oleh

Bersyukur atas Nikmat Allah

KETAKWAAN merupakan pintu masuk kepada sikap syukur. Dengan demikian, sikap terakhir ini lebih tinggi derajatnya dibandingkan ketakwaan sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Swt., “Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” (QS. Ali Imran: 123)

Posisi tinggi yang diperolehnya ini disebabkan kesyukuran merupakan upaya untuk mencurahkan segenap tenaga kepada hal-hal yang dicintai Allah Swt.. Itulah sebabnya, ketika para sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang apa sebabnya beliau masih begitu giat beribadah. Beliau lalu menjawab, “Kenapa aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur.”

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman dalam surat Ibrahim, 14: 7, : “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu,, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”

Dalam surat Al-Baqarah, 2: 152, : “Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” “Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.” (Q, 2: 172).

Rasulullah Saw. bersabda, : “Dua hal apabila dimiliki seorang dia dicatat oleh Allah sebagai orang yang bersyukur dan sabar. Dalam urusan agama (ilmu dan ibadah) dia melihat kepada yang lebih tinggi lalu meniru dan mencontohnya. Dalam urusan dunia dia melihat kepada yang lebih bawah, lalu bersyukur kepada Allah bahwa dia masih diberi kelebihan.” (HR. Attirmidzi).

Bersyukur merupakan derajat yang mulia dan pangkat yang tinggi. Allah Subhana wa Ta”ala berfirman, “Dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (an-Nahl, 16: 114)

Bersyukur adalah kunci bertambahnya rezeki dan keberkahan yang Allah Swt turunkan kepada kita sekalian sebagai umat-Nya. Sebaliknya, kufur terhadap nikmat menghancurkan rezeki. Padahal Allah telah memperingatkan, “Makanlah olehmu dari rezeki yang dianugerahkan Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya.” (Saba’, 34: 15).

Bersyukurlah kepada Tuhanmu atas setiap nikmat dan keadaan, baik ketika suka maupun duka, lapang maupun sempit. Janganlah kita menjadi seperti orang-orang yang menyembah Allah Swt. di lidah saja. Ketika mendapat nikmat dan kebaikan, kita merasa tenang, ketika ditimpa musibah, kita berpaling. Sungguh manusia itulah orang-orang yang merugi di dunia maupun di akhirat. Dan yang demikian itulah adalah kerugian yang nyata.

Dalam hal ini Rasulullah Saw bersabda, : “Aku mengagumi seorang mukmin. Bila memperoleh kebaikan dia memuji Allah dan bersyukur. Bila ditimpa musibah dia memuji Allah dan bersabar. Seorang mukmin diberi pahala dalam segala hal walaupun dalam sesuap makanan yang diangkatnya ke mulut istrinya.” (HR. Ahmad & Abu Dawud).

Dalam hadits yang lain Nabi Saw. bersabda, : “Barangsiapa memperoleh suatu yang makruf maka hendaklah menyebutnya karena berarti dia mensyukurinya, dan kalau merahasiakannya (berarti) dia mengkufuri nikmat itu.” (HR. Atthabrani).

Ketahuilah bahwa bersyukur kepada Allah akan melahirkan sifat qana’ah (merasa cukup), sedangkan kufur nikmat melahirkan sifat tamak dan rakus. Bersyukur mendatangkan ketenangan bagi jiwa, sedangkan sifat tamak mendatangkan kecemasan, kegelisahan, dan keluh-kesah.

Jika kita merasa bahwa Allah Swt. tetap memberikan kenikmatan-Nya kepada kita padahal kita bermaksiat kepada-Nya, maka hati-hatilah. Dan kehati-hatian itulah haruslah diwujudkan dengan mentaati dan bersyukur kepada-Nya.

Salah seorang sahabat berkata, “Jika sampai kepada kita berbagai kenikmatan maka janganlah kita lari, walaupun dengan sedikit bersyukur.” Oleh karena itu harus dicamkan oleh kita, bahwa maksud bersyukur ialah adanya pengertian dan kesadaran bahwa semua nikmat yang ada pada diri kita, baik lahir maupun batin, adalah dari Allah Swt, sebagai karunia dan pemberian daripada-Nya.

Tanda bersyukur adalah, adanya perasaan gembira terhadap keberadaan nikmat pada diri yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan amal ibadah dan pendekatan diri kepada-Nya. Tanda bersyukur lainnya ialah, memperbanyak ucapan syukur dan terimakasih kepada Allah Swt. dan memuji-Nya dengan lisannya.

Sabda Rasulullah Saw, “Sekiranya salah seorang dari umatku diberi dunia dan isinya, kemudian ia mengucapkan al-Hamdu lil Lah , niscaya ucapan al-Hamdu lil-Lah itu lebih utama dari dunia dan isinya.” “Yang paling pandai bersyukur kepada Allah adalah orang yang paling pandai bersyukur kepada manusia.” (HR. Athabrani). “Iman terbagi dua, separo dalam sabar dan separo dalam syukur.” (HR. Al Baihaqi).

Tanda bersyukur yang lain ialah, mengerjakan ketaatan kepada Allah Swt. seraya memohon pertolongan kepada-Nya dalam menjalankan ketaatan itu dengan nikmat-nikmat-Nya. Hendaknya kita menggunakan segala kenikmatan itu pada tempat-tempat yang diridhai Allah, dan itulah puncak segala perwujudan rasa syukur.

Jangan takabur atas nikmat-nikmat yang dimilikinya, jangan menonjolkan diri di hadapan orang banyak, jangan menganiaya, jangan melampaui batas, dan jangan memusuhi orang lain. Barangsiapa melakukan salah satu perkara dari perkara-perkara yang disebutkan di atas, maka jelaslah bahwa kita telah mengkufuri nikmat Allah dan tidak mensyukurinya.

Sedangkan mengkufuri nikmat akan menghapus kenikmatan itu dan menukarnya menjadi kehampaan, kekosongan.

Sebagaimana peringatan Rasulullah Saw bagi orang yang tidak mensyukuri nikmat Allah Swt, : “Kelak akan menimpa umatku penyakit umat-umat terdahulu yaitu penyakit sombong, kufur nikmat dan lupa daratan dalam memperoleh kenikmatan. Mereka berlomba mengumpulkan harta dan bermegah-megahan dengan harta. Mereka terjerumus dalam jurang kesenangan dunia, saling bermusuhan dan saling iri, dengki, dan dendam sehingga mereka melakukan kezaliman (melampaui batas). (HR. Al Hakim).

Tanda bersyukur lainnya lagi ialah, memandang besar sesuatu nikmat, sekalipun nikmat itu kecil saja, memandang keagungan penganugerahkan nya, yakni Allah Swt.

Dalam pada itu, sesungguhnya Allah Swt. telah menganugerahkan berbagai nikmat kepada kita sekalian, yang semua itu tidak bisa dihitung karena saking banyaknya, baik yang besar maupun yang kecil. Setiap diri kita tidak akan mampu menghitùng nikmat-nikmat yang diterimanya setiap hari, apalagi untuk bersyukur kepada Allah atas setiap nikmat itu. Semoga kita sekalian pandai-pandai mensyukuri nikmat Allah Swt. yang diberikan kepada kita. Wallahu A’lam bish Shawab.

Karsidi Diningkat
* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung
* Anggota PB Al Washliyah di Jakarta.
* Penulis tetap poskota.co

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *