oleh

KEJARI KARAWANG DIMINTA MUNDUR MASSA

DEMO ILUSTARSI
DEMO ILUSTARSI

OSKOTA.CO – Ribuan warga Kabupaten Karawang, Jawa Barat, yang berasal dari berbagai elemen menuntut Kepala Kejaksaan Negeri setempat mundur dari jabatannya, karena tim jaksa penuntut umum diduga menggunakan saksi palsu dalam kasus pemalsuan surat tanah.

Dalam unjuk rasa yang mendapat pengawalan ketat aparat kepolisian setempat, Kamis, para pengunjukrasa menyodorkan surat pernyataan pengunduran diri kepada Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Karawang Ganora Zarina.

Seorang pengunjukrasa Engkos Koswara menilai, Kejari Karawang yang dipimpin Ganora Zarina saat ini tidak bisa menegakkan hukum sesuai aturan yang berlaku.

Bahkan, kata dia, tim jaksa penuntut umum dalam perkara kasus pemalsuan surat tanah yang kini dalam proses persidangan diduga telah menggunakan saksi palsu.

Dalam kasus pemalsuan tanah atau surat letter C di wilayah Telukjambe Barat yang melibatkan mantan Kepala Desa Margamulya Ratna Ningrum itu, keterangan saksi palsu menjadi dasar oleh tim jaksa untuk menuntut Ratna tiga tahun enam bulan penjara.

“Atas hal itu, kami menginginkan agar Kepala Kejari Karawang dan Kasi Pidana Umum Kejari Karawang Nirwan Nawawi beserta tim jaksa dalam kasus pemalsuan surat tanah itu mundur dari tugasnya di Kejari setempat,” kata Engkos.

Tim jaksa penuntut umum yang dipimpin langsung Kasi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Karawang Nirwan Nawawi, dalam sidang di Pengadilan Negeri pada Rabu (14/5) menuntut terdakwa tiga tahun enam bulan penjara. Ratna dinilai telah terbukti bersalah melakukan tindak pidana pemalsuan melanggar pasal 263 KUHP ayat 1.

Atas tuntutan yang disampaikan tim jaksa penuntut umum, warga yang mendukung Ratna Ningrum marah dan kecewa. Sehingga pada Kamis ini mereka berunjuk rasa di depan kantor Kejari Karawang.

Seorang pengunjukrasa Abdul Karim menilai, dalam sidang di Pengadilan Negeri Karawang, tim jaksa penuntut umum memaksakan kehendak dalam menyampaikan tuntutannya kepada Ratna Ningrum.

“Setelah dipelajari, ternyata tim jaksa penuntut umum ceroboh dalam membuat tuntutan kepada Ratna. Tuntutan itu didasarkan atas 37 keterangan saksi yang disebutkan dibawah sumpah,” katanya, di Karawang, Kamis.

Padahal dari 37 saksi yang dimaksud itu, kata dia, ada tujuh orang saksi yang tidak datang dalam persidangan dan seorang saksi lainnya sudah meninggal dunia.

Tim jaksa penuntut umum jelas-jelas menyebutkan ketujuh saksi yang tidak datang yang seorang saksi diantaranya meninggal dunia menyampaikan keterangan dibawah sumpah. Hal itu disebutkan dalam lembaran tuntutan jaksa penuntut umum.

“Mana bisa saksi yang tidak hadir dalam persidangan dan saksi yang sudah meninggal dunia menyampaikan keterangan dibawah sumpah. Itu kecerobohan dan sama saja menggunakan saksi palsu dalam menangani perkara ini,” kata Karim.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *