oleh

RED ISLAND BAK WANITA ANGGUN DIATAS CAT WALK BERALAS AIR

DAAN1POSKOTA.CO – Belakangan kota paling ujung timur Jawa, Banyuwangi, semakin mencuri perhatian, disamping munculnya beberapa destinasi baru yang fantastis dan eksotik, di ‘Kota Using’ ini belakangan juga memperoleh penghargaan sebagai kota digital dari Telkomsel.

Penghargaan itu bermula moment Maret 2013 lalu, saat Menkominfo Tifatul Sembiring dan Dirut Telkom Arief Yahya yang meresmikan ‘Banyuwangi Digital Society’. Hasilnya, kini Banyuwangi mempunyai 1.700 titik wifi yang ada di lokasi-lokasi ruang publik, mulai dari sekolah, taman-taman, sampai puskesmas, rumah sakit dan lainnya.

Sehingga traveller yang datang ke Banyuwangi tak usah kuatir gadget mereka kehilangan nafas. Bagi para traveler yang tidak bisa lepas dari gadget, Banyuwangi adalah kota ideal. Sehingga mau browsing dari laptop atau smartphone, atau apapun ditanggung ancar.

Semua itu tak lepas dari kepemimpinan bupati Banyuwangi saat ini, Abdullah Azwar Anas. Bupati yang berasal dari kalangan santri ini menyadari betul saat ini zaman globalisasi. Dan betapa pentingnya aspek teknologi informasi dan komunikasi (TIK) bagi pengembangan wilayah yang dipimpinnya.

Dan memang dengan digitalisasi daerah akan membuat efisiensi kehidupan publik, dan dapat memajukannya warganya. Destinasi yang kini menjadi pusat perhatian di Banyuwangi adalah Red Island atau Pulau Merah.

Tidak hanya bagi wisatawan lokal, tapi juga wisatawan asing, terutama penggila olahraga surfing. Di pantai Red Island sering dijadikan ajang arena lomba surfing, Tahun 2013 lalu digelar ‘Banyuwangi International surfing Competition’. Ombak disini memang menantang untuk surfing. Jangan heran kalau disana banyak ditemui bule, baik dari Eropa, Australia, Amerika maupun dari Asia sendiri, umumnya dari Korea dan Jepang.

Red Island terletak di kecamatan Pesanggrahan, terletak di pantai selatan Banyuwangi, sekitar 70 kilometer ke arah selatan dari kota Banyuwangi. Begitu kaki menginjak di pantai ini, pasti decak kagum yang keluar dari bibir pengunjung. Pasirnya berwarna putih dan halus, dan terkesan masih perawan. Dan tidak seperti pantai terkenal pada umumnya di Indonesia yang pada umumnya kotor oleh sampah, di Red Island bersih sehingga pengunjung terasa nyaman.DAAN2

Yang menanrik lainnya, di bagian tertentu pantai ini banyak ditumbuhi rumput, membuat suasana pantai menjadi asri. Para pengunjung sambil terlena dikursi pantai yang panjang lengkap dengan payung yang disewakan dapat merasakan kenyamanan Red Island. Bagi yang pernah mengunjungi pantai –pantai favorit di Bali, termasuk pantai Kuta, Red Island tidak kalah.

Disini juga dapat dinimkati sunset yang indah. Apa yang dimaksud Red Island? Yang disebut Red Island adalah seonggok pulau mungil atau bukit kecil yang berdiri gagah dan angkuh di kepas pantai. Diberi nama Red Island karena di bukit kecil itu jika pohon – pohon yang tumbuh diatasnya dedaunannya sedang musim rontok, menimbulkan kesan warna merah. Dari sana warga setempat menyebutnya Pulau Merah atau Red Island.

Namun Red Island sendiri tak bisa dijejaki, wisatawan hanya bisa menyaksikan dari dekat di bibir pantai, seperti memandang pesona kecantikan wanita anggun diatas cat walk beralaskan hamparan air. Duh indahnya…!
Letak Red Island ini juga sangat istimewa, karena pantainya berderet atau menyambung dengan Pantai Plengkung (G-Land), Pantai Sukamade dan Kawah Ijen, sehingga sering disebut ‘Tujuan Wisata Segitiga Emas’. Red Island sendiri terletak di antara Plengkung dan Sukamade.

Baik Plengkung, Sukamade juga merupakan destinasi wisata Banyuwangi yang menarik perhatian wisatawan lokal dan internasional. Sukamade dikenal dengan pacuan trek atau jalur untuk mencapai pantai yang dapat menaikkan adrenalin.

Sementara Plengkung terkenal karena pantainya yang masih alami dan ombaknya yang tinggi, oleh karena itu banyak dikunjungi banyak turis. Juga jangan dilupakan : Baluran, yang wilayahnya sebagian masuk wilayah Situbondo dan sebagian masuk wilayah Banyuwangi.

Baluran merupakan satu-satunya pembiakan banteng di dunia. Baluran juga menyimpan keindahan savana, gunung, pantai dan bakau. Baluran juga dikenal sebagai hutan jati yang sering dijadikan tempat latihan TNI.

Masih banyak lagi tujuan wisata Banyuwangi yang indah, seperti Pantai Teluk Hijau, pantai dengan batuan karang yang tersebar di sekitar pantai. Hawanya sejuk lantaran dikepung hutan lebat yang mengelilinginya.

Banyak yang menyebut Pantai Teluk Hijau sebagai pantai pribadi, karena masih sepi dan perawan. Lalu ada Pantai Boom (pantai lawas yang tak terurus yang kini dihidupkan kembali dengan berbagai fasilitas, dan secara ajaib di pantai boom belakangan banyak muncul penyu yang berkeliaran di malam hari atau subuh), lalu ada Watu Dodol (batu raksasa tang teronggok di tengah jalan raya). Dan masih banyak lagi. Banyuwangi seperti dianugerahi Tuhan tempat tempat yang indah.

Kembali ke Red Island, untuk mencapai Red Island tidaklah sulit karena banyak petunjuk dan sangat dikenal baik oleh warga Banyuwangi. Namun ada baiknya jika ke Red Island menyewa mobil, karena untuk menuju ke Red Island tidak ada angkutan umum.

Jika menginap di hotel, ada baiknya negosiasi mobil sewaan diserahkan kepada pihak hotel, agar terjadi harga yang fair. Perlu diketahui, biaya hidup di Banyuwangi tidak mahal, jika dibanding dengan Bali, misalnya, biaya hidup di Banyuwangi lebih murah.
Jika dicari kelemahannya, harus diakui, ketika mendekati Red Island, terutama saat mulai memasuki pedesaan banyak jalan rusak dan banyak lobang. Ini tentu pekerjaan rumah bagi Pemda Banyuwangi, dan harus berpacu dengan waktu mengingat Banyuwangi sebagai kota digital informasinya sudah begitu cepat. Kalau tidak diimbangi kecepatan memperbaiki atau membangun jalan menuju Red Island akan banyak membuat wisatawan kecewa, dan ini dampaknya tak bagus bagi wisatawan.

Jika ingin menginap disekitar Red Island, bisa menyewa homestay, rumah penduduk yang disewakan di sekitarnya. Seiring dengan mulai terkenalnya Red Island, para penduduk disekitarnya mulai banyak yang membenahi rumahnya sehingga nyaman untuk menginap untuk pemasukan tambahan.

Dan disini tak seperti lokasi wisata lain, tak ada penjual yang memaksa-maksa membeli barang dagangannya. Jika membawa mobil sendiri, mobil bisa diparkir dekat dibibir pantai.

Yang sangat disayangkan dari naiknya pamor destinasi kota Banyuwangi adalah cara penanganan manajemen pegawai pariwisata Banyuwangi. Mereka nampaknya berpuas diri dengan berkibarnya wisata Banyuwangi, dan bersikap arogan terhadap media atau wartawan.

Sebagaimana yang dialami wartawan Poskota.Co. Para pegawai dinas Pariwisata itu menelantarkan Poskota.Co seharian penuh, tanpa ada informasi secuil pun. Mereka menunjukan sikap seperti tak butuh wartawan.

Padahal sehebat apapun destinasi kalau tak dipublikasi wartawan tak akan terkenal. Kalau layanan terhadap wartawan masih seperti ini sama saja mereka tak menghargai bupati mereka, Abdullah Azwar Anas, yang diakui apa tidak selama ini bekerja keras membuat Banyuwangi kota wisata idaman. Nasehat saya yang ditelantarkan, tempat wisata anugerah dari Tuhan, maka kelolalah secara professional. (dann Julian)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *