oleh

Menelisik Urgensi Menangkap Artis yang Lagi ‘Meong’

POSKOTA.CO – Saya tidak tahu apa urgensinya menangkap dua orang dewasa yang sepakat saling memberikan kesenangan badani. Yang satu menyerahkan tubuhnya yang satunya memberikan imbalan puluhan juta.

Jika ada unsur kemendesakan yang layak dijadikan masalah hukum di situ adalah apakah ada unsur paksaan di baliknya, apakah ada korban “di bawah umur” dan mafia besar yang mengatur itu.

Tapi, kita sama sama tahu, bahwa dalam rangka mengejar target tertentu dan mengalihkan perhatian publik, polisi sering membuat sensasi. Dengan melakukan operasi berdampak publisitas besar. Kerjasama dengan awak media.

Polisi di mana pun tidak berwajah tunggal. Ada “good cop” dan “bad cop” . “Good cop” menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Sedangkan “bad cop” melakukan sebaliknya. Kerusuhan yang melanda Amerika Serikat beberla waktu lalu adalah dampak dari kelakuan “bad cop”.

Dan “bisnis kasus” para oknum sama tuanya dengan usia lembaga polisi itu sendiri. Sejak orde lama. Apa yang terjadi di kota Medan, baru baru ini, merupakan kelanjutan aksi yang sama di Surabaya. Modusnya mudah dibaca. Ini soal “sopan santun” kepada penguasa wilayah saja. Karena “kurang koordinasi”.

BISNIS seks tubuh artis molek tak akan pernah habis dan tuntas. Yang membuat ketersinggungan oknum adalah dampak “perang dagang”, trik antar saingan dan “tidak adanya koordinasi”. Kebetulan saja ada pasalnya yang bisa dipakai sebagai tambahan senjata. Ormas juga melakukannya dengan dalih anti maksiat dan ayat suci.

Politisi pun memanfaatkan pelacuran di hotel untuk publisitas dan menjatuhkan lawan politik sebagaimana di Kota Padang beberapa waktu lalu. Perang Gerindra lawan PKS jelas Pilgub.

Dan kalau pasalnya “pelacuran” bagaimaa dengan oknum polisi sendiri yang “melacur” dan melacurkan pangkatnya, jabatannya, seragamnya ? Jelas yang dirugikan masyarakat luas. Kasat mata juga, kok, itu. Kenapa jadi sok bersih?

Kalau cukong tajir yang proyeknya baru “goal” – merayakan dengan pesta dan bobo bareng artis di hotel bintang lima, siapa yang dirugikan?

Sabagai warganegara yang membayar pajak, saya tidak bangga dengan polisi yang berhasil membongkar sindikat pelacuran artis. Apa istimewanya? Bermodal bisikan germo yang sedang bersaing dagang atau cukong pengguna, tiap hari polisi bisa melakukannya.

Kasihan sekali dengan polisi yang bertaruh nyawa melawan teroris dan penjahat kambuhan. Atau polisi yang giat belajar algoritma menangkap virus jahat dan ujaran kebencian di dunia maya. Atau bapak bapak Polantas di jalan menjaga lalu lintas bermandi matahari dan menghirup udara kotor siang malam.

Apa resikonya menggerebeg pelacur artis di hotel? Tak ada. Apakah ada pasukan bersenjata yang menjaga mereka seperti para bandar heroin? Tak ada. Sebaliknya keuntungan menanti. Publisitas dan “asset” kasat mata dari si artis molek itu – yang sudah pasti jatuh mentalnya. Dan langsung terintimidasi. Siap melakukan apa saja.

Memangnya siapa yang yang tidak tergiur tubuh molek? Kecuali polisi yang terlibat penggerebegan homo semua.

Bisnis pelacuran akan terus berlanjut di Medan, Padang dan Surabaya. Juga kota kota lainnya. Dan selanjutnya berjalan dengan koordinasi berbagai pihak. Saling berbagi keuntungan. Juga kepada oknum aparat atau ormas. Apa yang terjadi di Medan, Padang dan Surabaya itu berlangsung sejak zaman purba. Selanjutnya silakan Anda baca novel “Woman” karya Paul L. Wellman. (supriyanto)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *