oleh

Reanda Dapat Pengakuan Internasional sebagai Anggota Penuh Forum of Firms

POSKOTA.CO-Reanda International berhasil menjadi anggota penuh Forum of Firms. Bukti kualitas, profesionalisme, dan komitmen Reanda dalam menjalankan praktik pemberian jasa audit, asurans, merger dan akuisisi, serta jasa konsultasi bisnis lainnya di seluruh dunia.

Reanda International (Reanda) telah dikukuhkan sebagai anggota penuh (full member) Forum of Firms sejak 1 Januari 2022. Dengan status barunya itu, Reanda resmi menjadi jaringan firma akuntansi global pertama asal Cina yang mendapatkan pengakuan dunia internasional untuk kualitas audit yang tinggi. Di Indonesia, keberadaan Reanda diwakili oleh Reanda Bernardi.

Forum of Firms merupakan satu-satunya tolok ukur kualitas audit yang diakui dunia. Saat ini, Forum of Firms memiliki 32 anggota penuh, termasuk di dalamnya Big Four.

Sebelumnya, sejak 2019, Reanda berstatus sebagai afiliasi Forum of Firms. Status keanggotaan penuh tersebut berhasil didapatkan setelah melalui reviu selama tiga tahun secara ekstensif dan menyeluruh. Reanda pun dinilai telah berhasil mengimplementasikan program quality assurance review terhadap seluruh anggotanya yang tersebar di 50 negara/teritori dengan 150 kantor lebih, 250 partner lebih, dan 4.500 staf profesional.

Presiden Direktur Reanda Bernardi, Michelle Bernardi

Ketua Umum Reanda International, Huang Jinhui, bersama dengan Presiden Direktur Reanda Bernardi, Michelle Bernardi, berkeyakinan bahwa dengan menyandang status sebagai anggota penuh, pengguna jasa Reanda akan mendapatkan tingkat keyakinan yang sangat tinggi atas kualitas jasa Reanda. “Karena Forum of Firms merupakan satu-satunya tolak ukur kualitas audit yang diakui dunia,” kata Huang Jinhui.

Hal senada juga diungkapkan oleh Michelle Bernardi, Presiden Direktur Reanda Bernardi, perwakilan Reanda di Indonesia. Dengan pengakuan internasional tersebut, kata Michelle, Reanda menjadi mitra terbaik bagi perusahaan-perusahaan lokal dan multinasional dalam melakukan transnational audit maupun aksi korporasi, seperti fundraising, merger dan akuisisi, dan lainnya.

Menurut Michelle, perusahaan-perusahaan lokal banyak yang tertarik untuk ekspansi usaha ke Cina (outbound investment), sedangkan perusahaan asal Cina tertarik untuk masuk ke pasar Indonesia (inbound investment). “Dengan menjadi anggota tetap Forum of Firms, kualitas jasa kami telah mencerminkan standar kualitas global sehingga produk jasa kami pun dapat diandalkan oleh investor di seluruh dunia,” tutur Michelle. Sebagai perwakilan di Indonesia, Reanda Bernardi menawarkan empat jenis layanan jasa dalam kategori jasa audit, perpajakan, merger dan akuisisi, serta konsultasi bisnis.

Lebih lanjut Michelle menjelaskan peran strategis Reanda dalam mengawal pembangunan Indonesia yang berkesinambungan. Dari sisi Pemerintah Indonesia, sejak tahun 2014, Presiden Joko Widodo merumuskan kebijakan Poros Maritim Dunia (Global Maritime Fulcrum) dengan visi menjadikan Indonesia sebagai negara middle power yang semakin kuat secara ekonomi, politik, dan pertahanan di wilayah Asia Pasifik melalui optimalisasi sektor maritim yang sangat potensial.

Sementara dari sisi Pemerintah Cina, sejak tahun 2016, Presiden Xi Jinping menjalankan kebijakan Belt and Road Initiative (BRI) yang bertujuan mempromosikan infrastruktur dan pengembangan konektivitas Asia, Eropa, hingga Afrika. Kebijakan Cina ini, kata Michelle, komplemen dengan kebijakan Poros Maritim Dunia, khususnya dalam mempromosikan konektivitas dalam negeri dan daerah.

“Jadi, negara kita (Indonesia) dan Cina menjadi semakin bergantung satu sama lain. Cina membutuhkan Indonesia untuk memperkuat jalur sutera maritim kawasan Asia Tenggara, sementara Indonesia membutuhkan Cina untuk pendanaan infrastruktur Poros Maritim Dunia,” tandasnya.

Michelle menyebutkan beberapa mega proyek infrastruktur di antaranya pembangunan tol laut, pembangunan jalur kereta api cepat Jakarta-Bandung, pembangunan Pelabuhan Kuala Tanjung di Sumatera Utara dan Pelabuhan Bitung di Sulawesi Utara. “Bahkan, keuntungan bagi Indonesia tidak hanya di bidang infrastruktur, tetapi juga di bidang pengolahan sumber daya alam. Ke depannya, akan ada perjanjian pembangunan smelter nikel untuk diproduksi menjadi baterai di Indonesia,” ungkapnya.

Untuk mengawal implementasi kebijakan BRI ini, Reanda menyediakan layanan bilateral, China Desk, di masing-masing negara anggota Reanda. “Melalui China Desk, kami berharap dapat mengatasi perbedaan budaya serta memberikan jasa profesional yang lebih mulus berkat dukungan langsung dari kantor global kami di Beijing dan Hong Kong,” tuturnya.

Michelle juga berharap dengan menjadi anggota tetap Forum of Firms, Reanda dapat turut berkontribusi terhadap penyusunan standar akuntansi dan auditing global serta peningkatan kualitas audit. Selain itu, mendukung program-program pemerintah dalam merespons isu-isu terkini di era new reality pascapandemi, digitalisasi, climate change, sustainability/ESG, dan topik-topik penting lainnya seiring dengan perkembangan dan perubahan yang terjadi di dunia. (*/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.