PURNAMA PRAMBANAN Bagian ke- 21

POSKOTA.CO – Bapak dan ibu sambung Diana mulai curiga dengan kebiasaannya pulang terlambat dari sekolah. Sudah hampir sebulan ini banyak sekali Diana pulang sore bahkan malam hari. Berbagai alasan Diana sampaikan kepada orangtuanya, dari mengerjakan PR bersama hingga melayat nenek temannya.

Di satu sisi Diana belum punya cukup keberanian untuk bercerita jujur tentang keadaannya kepada kekasihnya Bayu. Sehingga Bayu selalu mengajak ke rumahnya sepulang dari sekolah. Atau jalan-jalan sebentar keliling kota sambil kuliner. Kadang Bayu membantu Diana mengerjakan PR dan tugas-tugas yang lain. Tentunya sambil mencuri-curi bermesraan kala Mommy anne tidur siang atau jika sedang bepergian. Pacaran akan semakin asyik, kala rumah Bayu yang besar itu sepi.

Senyum manja Wita penulis kisah
Senyum manja Wita penulis kisah

Mereka bisa bercumbu di kamar bayu yang cukup.luas dan rapi
” Mas jangan dulu yang satu ini yaaa”

Begitu Diana meminta Bayu kala mereka sedang dalam puncak kemesraan. Diana membiarkan Bayu melepas pakaian seragamnya sewaktu mereka punya kesempatan berpacaran di kamar. Awalnya hanya kancing atas yang dibuka, tapi seiring nafas yang memburu….satu-satu pakaian Diana sudah lepas dari tubuh indahnya.

Diana mulai bisa menikmati apa itu ciuman dan sentuhan-sentuhan halus di sekujur tubuhnya. Ini yang membuatnya ketagihan dan bersedia di ajak Bayu pulang ke rumahnya. Melambung dan basah dalam angan yang nikmatnya susah di lukiskan!!

Di satu sisi Bayu hanya tahu, dia tidak boleh ke rumah Diana dan hanya boleh mengantar pulang sampai Jembatan Sayidan. Itulah kenapa ia sering membawa Diana pulang ke rumah. Bayu tidak bisa berkunjung dan pacaran di rumah Diana. Dia tak punya alasan dan tak punya pilihan tempat yang lain. Bayu tidak tahu kehidupan Diana dan keluarganya! Penampilan Diana yang selalu rapi dan cantik, tidak pernah membuatnya beranalisa tentang kemiskinan dan derita sang pujaan hati.

Diana orang sederhana, itu yang ada dalam benak Bayu. Tapi Diana yang harus bekerja keras untuk sepiring nasi?
Apes adalah kata yang paling tepat untuk Diana. Pada suatu petang, bapaknya melihat Diana dibonceng motor oleh laki-laki dan diturunkan di Jembatan Sayidan. Waktu itu bapaknya sedang naik sepeda dari arah Gondomanan.

Dari ujung jembatan…berjarak sekitar 100 meter itulah mereka berdua kepergok. Bayu tidak tahu dan belum pernah kenal Bapaknya Diana, sehingga Ia langsung memutar motornya ke arah pulang. Seperti biasa Bayu akan meremas tangan Diana sebelum pulang dan mengelus rambut Diana yang indah dengan penuh kasih….

Bapak Diana melihat semua adegan anaknya di atas sadel sepeda tuanya. Dia kayuh sepedanya dengan kencang tetapi Bayu sudah melesat pergi….dan mengebut dengan motornya! Bapaknya membentak Diana agar segera pulang.

” Diana cepat pulang…!

Diana tahu bapaknya murka….bapaknya bukan sekedar marah seperti biasanya. Hukuman apa yang akan dia terima? Ia yakin…pasti bukan hanya bentakan dan dorongan hingga tubuhnya terjengkang.

Takut sekali Diana….tetapi ia tak bisa mengelak dan berbohong lagi.

Sesampai Diana di rumah, bapaknya sudah menunggu di depan pintu. Wajahnya garang dan seperti hendak melumat apa saja yang bisa dilumat. Kali ini bapaknya tidak bertanya Diana dari mana, tetapi tangan ayahnya menghajar Diana dengan seluruh tenaganya. Bapak Diana kehilangan kendali dan seperti kerasukan setan. Dia lupa yang dihajarnya adalah anak perempuannya.

Teriakan dan minta ampun Diana membuat tetangga-tetangga geger dan berdatangan di rumah Diana…Ada sekitar 20 orang yg datang, ada yang berinisiatif memanggil pak RT dan sebagian lain memegangi Bapak Diana yang kalap sambil memintanya tenang dan sadar. Beberapa ibu-ibu memegangi Diana yang pingsan….berdarah di mulut serta bengkak di wajahnya. Mbok Wongso menangis melihat Diana….(Bersambung. wita lexia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *