oleh

SINGGAH DI SANGGAR GENJAH ARUM SAMBIL NGOPI (bag 2)

D kopi kemirenPOSKOTA.CO – Genjah Arum sendiri terdiri dari bangunan rumah khas Banyuwangi. Banyak macam rumah Using disitu, umumnya terbuat dari kayu bendo. Itulah agaknya yang membuat rumah ini kuat meski sudah usia sudah ratusan tahun.

Rumah khas Banyuwangi pada dasarnya ada empat macam:
o. Crocogan,
o. Tikel/baresan,
o. Tikel balung,
o. Serangan,

Sementara bangunan rumah Banyuwangi didalamnya dibagi dalam tiga ruang, yakni:
o. Mbyale (serambi) yang biasa digunakan untuk menjamu tamu dan ngobrol santai dengan tetangga dekat.

o. Jerumah (ruang tengah dan kamar) adalah bagian rumah yang biasa digunakan sebagai tempat istirahat dan bercengkrama bersama keluarga.
o. Pawon (dapur) digunakan untuk memasak.

Rumah-rumah asli Banyuwangi di Genjah Arum menggunakan genteng kuno asli, dengan gedek atau anyaman bambu dindingnya, begitu juga isinya didalam. Mulai barong Banyuwangi sampai penggiling padi dan gentong kuno sebagai tempat air.

Bahkan sepeda jadul juga ada, sementara di dinding banyak cermin berpigura kayu yang sekaligus berfungsi sebagai gantungan baju. Dan karena Iwan pengusaha kopi, di Sanggar Genjah Arum itu ada semacam mini-bar.

Di meja mini mar terdapat alat-alat untuk memproses biji kopi menjadi secangkir kopi, juga beberapa penggiling kopi. Di belakang meja bar terdapat mebel-mebel tua dari kayu yang didalamnya ada aneka cangkir dan alat untuk menyajikan kopi.

Disampingnya ada benda-benda antik lainnya, misalnya telpon jadul, mesin tik tua, biola tua khas Banyuwangi, bahkan buku-buku kopi internasional. Mini bar itu sendiri benar-benar enak untuk nongkrong. Di depan mini bar itu ada warung khas Banyuwangi.

“Saya mengumpukan yang ada di Genjah Arum sejak puluhan tahun lalu. Umumnya dari desa Kemiren sendiri. Masa orang asing berminat, kita tidak? Kekayaan ini harus kita yang menyelamatkan dan menjaganya,” jelas Iwan.

Tahun lalu Genjah Arum kedatangan finalis gadis kopi dari sejumlah negara yang mengikuti ajang pemilihan Miss Coffee International di Bali. Tak hanya itu, setiap minggu ada saja bule yang mampir ke sanggar ini.

“Biar mereka menyampaikan kepada dunia, kalau ada kekayaan kopi lezat di Banyuwangi. Kopi Kemiren memiliki standar internasional yang tidak kalah bersaing dengan kopi lain di dunia,” kata Iwan.

Bahkan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu, saat bersama rombongan ke Banyuwangi dan menikmati kopi Kemirren, memuji kelezatan kopi Banyuwangi.

Seorang pemuda penggemar kopi dari Jakarta, Gusti MA mengakui kopi Kemiren enak. “Kenapa Indonesia tidak memarketingkan kopi kemiren dengan maksimal ke seluruh dunia, khas, lho, rasanya,” kata Gusti.

Iwan juga pernah menggelar acara spektakuler, yaitu minum kopi bersama 10.000 cangkir di desa Kemiren pada tahun 2013. Acara itu dihadiri Menteri BUMN Dahlan Iskan.

Dalam upacara itu warga Kemiren menghidangkan kopi dan jajanan tradisional Banyuwangi di sepanjang jalan, seperti pisang goreng, sumping, lupis, apem, lepet, kontol kambing, rangin dempet dan lainnya.dibu-ibu penabuh lesung

 

Warga menggunakan penerangan alami dari bambu yang dikenal dengan oncor. “Lain kali saya akan membuat acara spektakuler lain,” tutur Iwan, Sarjana Pertanian Universitas Satya Wacana ini.

Di Genjah Arum sendiri tak ada penginapan, kecuali kamar pribadi Iwan. Namun kalau wisatawan mau menginap, tak jauh dari Genjah Arum ada penginapan khas Banyuwangi bernama ‘Desa Wisata Osing’.

Sebuah cottage dengan suasana Banyuwangi. “Biar tamu menginap disana saja, kan tidak jauh dari sini,” jelas Iwan. Rumah pribadi Iwan sendiri bersama keluarganya cuma berjarak waktu 15 menit.

Namun Iwan lebih banyak menghabiskan di sanggar ini. “Istri dulu sering komplain karena saya lebih sering ada di sanggar, tapi sekarang sudah capek komplain, karena yang dikomplain tak pernah mendengarkan,” jelas Iwan sambil tertawa. Di sanggar ini memang tempat seniman Banyuwangi begadang sambil berdiskusi.

Genjah Arum sendiri jika ditempuh dari jantung kota Banyuwangi tak lebih dari 1 jam. Posisi Kemiren sendiri lebih tinggi dari kota Banyuwangi, karena itu hawanya sejuk dan bersih. “Saya tak berkeberatan jika slogan Pemkab Banyuwangi adalah tujuan wisata kuliner minum kopi di Indonesia. Itu bagus, Banyuwangi kota kopi, keren,” tutur Iwan. Naskah tulis DANN JULIAN

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *