oleh

Perubahan Untuk Mencapai Kehidupan Berkemajuan

SUDAH menjadi fakta sejarah bahwa contoh ideal dari masyarakat madani (berperadaban) yang sering dianggap sebagai terjemahan dari masyarakat sipil (civil society) adalah masyarakat Madinah yang telah dibangun oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

Masyarakat yang sangat sarat dengan nilai-nilai kejujuran, keadilan, persamaan, persaudaraan, toleransi, penghargaan terhadap hak asasi manusia, penghargaan terhadap penegakan hukum.

Demikian juga penghargaan terhadap etos kerja, penghargaan terhadap ilmu pengetahuan dan budaya, keberpihakan kepada golongan lemah, dan di atas itu semua, keberpihakan kepada nilai-nilai yang bersumberkan wahyu Ilahi.

Rasulullah SAW berhasil membangun masyarakat madani tersebut karena beliau dan para sahabatnya telah melakukan terlebih dahulu reformasi dan tranformasi ke dalam diri sendiri.

Yaitu menegakkan nilai-nilai tauhid, ibadah, dan akhlak dalam kehidupan kesehariannya.

Reformasi yang dilakukan masing-masing sebagai hamba Allah SWT yang memiliki kewajiban melakukan pengabdian kepada-Nya dalam seluruh aspek kehidupannya.

Tidak ada pemisahan antara ibadah mahdah (khusus) dengan kegiatan mua’malah. Semuanya dibingkai oleh nilai-nilai Ilahiyah dan transedental.

Kesadaran ini kemudian melahirkan tanggung jawab sosial yang tinggi, untuk selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi masyarakatnya.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”

Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Thabrani dan Ibnu Umar).

Karena itu agenda reformasi dan untuk mencapai perubahan yang merupakan keinginan kita bersama, tidak mungkin dapat diwujudkan, tanpa ada kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas dan kerja ikhlas terlebih dahulu dari diri kita masing-masing.

Baik dari para pemimpin, maupun para pemimpin organisasi masyarakat (ormas), elite politik, pejabat, para tokoh serta masyarakat secara keseluruhan.

Sudah saatnya kita semua untuk mereformasi diri agar memiliki kesadaran transedental dan sosial yang sangat tinggi, juga menjadi agen-agen perubahan dalam mencapai kehidupan yang berkemajuan.

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum kepada keadaan yang lebih baik dari sebelumnya, jikalau mereka tidak mau berusaha mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

Melaluli firman-Nya, Allah SWT mengingatkan kepada kita semua pihak, sebagaimana termaktub dalam surat Ar-Ra’d ayat 11;

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).

Wallahu a’lam bish shawab.
Semoga bermanfaat…
Wassalam.

Aswan Nasution

*Penulis adalah Alumni 79′ Al-Qismul ‘Aly Al Washliyah, Isma’iliyah, Medan, Sumatera Utara.
*Berdomisili di Pulau Lombok, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *