Bamsoet Apresiasi Pemberlakuan Plat Nomor Khusus Kendaraan Listrik

Bamsoet bersama komunitas saat ikut memperkenalkan salah satu kendaraan listrik, dan Ketua MPR RI ini juga mengapresiasi langkah Korlantas Polri membuat plat nomor khusus warna biru di sisi bawahnya untuk kendaraan listrik [inzet].

Read Time:2 Minute, 11 Second

POSKOTA.CO – Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mendukung serta mengapresiasi langkah kepolisian melalui Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri yang membuat plat nomor kendaraan khusus untuk Kendaraan Bermotor Listrik (KBL). Ketentuan tersebut tertuang dalam Keputusan Korps Lalu Lintas Polri Nomor 5 Tahun 2020 tentang Standardisasi Spesifikasi Teknis Materil TNKB dan TCKB Roda Empat atau Lebih dan Roda Dua atau Tiga. Ditandatangani Kepala Korlantas Polri Inspektur Jenderal Polisi Istiono, berlaku sejak ditetapkan pada 8 Januari 2020.

“Plat KBL yang memiliki detail warna biru di sisi bawahnya akan menjadi pembeda dengan plat kendaraan berbahan bakar minyak. Ini menjadikan KBL sangat spesial, sehingga menarik minat masyarakat bermigrasi ke KBL. Selain itu, plat yang berbeda tersebut juga memudahkan kepolisian yang bertugas di jalan raya dalam mengidentifikasi mana kendaraan listrik dan mana yang bukan. Mengingat kendaraan listrik memiliki berbagai fasilitas keistimewaan dari pemerintah. Seperti misalnya pembebasan ganjil-genap di ruas jalan Jakarta, serta keringanan berbagai pajak,” ujar Bamsoet, sapaan akrab Bambang Soesatyo, di Jakarta, Selasa (28/1/2020).

Bamsoet yang juga menjadi Executive Advisor Tesla Club Indonesia ini menilai, plat khusus dengan desain warna biru sesuai dengan jati diri KBL sebagai kendaraan yang ramah lingkungan, bebas polusi, dan tak berkontribusi terhadap pemanasan global. Tidak seperti kendaraan berbahan bakar minyak, yang menghasilkan emisi gas buang yang mencemari lingkungan.

“Di DKI Jakarta, misalnya, jika di rata-rata kualitas udaranya mencapai angka 118,3 mikrogram/meter kubik, jauh dari ambang batas normal yang ditetapkan WHO sebesar 25 mikrogram/meter kubik. Dari berbagai kajian, hampir 45 persen polusi di Jakarta disebabkan kendaraan berbahan bakar minyak,” tutur Bamsoet, dalam siaran tertulis yang diterima POSKOTA.co, Rabu (29/1/2020).

Hemat
Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini memaparkan, keuntungan penggunaan KBL lainnya yang bisa menghemat pengeluaran pemilik. Karena biaya perawatan yang rendah, sekitar 35 persen dibanding kendaraan berbahan bakar minyak, lantaran tak adanya komponen tertentu seperti oli, filter oli, busi, dan katup engine. Biaya pengisian bahan bakar juga sangat rendah, dibanding kendaraan berbahan bakar minyak.

“Sebagai perbandingan, berbagai riset menampilkan rata-rata sebuah sedan berbahan bakar minyak yang dikemudikan sejauh 15.000 mil akan menghabiskan rata-rata 6.957 dolar AS. Sedangkan KBL, dengan jarak tempuh yang sama hanya membutuhkan 540 dolar AS,” tandas Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia ini juga menyoroti tingginya konsumsi bahan bakar minyak pada kendaraan di Indonesia yang rata-rata total per harinya mencapai 92.563 kiloliter (kl). Selain menguras cadangan energi fosil dunia, juga membuat dunia menjadi semakin dipenuhi polusi.

“World Health Organization (WHO) melaporkan, polusi udara menyebabkan 7 juta kematian di berbagai negara dunia. Di mana penyumbang terbesarnya berasal dari pembakaran bahan bakar fosil. Karena itu, sudah waktunya kita bermigrasi dari BBM ke KBL. Hal ini tentu bukan hal yang mustahil, dan bukan hal yang sulit. Sebagaimana dulu kita pernah sukses bermigrasi dari minyak tanah ke elpiji,” pungkas Bamsoet. (*)

 

0 0
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *