oleh

Masyarakat pertanyakan LSF mencekal film ‘Noah’

Russell Crowe as NoahPOSKOTA.CO — Pekan lalu kontroversi film asing Noah produksi Paramount Pictures ramai dibicarakan di media. Lembaga riset Awesometrics mencatat, masyarakat mempertanyakan sikap Lembaga Sensor Film (LSF) mencengkal film tersebut.

Menurut analis dari Awesometrics Ria Avriyanty kepada Terbit Top, terlepas dari perdebatan tersebut, pendapatan film Noah diestimasi menjadi yang tertinggi di pasar Amerika, seperti yang dikutip dari artikel ‘Noah’ Is No. 1 Despite Complaints di nytimes.com.

“Sayangnya, tidak semua penonton bisa menyaksikan film adaptasi kisah nabi Nuh dari kitab Injil ini. Beberapa negara di Timur Tengah menolak untuk memutarnya,” ujarnya.

Penikmat film di Indonesia juga harus gigit jari karena tidak bisa menyaksikan kelihaian akting Russell Crowe di film ini lewat bioskop-bioskop kesayangan di negeri ini.

Dalam kaitan itu, Lembaga Sensor Film (LSF) Indonesia sebagai lembaga otoritas yang berhak atas penayangan film melarang Noah tayang di Indonesia karena dianggap meresahkan dan mengandung SARA.

Lantas, bagaimana reaksi penonton Indonesia terhadap keputusan dari LSF tersebut?

Awesometrics pun memantau percakapan di media sosial Twitter selama periode 24 Maret 2013 – 31 Maret 2013. Tercatat, bahwa film Noah dipercakapkan tak kurang dari 5.958 kali, dan satu hari sebelum peluncuran resmi perdananya di Amerika Utara, Noah sangat ramai dibicarakan.

LSF Cekal Noah
Keputusan LSF menolak masuknya film Noah ke Indonesia menuai beberapa tanggapan dari pengguna twitter.

Dari total penyebutan di Twitter, ada sekitar 2.642 mention yang membahas isu sensor dengan berbagai sentimen.

Pengguna twitter yang membahas sensor ini dominan menyikapinya secara netral. Dominasi sentimen Netral sangat jelas terlihat dalam pembagian sentimen, yakni sekitar 61% dari keseluruhan.

Di wilayah ini, topik yang paling banyak diperbincangkan adalah terkait informasi pencekalan film Noah di Indonesia. Diskusi pencekalan film Noah, termasuk dari akun media online maupun individual. Banyak diantaranya juga menyinggung LSF selaku lembaga yang melakukan pencekalan, tanpa memberikan tanggapan.

Awesometrics juga menangkap tanggapan negatif dari masyarakat terhadap pencekalan tersebut, meski jumlahnya tidak sebanyak mentions bersentimen Netral.

Penilaian negatif ini muncul dari pernyataan publik yang secara frontal mengutarakan keberatannya atas keputusan LSF tersebut.

Penonton tidak hanya menyampaikan kekecewannya karena Noah tidak ditayangkan di Indonesia tapi menilai sikap LSF yang dianggap pilih-pilih dalam melakukan penyensoran.

Dalam hal ini, tweeps membandingkan penyensoran Noah dengan hasil penilaian LSF terhadap film-film nasional yang mengandung unsur pornografi yang dibalut dalam film bergenre komedi atau horor.

Film-film yang mengandung unsur pornografi ini yang justru lulus sensor. Sementara, film Noah yang bercerita tentang kisah kenabian justru ditolak. Masyrakat juga bertanya tentang film Son of God (produksi 20th Century Fox) yang justru diloloskan oleh LSF dan tayang di Blitz Megaplex mulai 28 Maret 2014.

Dengan kata lain, pencekalan yang dilakukan LSF tidak menghalangi niat masyarakat yang tetap ingin menyaksikan film tersebut, hanya medianya saja yang berbeda. (mam)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *