oleh

Aburizal Bakrie: Lawan Covid-19 dengan Berolahraga

POSKOTA. CO – Hampir setahun pandemi covid-19 melanda Indonesia dan berbagai negara di dunia. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meminimalisasi jatuhnya korban termasuk mendisiplinkan masyarakat dalam beraktifitas melalui protokol kesehatan ketat.

Tokoh olahraga nasional Ir.Aburizal Bakrie menyebutkan salah satu upaya paling efektif untuk mencegah dan menghambat penularan covid-19 ini adalah dengan berolahraga. Oleh karenanya Ical, begitu panggilan akrab big bos Bakrie Grup ini, mengajak seluruh elemen masyarakat melawan covid-19 dengan berolahraga.

”Saya ini tiada hari tanpa olahraga. Hari Senin-Selasa saya berenang, Rabu hingga Sabtu bermain tenis, dan hari Minggu saya joging. Alhamdulillah di usia saya yang sudah tergolong lansia ini masih sehat bugar. Ingat dengan kondisi sehat bugar seseorang bisa mengambil keputusan secara cepat dan tepat,”kata Ical saat menerima kedatangan Ketua Seksi Wartawan Olahraga (Siwo) PWI Pusat, Gungde Ariwangsa, di Gedung Bakrie Tower Rasuna Said Kuningan, Jakarta, Selasa, (1/12/2020).

Kedatangan Gungde Ariwangsa dalam rangka menyampaikan rencana Siwo PWI Pusat akan memberikan penghargaan kepada Aburizal Bakrie sebagai tokoh yang pengabdiannya terhadap dunia olahraga nasional sangat besar dan tak perlu diragukan lagi.

Aburizal Bakrie akan menerima penghargaan lifetime achievement dalam acara Golden Award Malam Anugerah Olahraga Siwo PWI Pusat 2020 yang digelar 16 Desember di Hotel Fairmont, Jakarta.

Siwo PWI Pusat menilai sosok Aburizal Bakrie tak bisa dilepaskan dari denyut nadi pembinaan olahraga nasional dalam kurun waktu hampir 40 tahun lamanya. Ical selain dikenal sebagai pencinta olahraga juga pelaku dan pembina beberapa cabang olahraga. Mulai dari bulutangkis, tenis, renang, bola voli, basket, sepakbola dan berkuda pernah dalam binaannya.

Melalui perkumpulan Pelita Jaya, cabor-cabor ini dibina sampai melahirkan atlet-atlet besar. Di bulutangkis misalnya siapa yang tak kenal Icuk Sugiarto, juara dunia 1983, Rosiana Tendean, Lili Tampi, Indra Wijaya dan Chandra Wijaya, peraih medali emas ganda putra bersama Tony Gunawan di Olimpiade Sydney 2000, juara dunia 1997 bersama Sigit Budiarto.

Ical juga yang mendorong melejitnya prestasi petenis putri Yayuk Basuki hingga menembus 19 besar dunia. Waktu itu Ical menantang Yayuk dengan iming-iming hadiah mobil sport jika berhasil masuk 50 besar dunia. Dan itu sukses diraih Yayuk Basuki.

Menyadari untuk bisa mewujudkan prestasi itu hanya dengan banyak ikut turnamen berkelas di luar negeri, Ical pun tak segan-segan merogoh koceknya dalam-dalam untuk membiayai tour Yayuk Basuki.

Tantangan yang sama juga dilakukan Ical terhadap Icuk Sugiarto dengan iming-iming hadiah mobil sport jika mampu menembus kebuntuan untuk bisa mengalahkan musuh bebuyutan Yang Yang dari China. Untuk pertama kalinya dari 10 kali pertemuannya dengan Yang Yang, Icuk berhasil menang di turnamen Hongkong Terbuka 1988.

Ketokohan Ical juga sangat menonjol saat menjadi pengurus inti PB.PBSI pada era Ketua Umum Try Sutrisno. Ical pada periode kedua kepengurusan Try Sutrisno (1989-1993) duduk sebagai Wakil Ketua Umum 1.

Program Garuda Emas (PGE) yang dicanangkan Pengurus Besar Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PB PBSI) menuju Olimpiade Barcelona 1992 yang berujung dua medali emas melalui Susy Susanti dan Alan Budikusuma juga tak lepas dari peran Ical.

Ical yang mendorong berdirinya Padepokan Bulutangkis Indonesia di Cipayung dan Yayasan Bulutangkis Indonesia. Yayasan Bulutangkis Indonesia meninggalkan warisan dana sekitar Rp 300 miliyar.

KEPENTINGAN ATLET ITU UTAMA

Ical pun mengaku miris melihat kondisi olahraga Indonesia belakangan ini prestasinya makin menurun. Intinya, kata dia, dalam mengurus dan membina olahraga itu kepentingan atlet di atas segala-galanya.

”Untuk bisa mendapatkan atlet punya daya siang tinggi di level dunia, tentu asupan gizinya harus 4.000 kalori per hari. Nah menjadi tugas pengurus mencari dana untuk memenuhi kebutuhan kalori yang dibutuhkan atlet tersebut,” katanya.

Kalau pengurus olahraga masih mencari atau numpang hidup dengan memanfaatkan organisasi sebagai ladang kehidupan, menurut Ical, dipastikan atlet jadi korban dan prestasi pun sudah barang tentu tidak akan muncul.

Semangat untuk membangun olahraga Indonesia juga menular kepada anak-anaknya Ical. Kedua putranya, Anindya Novyan Bakrie dan Ardiansyah Bakrie kini sama-sama menjadi pembina cabang olahraga. Anindya menjadi Ketua Umum PB.PRSI, sementara Ardi Bakrie menjadi Ketua Umum Komite Olahraga Beladiri Indonesia (KOBI) yang terus gencar melakukan pembinaan terhadap atlet-atlet Indonesia. (dk)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *