oleh

Kebajikan dan Ucapan Terima Kasih

ALLAH Swt. berfirman di dalam surah an-Nahl ayat 90, : “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berbuat adil dan berbuat kebajikan, …” Juga dalam surat Àli-‘Imrân ayat 104, : “Orang yang suka berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.”

Ketika kita melakukan suatu kebajikan, tanamkan pada diri kita bahwa manusia itu bagai barang tambang seperti emas dan perak. Jika kita melakukan kebajikan dan orang tidak menyampaikan terimakasih kepada kita, jangan risau, gundah bahkan marah. Ciptakan di dalam diri kita jiwa positif di dalam mengerjakan kebajikan, walaupun tidak ada orang yang menyampaikan terimakasih kepada kita. Bahkan tidak mustahil kita melakukan kebajikan kepada orang lain, namun, alih-alih mengucapkan terimakasih, mereka malah menyakitimu. Mereka menuduh dan menempatkan kita sebagai orang yang patut dicurigai.

Dalam hal ini Allah Subhanahu Wata’ala telah berfirman, “… amal kebajikan yang terus menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al-Kahf, 18:46).

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Sesungguhnya ahli kebajikan di dunia akan menjadi ahli kebajikan pula kelak di akhirat. Dan sesungguhnya orang-orang yang paling awal masuk surga adalah ahli kebajikan.” (HR. Thabrani).

Hadits ini menerangkan tentang keutamaan beramal sedekah dan sekaligus sebagai anjuran untuk mengerjakannya. Pengertian sedekah ini luas, tidak hanya menyangkut materi tetapi menyangkut pula hal-hal yang nonmateri, semuanya termasuk ke dalam pengertian kebajikan.

Rasulullah Saw. bersabda, “Kebaikan itu banyak tetapi pelakunya sedikit.” (HR. Al-Khathib melalui Ibnu Umar r.a.). Amal kebaikan itu banyak ragam dan jenisnya, tetapi orang-orang yang mengerjakannya sedikit karena amal baik itu berat dirasakan oleh jiwa manusia kecuali hanya oleh orang-orang yang mendapat taufik dan hidayah dari Allah Swt.

Nabi Muhammad Saw telah bersabda, “Amal yang paling utama setelah beriman kepada Allah adalah cinta kasih terhadap sesama manusia.” (HR. Imam Thabrani). Hadits ini menerangkan tentang keutamaan kasih sayang kepada orang lain, dan termasuk amal baik yang paling utama sesudah iman kepada Allah.

Dalam hadits yang lain Beliau Saw. bersabda, “Pokok kebijaksanaan setelah iman kepada Allah adalah cinta kepada sesama manusia dan berbuat baik kepada orang yang takwa maupun orang yang durhaka. Sesungguhnya orang yang ahli dalam hal kebajikan sewaktu di dunia, mereka pun adalah ahli kebajikan kelak di akhirat. Dan sesungguhnya ahli kemungkaran di dunia mereka pun menjadi ahli kemungkaran pula kelak di akhirat.” (HR. Baihaqi).

Berbuat baik jangan pandang bulu kepada siapa saja boleh. Karena jika berbuat baik kepada orang yang bertaqwa, maka hal itu akan memacu dia untuk lebih bertaqwa. Jika berbuat baik kepada orang yang durhaka, mudah-mudahan akan terketuk hatinya dan mau kembali ke jalan yang benar. Ahli kebaikan di dunia kelak di akhirat pun akan menjadi ahli kebaikan pula.

Dalam hadits senada juga disebutkan bahwa berbuat kebajikan merupakan hal yang diperintahkan tanpa memandang kepada siapa pun kita berbuat baik. Seperti dalam Sabda-nya, “Berbuatlah kebajikan kepada orang yang layak menerimanya dan juga kepada orang yang tidak layak menerimanya; apabila kebajikanmu tepat mengenai orang yang layak menerimanya berarti engkau telah memberikannya kepada ahlinya, dan apabila kamu tidak mengenai orang yang layak menerimanya berarti kamu sendirilah yang menjadi ahlinya.” (HR. al-Khatib melalui Ibnu Umar r.a.)

Sejarah membuktikan, ketika Nabi ‘Isa al-Masih as. pernah mengobati sepuluh orang yang sakit pada waktu yang sama. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang mengucapkan terimakasih. Walaupun demikian, hal itu tidak menghalangi beliau untuk terus berbuat kebajikan kepada manusia. Oleh karena itu, janganlah sampai orang yang tidak berterima kasih kepada kita menghalangi kita berbuat kebajikan.

Allah Subhanahu Wata’ala telah berfirman, “Sungguh, mereka yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Kami benar-benar tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang mengerjakan perbuatan yang baik itu.” (QS. Al-Kahf, 18:30). “Adapun orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, maka dia mendapat (pahala) yang terbaik sebagai balasan.” (QS. Al-Kahf, 18:88). “Sungguh, orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, untuk mereka disediakan surga Firdaus sebagai tempat tinggal.” (QS. Al-Kahf, 18:107).

Karena, terkadang orang sama sekali tidak merasakan kebajikan kita malah berterima kasih kepada kita. Dan, terkadang orang yang menyampaikan terima kasih kepada orang yang berterima kasih mendapat lebih banyak dari apa yang dihilangkan oleh orang yang mengingkari terimakasih.

Sesungguhnya Allah Swt. mencintai orang yang berbuat kebajikan. Dari sisi lain, tidaklah terpuji jika kita mengingkari dan tidak mengucapkan terima kasih atas kebajikan yang dilakukan orang kepada kita, baik yang secara langsung berhubungan dengan kita maupun tidak langsung.

Rasulullah Saw. telah bersabda, : “Yang paling pandai bersyukur kepada Allah adalah orang yang paling pandai bersyukur (ucapan terimakasih) kepada manusia. (HR. Athabrani).

Dalam hadits yang lain Nabi Saw. telah bersabda, “Tidak dikatakan orang yang bersyukur kepada Allah seseorang yang tidak berterima kasih kepada orang lain.” (HR. Ahmad).

Menyampaikan terimakasih kepada orang lain tidak membebani kita sedikit pun. Bahkan, dengan itu kita telah mendorong diri kita semuanya untuk lebih meningkatkan perbuatannya, dan membuat mereka lebih percaya diri, terutama apabila ucapan terimakasih itu pada tempatnya. Mengucapkan rasa terima kasih kepada orang yang telah berbuat baik merupakan bagian dari rasa syukur kepada Allah Swt.

Dalam hadits yang lain beliau SAW. bersabda, “Menyebut-nyebut nikmat Allah adalah bersyukur, meninggalkannya berarti ingkar. Barang siapa yang tidak mensyukuri nikmat yang sedikit berarti dia tidak mensyukuri nikmat yang banyak; dan barang siapa yang tidak bersyukur terhadap orang lain berarti dia tidak bersyukur kepada Allah. Bersatu adalah rahmat, bercerai berai adalah azab.” (HR. Baihaqi).

Dalam bagian ketiga dalam hadits ini dijelaskan bahwa barang siapa yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada orang lain, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah Swt., sebab sesungguhnya orang lain berbuat baik kepada nya hanyalah karena digerakkan oleh Allah Swt., untuk menolongnya. Kalau ia berterima kasih kepada orang yang berbuat baik kepadanya, berarti ia bersyukur kepada Allah.

Dalam hal ini Rasulullah Saw. telah bersabda, “Siapa pun yang datang kepada kalian dengan membawa perkara yang bajik, maka berilah ia imbalan, apabila kalian tidak menemukan atau tidak punya (apa yang akan kalian berikan kepadanya) maka berdoalah untuk kebaikannya.” (HR. Thabrani melalui al-Hakim ibnu Umair).

Membalas kebaikan orang yang telah berbuat baik kepada kita merupakan hal yang dianjurkan, yaitu dengan kebaikan yang serupa; dan jika kita tidak mampu membalas kebaikannya dengan yang serupa karena tidak punya, maka mendoakan kebaikan untuknya. Dalam hadits di atas telah disebutkan, bahwa barang siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah.
Wallahu A’lam bish-Shawabi.

Drs.H.Karsidi Diningrat M.Ag

* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.
* Anggota PB Al Washliyah Jakarta.
* Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *