oleh

KAMPANYE HITAM BISA JADI PETAKA CAPRES-CAWAPRES

Ilustrasi
Ilustrasi

POSKOTA.CO – Pengamat hukum dan politik dari Universitas Nusa Cendana Kupang, Nicolaus Pira Bunga berpendapat “black campaign” atau kampanye hitam yang marak belakangan ini bisa jadi petaka bagi pasangan capres-cawapres yang “bertarung” dalam Pilpres.

“Kampanye hitam justru bisa merugikan para calon pasangan capres-cawapres yang sedang bertarung merebut simpati pemilih menyongsong Pilpres 9 Juli 2014,” kata Nicolaus Pira Bunga, SH, MHum di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Senin.

Dosen Fakultas Hukum Undana Kupang itu mengatakan dampak dari kampanye hitam agar tidak disepelekan, karena selain mencemaskan dan mengkhawatirkan masyarakat, juga bisa menjadi bumerang bagi pasangan Jokowi-JK atau Prabowo-Hatta baik sebagai pelaku maupun objek dari kampanye hitam itu.

“Dampak buruk kampanye hitam sangat luas, baik untuk masyarakat, pemilih dan tim pemenangan serta para peserta Pemilu Presiden, sehingga sebaiknya dihentikan dan lebih mengedepankan kampanye jujur serta mendidik pemilih terkait dengan visi dan misi,” katanya.

Hal ini, katanya, telah disadari tim kampanye pasangan Capres-Cawapres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa di Maluku yang terdiri dari partai koalisi Merah Putih memilih menghindari kampanye hitam atau negatif.

“Masih banyak visi-misi dan program positif yang harus disampaikan kepada masyarakat ketimbang terjerat dalam lingkaran kampanye hitam yang saling menjatuhkan,” kata Sekretaris tim kampanye daerah Maluku, Hendrik Lewerissa di Ambon, Senin.

Tim kampanye pasangan Capres-Cawapres Prabowo-Hatta Daerah Maluku ini juga percaya metode kampanye hitam tidak membawa manfaat apapun.

Menurut Pira Bunga, keputusan tim pemenangan pasangan capres dan cawapres untuk menghindari kampanye hitam dinilai tepat. Hal ini karena dampak positifnya tidak terlalu signifikan bagi pelaku kampanye hitam untuk meraih suara pemilih.

“Masyarakat kelas menengah ke atas sudah bisa membedakan mana yang benar dan salah dari isi pesan kampanye. “Mereka semakin bisa menyaring, lebih rasional, dapat membedakan fitnah atau bukan, sehingga mereka bisa menilai pelakunya adalah orang yang tidak benar,” katanya.

Karena itu dua pasang calon presiden dan wakil presiden, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla, harus bisa meredam maraknya kampanye hitam.

“Jadi tim pemenangan masing-masing kubu jangan hanya sebatas mengecam bentuk kampanye negatif tetapi harus ada kesadaran untuk saling menyadarkan bahwa misi setiap kampanye hitam hanya untuk menebar kebencian dan prasangka atas capres dan cawapres yang jadi sasaran kampanye itu. Ini tidak bisa dipandang remeh dan masyarakat diimbau tidak hanyut dalam kampanye itu,” katanya.

Bakal calon presiden Joko Widodo menyatakan aksi kampanye hitam merupakan kegiatan politik yang tidak mencerdaskan masyarakat. Dia mengatakan belakangan ini kampanye hitam terhadap diri dan pasangannya semakin gencar.

“Bahkan, ada yang sampai memalsukan tanda tangan saya. Itu cara-cara murahan, rendahan, tidak intelek, dan tidak cerdas,” kata Jokowi pada acara santunan dan silaturahim Forum Lembaga Musyawarah Keluarga Jakarta Timur di GOR Matraman, Jakarta Timur.

Karena itu, Jokowi minta masyarakat untuk lebih berhati-hati dan tak mudah percaya begitu saja ketika menerima sebuah informasi. Menurut dia, informasi yang merupakan kampanye hitam sering kali tak masuk akal.

Jokowi memberi contoh isu yang menyebut dia berencana menghapus uang operasional untuk para ketua RT dan RW di seluruh Jakarta apabila terpilih sebagai presiden.

Menurut Pira Bunga, sesungguhnya ada niat dan tekad kedua pasangan calon untuk menghindari kampanye hitam, namun rasanya masih sulit karena selalu saja dihembuskan oleh oknum-oknum tak bertanggungjawab.

Karena di satu sisi, sama-sama berkeinginan bahwa pilpres harus menghasilkan pemimpin yang benar-benar dapat membawa perubahan bangsa ke arah lebih baik lewat proses demokrasi yang juga baik.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *