oleh

PENGAMAT: Prabowo Emosional,Jokowi Lebih Kalem

Jokowi segar bugar
Jokowi segar bugar

POSKOTA.CO – Pengamat dari Fakultas Hukum Universitas Lampung Dr Wahyu Sasongko menilai debat pasangan calon presiden-wakil presiden menunjukkan Prabowo Subianto yang berpasangan dengan Hatta Rajasa cenderung normatif, kurang konkret, dan emosional.

“Sedangkan, pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla, terkesan kalem, dan percaya diri,” ujar Wahyu, menanggapi pelaksanaan debat capres-cawapres perdana yang bertema “Pembangunan Demokrasi, Pemerintahan yang Bersih dan Kepastian Hukum” di Balai Sarbini Jakarta, Senin malam.

Menurut Wahyu, jawaban capres Prabowo cenderung normatif, kurang konkret, dan emosional.

“Hal ini karena capres nomor 1 ini bersifat deduktif, mungkin karena posisi Prabowo-Hatta sebagai ‘top management’ sehingga terbiasa mengambil kebijakan yang lebih abstrak,” ujar Wahyu yang juga anggota Tim Seleksi Komisioner Komisi Pemilihan Umum Provinsi Lampung.

Bahkan, ujarnya, Prabowo emosional ketika membahas soal hak asasi manusia (HAM), dan jawabannya terkesan berkelit dengan meminta JK menanyakannya langsung saja kepada atasannya pada waktu ia menjadi tentara.

Menurut Wahyu, capres nomor urut 2 Jokowi lebih realistis dengan pendekatan induktif.

“Pasangan Jokowi-JK ini terkesan ‘cool’, ‘calm’, dan ‘confident’,” katanya.

Begitupula dengan demokrasi yang dikemukakan Prabowo, menurut Wahyu, sebagai alat dan sistem tata nilai yang bersifat normatif.

“Berbeda dengan Jokowi yang realistis, dimulai dengan konsep demokrasi untuk menangkap aspirasi rakyat dan merealisasikannya,” ujar dia lagi.

Sedangkan untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih, kata Wahyu pula, menurut Prabowo juga normatif dengan menyebut antikorupsi.

“Sedangkan Jokowi akan menerapkan sistem yang objektif dengan menerapkan seperti ‘e-Government’, ‘e-Purchasing’ dan lainnya. Kemudian dengan melakukan reformasi birokrasi seperti rekrutmen dan promosi secara ‘merit system’,” ujarnya pula.

Mengenai kepastian hukum, kedua pasangan capres dan cawapres dinilainya normatif yang hanya menyebut tentang nilai dan asas/prinsip penegakan hukum, seperti “equality” dan kesetaraan gender.

Begitupun Jusuf Kalla bersifat normatif, namun uraiannya terkesan runtun.

Diawali dengan negara hukum dalam konstitusi yang harus dipedomani oleh lembaga dan aparat penegak hukum, kemudian diikuti dengan teladan dari pimpinan, kata Wahyu.

Dua pasangan calon presiden dan wakil presiden hadir dalam debat itu dengan menggunakan pakaian seragam masing- masing.

Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa menggunakan pakaian putih lengan panjang dan celana warna krem dengan songkok warna hitam. Sedangkan Jokowi dan JK menggunakan jas hitam dengan pakaian putih dan dasi merah.

Format debat terdiri enam segmen yaitu penyampaian visi dan misi, pendalaman visi misi, pertanyaan soal tema, pertanyaan antarkandidat, tanya jawab penutup, terakhir pernyataan tertutup masing-masing.

Debat capres-cawapres berlangsung selama 90 menit dengan dipandu oleh seorang moderator yaitu Direktur Pusat Kajian Anti-Korupsi (Pukat) Universitas Gajah Mada Yogyakarta Zaenal Arifin Mochtar.

Sebelum debat dimulai, dua kelompok simpatisan pasangan capres-cawapres saling meneriakkan yel-yel menyambut pasangan Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK.

Berbeda dengan massa Jokowi-JK, kelompok massa dari kubu Prabowo-Hatta didominasi oleh para pemuda.

Dua kelompok massa tersebut bergerombol di depan dua pintu masuk Balai Sarbini yang disiapkan untuk menyambut dua pasangan peserta itu yang masuk dari pintu yang berlainan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *