MAN UNITED TEBUS POGBA 112 JUTA POUNDSTERLING – Poskota.co

MAN UNITED TEBUS POGBA 112 JUTA POUNDSTERLING

POSKOTA.CO – Titik terang semakin terlihat perihal transfer pemain bintang Juventus, Paul Pogba. Kabar terbaru mengatakan, Manchester United (Man Unied) akhirnya bersedia merogoh kocek sebesar 112 juta poundsterling atau sekitar Rp1,95 triliun untuk pemain Timnas Perancis tersebut yang pernah merumput di Old Trafford ini.

Dana sebesar itu seperti dilaporkan The Sun, Kamis (28/7), adalah total harga transfer Pogba plus dana komisi untuk sang agen, Mino Raiola. Untuk sang pemain, The Red Devils menebus dengan harga 92 juta pounds atau Rp1,6 triliun, serta tambahan 20 juta pounds atau Rp348 miliar adalah komisi Raiola.

Adapun sebelumnya agen berdarah Italia-Belanda tersebut meminta komisi sebesar 24 juta pounds. Sisanya, pihak La Vecchia Signora yang akan memberi tambahan sebesar 4 juta pounds dari total transfer Pogba.

Transfer Pogba ke tim asuhan Jose Mourinho ini diperkuat dengan laporan Sky Sports Italia yang menyebut kesepakatan akan rampung dalam waktu 48 jam. Namun surat kabar tersebut mencantumkan jika United cuma menebus gelandang asal Prancis dengan harga 110 juta pounds (Rp 1,91 triliun) plus bonus yang tidak disebutkan.

Jika benar demikian, maka transfer Pogba akan jadi yang termahal sepanjang sejarah. Sebelumnya nominal tertinggi untuk seorang pemain masih dipegang Gareth Bale ketika dibajak Real Madrid dari Tottenham Hotspurs senilai 100 juta pounds atau Rp1,7 triliun.

Langkah ini juga disebut The Sun sebagai antisipasi ‘Setan Merah’ dari Madrid. Ya, Los Blancos sempat membuat heboh soal transfer Pogba ketika pelatih Zinedine Zidane mengatakan sebelum bursa transfer ditutup, Pogba masih bisa berubah haluan dan memilih Liga Spanyol. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_282" align="alignleft" width="300"] Dalam Pilkada Jatim sebenarnya yang menang adalah pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja, bukan KarSa. (DOK)[/caption] POSKOTA.CO – Terungkap. Mantan Ketua MK Akil Mochtar mengaku, pemenang dalam Pilkada Jatim sebenarnya adalah pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja, bukan KarSa. Putusan terhadap kemenangan Khofifah-Herman itu sudah diputuskan 7 hari sebelum amar putusan dibacakan MK pada 7 Oktober 2013. "Jadi keputusan MK itu sebenarnya sudah ada 7 hari sebelum amar putusan. Dan, itu Pak Akil menegaskan bahwa Bu Khofifah dan Pak Herman yang menang. Tapi ini tiba-tiba putusannya incumbent yang menang," kata kuasa hukum Akil, Otto Hasibuan di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (28/1/2014). Otto mengatakan, pada 2 Oktober 2013 Akil ditangkap KPK karena kasus dugaan suap pengurusan sengketa Pilkada Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah 2013. Padahal, amar putusan PHPU Jatim belum dibacakan, sementara dia adalah Ketua Panel PHPU tersebut. "Pak Akil Ketua Panel, putusan 7 hari sebelum dibacakan sudah ada, tapi pasca ditangkap Pak Akil itu tiba-tiba pihak sana (KarSa) yang menang. Ini ada apa?" kata Otto. Sebelum ditangkap Akil, kata Otto pernah mengirim surat ke MK. Isinya meminta klarifikasi kepada para hakim konstitusi lain, kenapa putusan itu tiba-tiba berubah. "Jadi tadi Pak Akil minta kepada saya untuk menyurati MK, mengklarifikasi masalah tersebut," ucap dia. Dalam amar putusannya, MK memerkuat keputusan KPUD Jatim yang menetapkan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa) sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih untuk Provinsi Jatim periode 2013-2018. Akil Mochtar oleh KPK ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap pengurusan sengketa Pilkada Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah 2013 dan Pilkada Kabupaten Lebak, Banten 2013 di MK. KPK juga menyematkan status tersangka pada bekas politisi Partai Golkar itu dalam kasus dugaan pencucian uang yang diduga berasal dari uang suap. Kejaksaan Agung menyatakan telah menerima surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) tindak pidana narkoba atas tersangka M. Akil Mochtar dari penyidik Badan Narkotika Nasional. Surat tersebut dibuat oleh penyidik BNN pada 20 November 2013 dan diterima oleh Kejaksaan Agung pada 22 November 2013. (djoko)