KEJATI TAHAN TIGA TERSANGKA KORUPSI DANA LAHAN PELABUHAN DI MERANTI – Poskota.co
Saturday, September 23

KEJATI TAHAN TIGA TERSANGKA KORUPSI DANA LAHAN PELABUHAN DI MERANTI

POSKOTA.CO – Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau menahan tiga tersangka korupsi dana APBD senilai Rp 2,1 miliar untuk pembelian lahan pelabuhan internasional di Kabupaten Meranti. Terkait kasus korupsi ini, Bupati Meranti Irwan Nasir sudah pernah dimintai keterangan.

Penahanan itu dilakukan Kejati Riau, Selasa (19/7) sore. Ketiga tersangka adalah, Z mantan ketua panitia pengadaan tanah saat itu menjabat sebagai sekretaris daerah (Sekda) Pemkab Meranti.

“Kini tersangka Z statusnya anggota DPRD Meranti,” kata Asisten Tindak Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Riau Sugeng Riyanta, didampingi Kasi Penkum dan Humas Mukhzan, kepada wartawan.

Sugeng menjelaskan, tersangka selanjutnya inisial S sebagai kepala Badan Pertahanan Nasional (BPN) Meranti. Terakhir menahan AA selaku broker penjualan tanah untuk pelabuhan internasional wilayah Dorak, Kabupaten Meranti. “Sebenarnya satu tersangka lagi, inisial. MH harusnya turut ditahan hari ini juga. Namun tadi pengacaranya datang memberitahukan kalau orang tua tersangka meninggal dunia. Pertimbangan kemanusiaan kita tolerir,” kata Sugeng.

Aspidsus Kejati Riau ini menjelaskan, korupsi lahan untuk Pelabuhan Dorak ini terjadi tahun anggaran 2013 lalu. Modusnya, tersangka MH membeli tanah untuk pelabuhan lewat broker AA tanah seluas 48 ribu meter persegi. “Broker AA, merekayasa seakan-akan tanah itu milik dua orang warga katakan lah A dan si B. Lantas uang APBD cari untuk mengganti rugi yang dilakukan para tersangka dari pejabat Pemkab Meranti,” kata Sugeng.

Dalam perjalanannya, ketika pelabuhan akan dibangun, ternyata tanah tersebut masih sah pemilik pihak ketiga. Sedangkan broker AA merekayasa seakan-akan tanah itu sudah diganti rugi dari pemiliknya dua orang. “Uang untuk ganti rugi tanah Rp2,1 miliar dinikmati para tersangka. Sedangkan sampai kini proyek pelabuhan Dorak tersebut masih terbengkalai,” ujar Sugeng.

Untuk tersangka MH, lanjut Sugeng, Selasa pekan depan akan kembali dilakukan pemanggilan sekaligus di lakukan penahanan. “Berkas sudah selesai dari penyidik dan akan diserahkan tahap I ke jaksa penuntut umum. Selanjutnya penyerahan tahap II untuk segera kita sidangkan,” kata Sugeng.

Sugeng menjelaskan, kasus korupsi ganti rugi lahan pelabuhan ini tidak akan berhenti sampai di sini. Perkembangan selanjutnya terlibat atau tidaknya Bupati Meranti Irwan Nasih sesuai perkembangan di persidangan. “Untuk kasus inikan tentunya tidak berhenti sampai di sini. Itu semua akan berkembang di pengadilan, termasuk orang yang kita sebutkan tadi (Bupati Meranti Irwan Nasir-red),” jelas Sugeng.

Selain ditangani Kejati Riau, penyelidikan kasus ini juga dilakukan oleh Polda Riau. Bedanya, penyidik Polda melakukan pengusutan dugaan korupsi pembangunan fisik pelabuhan, sementara kejaksaan melakukan pengusutan dugaan pengadaan lahan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
POSKOTA.CO - BRI Cabang Kabupaten Majene mangkir dari panggilan Ombudsman Provinsi Sulawesi Barat untuk melakukan klarifikasi terkait raibnya tabungan warga Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar di Bank BRI Cabang Majene. "Kami sudah melakukan panggilan kepada Kepala Bank BRI Majene untuk melakukan klarifikasi atas raibnya tabungan warga di BRI Majene, namun Bank BRI Majene mangkir dari panggilan," kata Asisten Bidang Pencegahan Ombudsman Perwakilan Provinsi Sulbar, Muhammad Sukriadi Azis S,Ip di Mamuju, Jumat. Ia mengatakan, Ombudsman kembali memanggil Kepala BRI Cabang Majene sampai pada panggilan ketiga dan bila belum diindahkan panggilan yang ketiga maka akan dilakukan pemanggilan paksa dengan melibatkan aparat kepolisian. "Kami akan lakukan panggilan sesuai dengan kewenangan Ombudsman Sulbar kami harap BRI Majene bersedia menerima panggilan Ombudsman Sulbar," katanya. Menurut dia, Ombudsman Sulbar telah menerima laporan nasabah BRI Majene yang tabungannya raib di BRI Majene sebanyak Rp400 juta, raib, "Kami telah menerima laporan dari seorang warga Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polman, atas nama Subli Sukardi, yang mengaku uang tabungannya raib senilai Rp400 juta, di Bank BRI Cabang Majene, sehingga kita panggil BRI Majene melakukan klarifikasi," katanya. Ia mengatakan, warga itu menyampaikan jika uangnya raib diduga karena telah terjadi penggelapan dana di Bank BRI Majene. "Pelapor mengaku bahwa diduga salah seorang oknum pegawai negeri sipil di lingkup Pemkab Majene, telah bersekongkol dengan staf Bank BRI Majene, mencairkan tabungannya sehingga tabungannya raib," katanya. Menurut dia, uang tabungan pelapor telah ditarik sebanyak tiga kali direkeningnya sehingga tabungannya itu raib sejak bulan Juli tahun 2013. Ia menyampaikan bahwa atas laporan tersebut maka pihak Ombudsman Sulbar menindaklanjutinya dengan memanggil Kepala BRI Majene dan melakukan pemeriksaan terhadap staf Bank BRI dan oknum PNS yang dimaksud, namun yang dipanggil ternyata mangkir.