oleh

Cerita Wamen BUMN Kartika Wirjoatmodjo Tangani Kereta Cepat  yang Nyaris Mangkrak

POSKOTA.CO-Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo membeberkan pengalamannya menangani proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Tiko mengaku sempat jengkel dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero). Sebab, akses jalan dari stasiun Kereta Cepat Jakarta-Bandung tidak direncanakan.

Tiko menyebut, saat pertama kali ditugaskan menangani Kereta Cepat Jakarta Bandung pada 2019, proyek tersebut terbilang nyaris mangkrak. Menurutnya, butuh upaya yang besar mulai dari pemetaan proyek hingga negosiasi dengan pihak China untuk mendorong penyelesaian proyek ini.

Salah satu hal yang dinilai menjadi rintangan dalam penyelesaian proyek kereta cepat adalah perencanaan yang kurang baik. Tiko menuturkan akses jalan tol dan jalan besar di sejumlah stasiun seperti Karawang dan Halim saat ini belum tersedia.

“Dengan PMO yang dibikin kompleks, saya missed satu hal. November tahun lalu saya baru realize, kita lupa mikirin akses stasiun. “Ini saya sebal juga sama anak-anak KAI jadi akses stasiun belum dipikirkan. Jadi [Stasiun] Halim, Karawang enggak ada jalan akses ke tol sama ke jalan besar, baru kita dorong sekarang,” ujarnya dalam acara InJourney Talks secara daring, Selasa (1/8/2023).

Dia melanjutkan, proses pembangunan akses yang menghubungkan stasiun kereta cepat dan jalan tol dan utama hingga saat ini masih terus dibangun. Meski demikian, pembangunan akses tersebut terbilang lamban, mengingat Kereta Cepat akan diresmikan pada 18 Agustus 2023.

Wamen mengatakan, pembangunan akses jalan di Stasiun Karawang dan Stasiun Padalarang akan rampung pada akhir tahun ini. Tiko bahkan menyebut, jika Stasiun Karawang dibuka untuk operasi saat ini, stasiun tersebut tidak akan memiliki jalan di depannya.

“Ini stupid [bodoh] juga kok bisa kelewatan. Stasiun sudah jadi, keretanya ada, tetapi belum dibikin jalan di depannya,” lanjut Tiko.

Selain itu, Tiko juga harus menangani proses konstruksi terowongan pada proyek kereta cepat yang kerap ambrol. Dia menjelaskan, terowongan yang terletak di ujung Padalarang tersebut kerap ambrol setiap kali dibor.

Pada akhirnya, Tiko pun harus berdiskusi dengan pihak China untuk mencari jalan keluar yang terbaik. “Kemudian kami diskusi panjang lebar dengan China dan membuat bor baru. Jadi, dia sambil bor bisa sambil ngecor,” tambahnya.

Menurut Tiko, dalam pekerjaan proyek selalu muncul adanya titik buta atau blind spot. Maka itu, dalam sebuah tim harus saling mengingatkan. “kalau tim itu yang sehat, tim yang saling mengingatkan,” jelasnya. (*/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *