oleh

Ini Dia si Raja Tega, Duit Bantuan Rakyat Miskin Diembat Juga

 

Kebangetan banget kelakuan orang satu ini, bantuan dana buat  bedah rumah orang miskin kok ya diembat juga. Kalau sekarang dia berurusan dengan hukum dan bakal masuk bun,  ya lu rasain dah dinginnya tidur di lantai penjara.

Pemerintah Kabupaten ( Pemkab)  Bekasi sejak bupati sebelumnya memprogramkan bantuan untuk warga yang tinggal di rumah tidak layak huni.  Tahun 2019 lalu misalnya,  bantuan yang diberikan ke warga masing-masing Rp 15 juta untuk satu unit rumah.

Demi suksesnya program ini, pemerintah daerah membentuk pendamping,  di mana setiap pendamping ‘ memegang’ sekitar 25 rumah yang akan dibedah.

Salah seorang pendamping adalah SS, 55 tahun. Sebagai pendamping,  SS mestinya ‘ mengawasi’ agar bantuan untuk Rutilahu itu tepat sasaran dan tepat anggaran.  Karena memang untuk tugasnya sebagai pendamping dia diberikan honor.

Namun SS bukannya mendampingi agar pembenahan Rutilahu jadi benar,  tapi justru ‘gerogotin’ duit yang seharusnya buat bangun 25 unit umah rakyat miskin di Desa Sumberjaya,  Tambun Selatan.

Sebagai pendamping,  SS  dengan kewenangannya  memegang uang untuk pembangunan Rutilahu tersebut.  Jika satu unit rumah dananya Rp 15 juta, berarti uang yang dipegang SS mencapai  Rp 375 juta.

Sejatinya sesuai aturan yang berlaku,  uang tersebut langsung diberikan kepada warga penerima bantuan. Akan tetapi oleh SS,  penerima bantuan cuma dikasih Rp 200.000,- perorang dan sisanya dia sendiri yang mengatur,  baik untuk membeli matrial maupun untuk membayar tukang bangunan.

Kalau saja kerjaannya sesuai dengan dana yang dikeluarkan sih gak masalah.  Namun lantaran pekerjaan membenah Rutilahu tak sesuai yang diharapkan,  tak sesuai dengan anggaran yang sudah dikeluarkan,  SS pun dilaporkan ke Polres Metro Kabupaten Bekasi karena dicurigai ada indikasi korupsi.

Satreskrim Polrestro Bekasi pun kemudian bersama BPKP ( Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan)  melakukan penyelidikan. Dari hasil penghitungan Tim Penilai Jasa Kontruksi dan BPKP,  dana untuk bedah 25 unit Rutilah tersebut hanya senilai RP. 179.977.767,96 (seratus tujuh puluh sembilan juta sembilan ratus tujuh puluh tujuh ribu tujuh ratus enam puluh tujuh koma sembilan puluh enam rupiah).

Padahal bantuan untuk 25 unit Rutilahu tersebut adalah Rp 375 juta. Jadi uang yang diembat SS mencapai Rp 195 juta lebih.  Lebih besar dari separohnya.

Terkait kasus tersebut,  Kasat Reskrim Polrestro Bekasi Kabupaten,  AKP Dwi Prasetio menegaskan, kalau penyelidikan atas kasus itu sudah P-21 alias sudah lengkap dan sudah siap untuk dilempar ke kejaksaan.

Pelaku, terang AKP Dwi Prasetio, dijerat Pasal 2 & Pasal 3 UU RI No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU RI No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Dasar raja tega lu, duit rakyat miskin lu embat juga. ( agus suzana)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *