oleh

Wakil 3 Agama di LSF Tolak Film ‘Noah’ Tayang di Indonesia

salah satu adegan film
salah satu adegan film

POSKOTA.CO – “PERWAKILAN agama di LSF semuanya menolak film Noah,” kata Mukhlis PaEni, Ketua Lembaga Sensor Film (LSF) kepada poskota.co, Senin (24/3/2014).

Film Noah yang sempat dilarang di beberapa negara di Timur Tengah, dalam beberapa minggu terdisplay di website milik jaringan bioskop Cinema 21.

Pihak pengelola bioskop Cinema 21 mengatakan, “Pemilik film Noah, Paramount Pictures menjadwalkan tayang di Indonesia 28 Maret 2014, jadi meski dalam proses sensor, film itu sudah didisplay di website kami,” kata Catherine Keng, Corporate Secretary Cinema 21.

Atas keputusan LSF tersebut, pemilik bioskop mengikuti aturan. “Kita mengikuti aturan saja. Kalau LSF bilang tidak lolos sensor, ya kita ikut,” kata Catherine, yang menerima surat pemberitahuan dari LSF, Senin hari ini.

Sementara Mukhlis PaEni mengatakan LSF telah membuat surat keputusan tentang penolakan terhadap film Noah.

“Seingat saya, surat keputusan itu saya tandatangani Jumat 21 Maret,” kata Mukhlis.

Secara teknis, proses pengesahan penolakan film Noah dilakukan setelah tim LSF menonton film itu, dan merekomendasikan ‘menolak’. Rekomendasi itu disampaikan ke ketua LSF untuk ditandatangani.

“Sebetulnya bukan hanya beberapa negara di Timur Tengah yang menolak Noah. Malaysia juga menolak,” katanya.

Film hantu dan pocong lolos sensor

Di dalam LSF menurut Mukhlis terdapat perwakilan agama. “Dari unsur agama Islam seperti dari NU dan Muhammadiyah, kemudian ada dari Nasrani ada Kristen Katolik. Mereka ada dalam satu tim yang ikut menyensor film Noah,” ujarnya.

Khusus film ‘Noah’ tim LSF menonton beberapa kali sebelum memberikan rekomendasi penolakan.

“Alasan penolakan itu, cerita dalam film Noah bertentangan dengan cerita dari kitab-kitab termasuk Nasrani. Ini sangat peka jika dibuat dari sisi yang berbeda dari pengetahuan umum,” ungkap Mukhlis.

Ketika ditanya soal lolosnya film-film bertema hantu, yang menghadirkan pocong, Mukhlis PaEni mengatakan ada beberapa alasan.

“Film hantu kan sudah bekurang. Kita sudah berusaha mendekati pembuatnya, untuk mecari judul lainnya. Kalau mau keras, industri kita bisa kolaps dan diisi film impor,” ujar Mukhlis. (tis)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *