknya masih dikuasai Laksus Pangkobkamtibda Jaya termasuk tanah yang terletak di jalan Pemuda. “Pada 1973 PT Pertamina mendapatkan penguasaan/pengelolan lahan di jalan pemuda tersebut dari Yayasan Jayakarta” ujarnya.

Keluarga Tjut Aminah Markam (istri Teuku Markam) lanjut Harry, pada tahun 1987 pernah berperkara melawan Pertamina sebagai Penggugat Intervensi dengan nomor perkara 113/Pdt.G/1987/PN.Jkt.Tim. Disamping itu ada juga Penggugat Intervensi lain yang bernama Amsir bin Naih. Keputusan PK perkara itu keluar pada 12 April 2005 dimana Pertamina sebagai termohon tergugat dinyatakan sebagai pihak yang kalah dan Amsir yang dimenangkan. Adapun lahan yang digugat dalam perkara itu hanya SPBG sekitar 3.150m2. (dk)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *