KEJAGUNG KEMBALI TAHAN LIMA TERSANGKA KASUS TIPIKOR DI SUDIN PU TATA AIR JAKBAR – Poskota.co

KEJAGUNG KEMBALI TAHAN LIMA TERSANGKA KASUS TIPIKOR DI SUDIN PU TATA AIR JAKBAR

POSKOTA.CO – Kejaksaan Agung (Kejagung) kembali menahan lima orang dari Suku Dinas Pekerjaan Umum Tata Air (Sudin PU Tata Air) Jakarta Barat. Kelimanya diduga melakukan tindak pidana korupsi (tipikor) dalam pekerjaan swakelola pemeliharaan dan operasional infrastruktur pengendali banjir di tahun anggaran 2013.

“Mereka ditahan karena adanya kekhawatiran tersangka melarikan diri, merusak atau menghilangkan barang bukti atau mengulangi tindak pidana,” ujar Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Arminsyah SH, MSi di Kejagung, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (20/7).

Penahanan kelima orang ini adalah pengembangan atas kasus yang menimpa mantan Kasudin PU Jakbar Monang Ritonga.

Kasus tersebut bermula dari adanya kegiatan pekerjaan swakelola pada Sudin Pekerjaan Umum Tata Air Jakbar tahun 2013 untuk pekerjaan peningkatan, pembangunan saluran dan pembangunan pompa pengendali banjir.

Ada dua sumber anggaran pada program swakelola ini, yaitu dari APBD murni sebesar Rp55.500.000.000 dan APBD perubahan sebesar Rp36.771.189.692. Sehingga total anggarannya mencapai Rp92.271.189.692.

Kerugian negara akibat tindak pidana korupsi ini sebesar Rp41.482.317.535. Total Kejagung menetapkan ada 11 orang yang jadi tersangka atas kasus ini.

Kelima orang yang ditahan hari ini adalah Hery Setyawan selaku staf pembuat SPJ, Raden Sugiyarto selaku kasi Kecamatan Kebon Jeruk, Heddy Hamrullah selaku kasi Kecamatan Cengkareng, Eko Prihantono selaku kasi Kecamatan Grogol dan Subari selaku kasi Kecamatan Kembangan. “Waktu penahanan mereka selama 20 hari terhitung mulai 20 Juli 2016 sampai dengan 8 Agustus 2016,” ucap Arminsyah.

Sebelumnya Kejagung juga sudah menahan tiga orang tersangka pada 14 April lalu. Ketiganya yaitu, Binahar Pangaribuan, Nurhadi selaku kasi Pemeliharaan periode Januari-September 2013, dan Arnold Welly Arde selaku Direktur PT Citra Cisangge.

Di kasus tipikor ini, sebelumnya, sudah ada tiga orang yang telah menjadi terdakwa dan dalam proses persidangan, mereka adalah Kepala Bidang Sistem Aliran Barat Dinas Tata Air Provinsi DKI Jakarta (mantan Kepala Suku Dinas Pekerjaan Umum Tata Air Jakarta Barat periode April-Agustus 2013) Wagiman, Kepala Bidang Sungai dan Pantai Sistem Aliran Timur Dinas Tata Air Propinsi DKI Jakarta (mantan Kepala Suku Dinas Pekerjaan Umum Tata Air Jakarta Barat periode November 2012-April 2013) Monang Ritonga, dan Kepala Suku Dinas Bina Marga Kota Administrasi Jakarta Pusat (mantan Kepala Suku Dinas Pekerjaan Umum Tata Air Jakarta Barat Periode Agustus 2013 s/d Desember 2013) Pamudji. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
POSKOTA.CO - BRI Cabang Kabupaten Majene mangkir dari panggilan Ombudsman Provinsi Sulawesi Barat untuk melakukan klarifikasi terkait raibnya tabungan warga Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar di Bank BRI Cabang Majene. "Kami sudah melakukan panggilan kepada Kepala Bank BRI Majene untuk melakukan klarifikasi atas raibnya tabungan warga di BRI Majene, namun Bank BRI Majene mangkir dari panggilan," kata Asisten Bidang Pencegahan Ombudsman Perwakilan Provinsi Sulbar, Muhammad Sukriadi Azis S,Ip di Mamuju, Jumat. Ia mengatakan, Ombudsman kembali memanggil Kepala BRI Cabang Majene sampai pada panggilan ketiga dan bila belum diindahkan panggilan yang ketiga maka akan dilakukan pemanggilan paksa dengan melibatkan aparat kepolisian. "Kami akan lakukan panggilan sesuai dengan kewenangan Ombudsman Sulbar kami harap BRI Majene bersedia menerima panggilan Ombudsman Sulbar," katanya. Menurut dia, Ombudsman Sulbar telah menerima laporan nasabah BRI Majene yang tabungannya raib di BRI Majene sebanyak Rp400 juta, raib, "Kami telah menerima laporan dari seorang warga Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polman, atas nama Subli Sukardi, yang mengaku uang tabungannya raib senilai Rp400 juta, di Bank BRI Cabang Majene, sehingga kita panggil BRI Majene melakukan klarifikasi," katanya. Ia mengatakan, warga itu menyampaikan jika uangnya raib diduga karena telah terjadi penggelapan dana di Bank BRI Majene. "Pelapor mengaku bahwa diduga salah seorang oknum pegawai negeri sipil di lingkup Pemkab Majene, telah bersekongkol dengan staf Bank BRI Majene, mencairkan tabungannya sehingga tabungannya raib," katanya. Menurut dia, uang tabungan pelapor telah ditarik sebanyak tiga kali direkeningnya sehingga tabungannya itu raib sejak bulan Juli tahun 2013. Ia menyampaikan bahwa atas laporan tersebut maka pihak Ombudsman Sulbar menindaklanjutinya dengan memanggil Kepala BRI Majene dan melakukan pemeriksaan terhadap staf Bank BRI dan oknum PNS yang dimaksud, namun yang dipanggil ternyata mangkir.