oleh

Saatnya Menjadi Manusia Terbaik di Bulan Ramadhan

DARI Abdurrahman bin Abu Bakrah, dari bapaknya, bahwa seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang terbaik?”

Beliau menjawab, “Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya”. Dia bertanya lagi, “Lalu siapakah orang yang terburuk?”

Beliau menjawab, “Orang yang berumur panjang dan buruk amalnya.” (Riwayat Ahmad dan at-Tirmidzi).

Hidup di dunia ada batasannya. Tak ada manusia yang sanggup menghindar dari jemputan malaikat maut. Namrudz , Fir’aun, dan sederetan manusia yang merasa kuat pun tak berdaya melawan kematian.

Itulah hakikat manusia. Secara fisik tampak begitu gagah dan sangat sempurna, tapi di waktu yang sama juga diselimuti banyak kelemahan.

Kelemahan itulah yang mestinya selalu disadari, sehingga rasa butuh kepada Allah SWT selalu menggelora.

Sayangnya sebagian manusia lupa jika ia makhluk yang lemah. Ia merasa sempurna dan akhirnya menjadi angkuh dan sombong. Bukan saja sombong kepada sesama, tapi juga sombong kepada Allah SWT.

Sifat sombong inilah yang akan menggerus keberkahan umur. Tak ada dorongan untuk mendekati Allah SWT melalui amal shalih.

Perasaan merasa cukup membuat lalai dan tidak tertarik untuk mengenali Rabb. Akibatnya, peraturan Allah dilanggar, bahkan ada yang merendahkan dan mengabaikannya.

Dalam konteks ini, bahwa Bulan Ramadhan hakikatnya “memaksa” kita untuk men-setting waktu agar selalu termanfaatkan dalam kebaikan dan perenungan kita.

Dan meningkatkan kesadaran kita sebagai hamba-Nya, untuk dapat lebih jauh lagi mengenal siapakah Allah SWT itu yang Sang Pencipta, demikian juga dengan syari’at dan ajaran-Nya.

Oleh sebab itu, kita perlu menyiapkan diri, agar kita di bulan Ramadhan menjadi manusia yang terbaik dengan melakukan amalan-amalan yang terbaik dalam bulan suci yang begitu melimpah ruah ganjarannya dapat kita raih.

Dan selepasnya, kita bisa merasakan pengaruh positif dari kebaikan yang telah kita biasakan di bulan mulia tersebut, untuk kita aflikasikan dalam kehidupan pada bulan-bulan berikutnya. Semoga.

Wallahu a’lam bish shawab.

Aswan Nasution

*Penulis adalah aktivis Al Jam’iyaul Washliyah Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
*Alumni pelajar Al Qismus’aly 79′ Al Washliyah, Jalan Isma’iliyah Medan, Sumatera Utara.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *