oleh

Kejari Ambarawa Lamban Tangani Korupsi Pacuan Kuda

Ilustrasi
Ilustrasi

POSKOTA.CO – Meski telah menetapkan satu tersangka, yakni seorang pejabat di lingkungan Pemkab Semarang yang bernama Ade Fajar terkait dugaan penyimpangan proyek pembangunan lapangan pacuan kuda berikut fasilitas pendukungnya, di Desa Tegalwaton, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, pada awal Pebruari 2014 lalu, namun hingga kini perkembangan penyidikan itu tak kunjung selesai dan Kejaksaan Negeri (Kejari) Ambarawa terkesan lamban dalam menangani perkara ini.

Padahal sejumlah saksi juga telah selesai diperiksa, seperti anggota panitia pengadaan proyek, Agung Pangarso, Sidiq Sudibyo, dan Hendarstuti, hingga saat ini penyidik juga belum menambah tersangka baru apalagi melimpahkan berkas perkara ini ke penuntutan.

Mantan Kades Tegalwaton, Agus Suranto, yang juga menjadi anggota Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) ketika dikonfirmasi mengatakan, hampir semua pengerjaan tidak memenuhi syarat lapangan pacuan kuda.
“Mulai dari star gate, landasan pacu, tribune, hingga kandang persiapan kuda di belakang tribune penonton. Bahkan, sejak awal saya sudah mengira pasti akan ada yang jadi tersangka dalam proyek ini,” papar Agus, Jum’at (25/4).

Lebih lanjut Agus mengaku dirinya pernah dipanggil kejaksaan untuk dimintai keterangan terkait dugaan penyimpangan proyek yang dananya berasal dari APBD Kabupaten Semarang Tahun Anggaran 2012 sebesar Rp 12 miliar itu. Lantaran tidak tahu-menahu pelaksanaan proyeknya, maka penyidik diajak secara langsung melihat kondisi pacuan kuda. Salah satu yang dicek penyidik adalah kedalaman pasir di landasan pacu.

“Setelah diukurketebalannya hanya 20 cm, padahal idealnya sesuai standar Pordasi adalah 50 cm,” beber Agus
Ditempat terpisah Wakil Humas dan Informasi Pordasi Jateng, Supriyono mengungkapkan, ide pembangunan lapangan pacuan kuda di Desa Tegalwaton, Kecamatan Tengaran bergulir pada 1990- an, saat dirinya masih menjabat sebagai kepala desa. Pihaknya kemudian mengajukan bantuan dana kepada Gubernur Jateng Bibit Waluyo.

Pihaknya juga merasa kecewa melihat pembangunan lapangan pacuan kuda yang tidak seperti konsep awal. Semisal, panjang lintasan pacuan seharusnya dapat dibangun lebih dari 1.200 meter tapi tidak dilakukan padahal tanahnya masih tersedia. (rie)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *