oleh

Usia Washliyah Lebih Tua dari Indonesia Merdeka

KINI usia Aljam’iyatul Washliyah [Al Washliyah] pada 30 November 2020 genap 90 tahun (1930-2020). Suatu perjalanan sejarah panjang dalam perkembangan bangsa dan Ormas Islam di Indonesia.

Usia Al Washliyah praktis lebih tua dari 75 tahun Indonesia Merdeka. Namun demikian Al Washliyah belum sepenuhnya menikmati hasil pembangunan. Malah Al Washliyah terkesan dinomorbelakangkan dari Ormas lainnya. Ironisnya lagi Al Washliyah seakan dikatagorikan sebagai organisasi berskala kedaerahan. Betulkah demikian?

Tantangan Al Washliyah untuk hari esok dan lusa, tidak lain mensejajarkan Ormas Al Washliyah dengan Ormas lainnya di pentas nasional. Daya dorong Al Washliyah harus kuat dan diperhitungkan oleh pengambil kebijakan negara ini.

Terus terang Al Washliyah dalam usia 90 tahun di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kurang memiliki posisi tawar dalam percaturan politik, pendidikan, ekonomi, sosial dan sebagainya.

Buktinya, perhatian pemerintah terhadap tokoh dan pendiri organisasi Al Washliyah masih nol, padahal sudah 90 tahun Al Washliyah membina umat di negara ini.

Al Washliyah telah melalui berbagai fase sejarah perjuangan bangsa; fase prakemerdekaan, fase Kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, Reformasi dan orde sekarang ini, tapi Washliyah masih dipandang sebelah mata dan selalu ketingggalan kereta, parahnya lagi belum pernah kebagian ‘kue’ pembangunan.

Jujur, pamor (kekuatan) Al Washliyah masih kalah dengan Front Pembela Islam (FPI), BKMT, Organisasi kepemudaan, parpol yang berusia muda dibanding Al Washliyah, apalagi dengan NU dan Muhammadiyah, sungguh jauh.

Usia 90 tahun bukanlah muda lagi. Seharusnya usia boleh uzur, tapi semangat harus muda, energik, semangat berkobar. Energi pengurus mulai tingkat bawah hingga Pengurus Besar [PB] harus kokoh, kompak, memiliki daya dobrak yang kuat. Al Washliyah bukan sembarang ormas, bukan organisasi ecek-ecek. Al Washliyah mempunyai andil besar dalam Kemerdekaan RI.

Sederet tokoh Al Washliyah; Ismail Banda, HM Arsyad Thalib Lubis, Abdurrahman Syihab dan banyak yang lain, telah menancapkan panji-panji kebenaran, mengusir penjajah dan melawan PKI di persada Indonesia ini. Program utama organisasi; pendidikan, dakwah dan sosial masih relevan dari dahulu hingga saat ini.

Dari usia 90 tahun tersebut, 34 tahun Pengurus Besar Al Washliyah ‘hijrah’ dari Medan, Sumatera Utara ke DKI Jakarta (1986-2020). Tentu banyak tantangan dan rintangan, sudah terjadi beberapa pergantian pengurus, namun eksistensi Al Washliyah masih kurang membumi secara nasional.

Menancapkan Al Washliyah di bumi Indonesia termasuk perwakilan di luar negeri boleh dikata gampang-gampang susah. Tantangan pengurus, selain menjaga marwah organisasi juga mengembalikan kepercayaan umat kepada Al Washliyah.

Al Washliyah ke depan harus mampu dan proaktif membela kepentingan warga atau anggotanya. Al Washliyah membela umat bukan golongan, atau kepentingan pribadi.

Program kerja yang diamanahkan muktamar dikerjakan dengan ikhlas. Fokus kepada tiga program utama, pendidikan, dakwah dan sosial.

Berkembang atau tidaknya organisasi yang berlambang bulan sabit ini, banyak juga ditentukan oleh skill (kemampuan) pimpinan. Karena itu pilihlah pimpinan (komandan) organisasi ini yang tepat. Kalau tidak sanggub maka berjiwa besar untuk mundur dan memberi kepercayaan kepada sosok layak dan tepat sesuai amanat umat.

Jadikan Al Washliyah ini kuat di akar tunjang dan kuat di pohon. Selamat Ulangtahun ke-90 Al Washliyah, semoga tidak ketinggalan zaman. [syamsir-dari pinggiran]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *