SI NYONYA BESAR RESMI DAPATKAN HIGUAIN – Poskota.co

SI NYONYA BESAR RESMI DAPATKAN HIGUAIN

POSKOTA.CO – Klub Kota Turin, Juventus, sukses mendapatkan tangkapan terbesarnya di bursa transfer musim panas ini, dan mengumumkan telah mendaratkan striker Napoli, Gonzalo Higuain, di JUventus Stadium.

Bianconeri harus mengeluarkan uang yang sangat besar untuk mendatangkan Higuain, yaitu 90 juta euro (sekitar Rp1,3 triliun). Mereka mengontrak striker internasional Argentina itu selama empat tahun.

“Juventus Football Club hari ini bisa mengumumkan bahwa mereka telah membeli hak registrasi Gonzalo Higuain senilai 90 juta euro, dibayar dalam dua tahun finansial,” tulis Juventus di laman resminya.

Higuain menandatangani kontrak berdurasi empat tahun bersama Si Nyonya Besar dengan bayaran yang dilaporkan mencapai 7 juta euro per tahun.

Striker 28 tahun tahun itu sebelumnya disebutkan memiliki klausul buy-out senilai 94,7 juta euro. Meski demikian klausul itu hanya berlaku jika Higuain menginginkan pergi secara sepihak. Sedangkan klausul pelepasan Higuain untuk klub peminat dipatok 90 juta euro.

Jumlah sebesar itu telah dipenuhi oleh Juventus dan jawara Serie A itu bakal menyicilnya sebanyak dua kali kepada Napoli, masing-masing 45 juta euro.

Bomber Argentina itu sebetulnya masih memiliki kontrak di Napoli hingga 2018, namun memilih hengkang ke Turin dan menjadi rekrutan kelima Bianconeri di musim panas ini setelah Miralem Pjanic, Dani Alves, Medhi Benatia dan Marko Pjaca.

Higuain sudah membuktikan ketajamannya di Napoli. Selama tiga musim berkostum Partenopei, dia mencetak 91 gol dalam 146 pertandingan dan musim lalu jadi top skorer Serie A dengan torehan 36 gol dari 35 partai. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_810" align="alignleft" width="300"] Effendi Gazali[/caption] POSKOTA.CO - Pakar Komunikasi Politik Effendi Ghazali melayangkan protes ke Mahkamah Konstitusi meminta penjelasan atas ketidakkonsistenan dan memiliki sikap berbeda dalam mengadili suatu perkara. Dalam surat itu, Effendi meminta penjelasan tentang permohonannya terhadap pelaksanaan Pemilu Serentak yang membutuhkan waktu satu tahun lebih. Dia mengungkapkan bahwa pengujian Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden itu didaftarkan Effendi pada 10 Januari 2013 dan baru diputus 23 Januari 2014. Sementara, saat menguji Undang-Undang nomor 4 tahun 2014 tentang Penetapan Perppu nomor 1 tahun 2013 tentang Perubahan Kedua atas UU Mahkamah Konstitusi, MK hanya membutuhkan waktu 37 hari. "Putusan Mahkamah Konstitusi No 1PUU-XII/2014 dan 2/PUU-XII/2014 dibacakan setelah 37 dan 50 hari sejak pendaftaran perkara, sedangkan Putusan PUU kami nomor 14/PUU-XI/2013 dibacakan setelah 1 tahun 13 hari (378 hari) sejak pendaftaran perkara," ungkap Effendi, dalam suratnya. Effendi juga memprotes dasar pertimbangan yang digunakan, yakni saat mengadili UU MK, mahkamah mempertimbangkan perlu segera memutus perkara karena terkait dengan agenda ketatanegaraan Tahun 2014, yaitu pemilihan umum anggota DPR, DPD, dan DPRD provinsi/kabupaten/kota, serta pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden. Namun, lanjutnya, dalam mengadili UU Pilpres yang diajukan Effendi, MK tak menggunakan pertimbangan serupa. Oleh karena itu, Effendi dalam suratnya mempertanyakan, apakah konstitusionalitas dalam penyelenggaraan Pemilu 2014 kalah penting dibandingkan dengan potensi sengketa hasil pemilu yang akan ditangani oleh MK. Effendi mengharapkan respon secepatnya dari MK, jka sampai 14 hari tidak mendapatkan respon, maka dia mengancam akan melaporkan masalah ini ke Dewan Etik MK. djoko-antara