oleh

Gatot Penyewa Pembunuh Bayaran Dituntut Hukuman Mati

Gatot mengenakan batik  dalam sidang perdana
Gatot mengenakan batik dalam sidang perdana

POSKOTA.CO – Gatot Supiartono, Auditor Utama Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang menjadi otak
pembunuhan terhadap istri sirinya di Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan, diancam hukuman mati.

Jaksa Hayin Suhikto dalam dakwaannya yang diungkap di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (19/3/2014) menyebutkan, terdakwa yang memiliki jabatan menganjurkan kepada Surya Hakim, Abdul Latif, Pagu, Rusdi dan Elriski Yudhistira supaya menghilangkan nyawa Holly Angela Hayu, istri simpanannya.

Awalnya, Gatot curhat kepada sopir pribadinya, Surya Hakim yang sering mengantar jemput terdakwa ke tempat tinggal Holly di Apartemen Kalibata City dan kantornya di gedung BPK. Gatot menceritakan ihwal pernikahan sirinya dengan Holly dan sikap Holly yang sering marah-marah.

Terdakwa menceritakan kepada Surya sekaligus mengeluhkan hubungannya sudah tidak lagi harmonis. Terdakwa menyampaikan, selain tamperamen, Holly juga banyak tuntutan, padahal sudah yang bersangkutan dibelikan apartemen dan mobil Honda CR-V, namun korban masih minta untuk menceraikan istri resminya.

Surya Hakim pun menawarkan kepada Gatot untuk menghabisi nyawa Holly dengan cara disantet. Terdakwa langsung menyetujui dan dikenakan oleh seorang yang bisa menyantet bernama Uyat. Namun Uyat mengaku tidak bisa membunuh dengan cara menyantet tapi hanya bisa menyembuhkan orang.

Uyat meminta Surya untuk menghubungi Pagu. Akhirnya Pagu menyanggupi pembunuhan itu dengan cara seolah-olah dirampok di taksi. Pagu meminta upah atas jasanya itu sebesar Rp200 juta. Terdakwa menyanggupi bayaran yang diminta Pagu, tapi tidak setuju dengan cara dirampok di taksi.

“Yang diinginkan terdakwa pembunuhan yang jasadnya tanpa bisa ditemukan,” terangnya.

Eksekusi pembunuhan terhadap Holly Angela terjadi pada 30 September 2013 malam. Saat itu, Holly baru saja pulang dari rumah ibu angkatnya. Saat sedang menelefon, Holly berjalan santai menuju kamar apartemennya bernomor E 09 AT. Di dalam kamar sudah ada Elrizki dan Rusdi yang masuk ke dalam kamar dengan kunci palsu yang didapatkan dari terdakwa.

Sebelum kejadian, para pelaku sudah menyiapkan peti berupa hardcase (bungkus luar) gitar berukuran 100x50x50 cm untuk menyimpan jasad Holly dan menyiapkan kopi yang diyakini bisa menghilangkan bau busuk mayat.

Saat Holly masuk ke kamar, kedua pelaku langsung menganiaya Holly hingga sekarat dan tewas dalam perjalanan ke rumah sakit. Saat pemeriksaan di rumah sakit, perbuatan itu menyebabkan tulang rawan Holly Angela patah, luka lecet, memar di muka, bahu, dan dada akibat kekerasan benda tumpul.

Atas perbuatanya Gatot Supiartono diancam dakwaan komulatif. Dakwaan Primair, Gatot diancam melanggar Pasal 340 jo Pasal 56 KUHP, Subsidair Pasal 338 Jo Pasal 56 KUHP, atau Pasal 353 Jo Pasal 56 KUHP dengan ancaman maksimal hukuman mati.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *