TIGA ULAR BERACUN – bagian ke-1 – Poskota.co

TIGA ULAR BERACUN – bagian ke-1

POSKOTA.CO – Menurut Alexandra David-Neel, dalam “Magic and Mystery in Tibet (Keajaiban dan Misteri di Tibet)”, ada sebuah kuil dengan seorang lama. “Lama” bukan berarti biarawan; lama artinya orang yang telah lulus ujian di biara Tibet.

Tapi, semua biarawan harus lulus tingkatan lama ini jika mereka merupakan biarawan terpelajar. Beberapa biarawan pekerja dan semacam biarawan pengawal berbeda. Nah, ada seorang lama yang belajar sangat keras dan bermeditasi.

Dia selalu melakukan retret sendirian dan sangat, sangat giat dalam latihannya. Dia bisa duduk sepanjang hari tanpa bergerak, dsb. Bisakah kalian melakukan itu? Tidak. Saya juga tidak bisa. Saya tidur.

Dia telah berlatih dan bahkan bisa mengendalikan napasnya sehingga napasnya menjadi sangat halus. Orang yang dikatakan telah berhenti bernapas, itu bukan berarti mereka benar-benar berhenti bernapas.

Para yogi ini mengendalikan napas mereka hingga begitu halus sehingga seandainya kalian menaruh sehelai rambut di depan hidung mereka, rambut itu tidak bergerak.

Karena mereka bernapas di bagian dalam, napas menjadi sangat halus. Dalam tradisi Zen Tiongkok, itu disebut “napas kura-kura”, itu sebabnya kura-kura bisa hidup di dalam laut, di dalam air, karena mereka mengubah napas mereka dengan cara berbeda. Dalam yoga, mereka menyebutnya “menghentikan napas”, tapi sesungguhnya tidak. Napasnya sangat halus sehingga seakan-akan tidak bernapas.

Nah, lama ini sudah mencapai tingkatan tidak-bernapas atau napas kura-kura. Orang menjadi kura-kura; kemajuan besar! (Gelak tawa) Kemudian dia ingin belajar selangkah lebih jauh, panas “tummo”.

Panas dari solar plexus di dalam perut digunakan untuk memanaskan tubuh ketika mereka memasuki Pegunungan Himalaya, dan juga ketika cuaca dingin di musim dingin. Mereka tak pernah kedinginan. Mereka tak perlu memakai baju. Mereka hanya menutupi diri mereka dengan sehelai katun tipis atau yang seperti itu.

ilustrasi
ilustrasi

Namun, sang guru di tempat itu tidak menerimanya. Lama itu bermeditasi 20 jam sehari, dia hanya makan sekali sehari, dan dia menaati sila-sila; tapi sang guru tidak menerimanya untuk belajar panas tummo ini.

Lama itu berpikir bahwa meditasinya belum cukup, maka dia menutup diri dan melakukan retret lagi untuk waktu yang lama. Dia bahkan bermeditasi tanpa tidur, tanpa makan.

Dia berpikir, “Oke!” dan dia datang lagi, dan meminta sang guru untuk menerimanya. Semua orang berpikir bahwa dia akan diterima, tapi sang guru tetap tidak menerimanya. Pasti karena sesuatu hal dari dalam, bukan luar. Semua orang berpikir bahwa pasti ada yang salah dengan sang guru. Kenapa dia sangat tidak adil?

Orang-orang berbicara, berbicara, berbicara tentang sang guru yang tak adil itu. Umumnya para guru di Tibet atau India, jika mereka tidak menerima kalian, mereka tidak menerima. Mereka tidak bicara. Mereka tidak menjelaskan; tak perlu untuk itu.

Mereka memiliki cukup kuasa, reputasi, dan hak untuk melakukan itu. Tapi guru ini, mungkin dia rendah hati, mungkin dia baik hati, mungkin dia ingin menghindari gosip tentang ketidakadilannya di kuil itu, maka dia menjelaskan kepada laki-laki itu.

Dia berkata: “Aku pikir kamu belum siap, tapi jika kamu ingin, aku akan memberimu sebuah ujian, oke? Jika kamu lulus ujian ini, maka aku akan menerimamu. Cukup adil ‘kan?”

Namun demikian, ujiannya mudah. Sang guru berkata kepadanya, “Jika kamu bisa bermeditasi, duduk di dalam ruangan ini selama sehari tanpa bergerak, maka aku akan menerimamu.” Oh, itu sangat mudah.

Bagi lama itu, itu seperti permainan anak-anak karena dia telah berlatih setiap hari. Segala sesuatu semata-mata latihan. Bahkan duduk tanpa bergerak, semata-mata latihan.

Seperti misalnya orang di sirkus yang berlatih sampai mereka bisa berjalan di atas tali tipis tanpa terjatuh. Kita bisa melakukan itu dengan latihan. Dia telah berlatih sangat baik, “Oh, hanya bermeditasi sehari, tidak masalah!” pikirnya.

Dia tak berani mengatakan itu secara terbuka, tapi dia merasa sangat bangga di dalam hatinya. Dia langsung menerimanya. Semua orang tahu tentang itu dan berpikir bahwa guru itu pasti bergurau, mencoba mengolok-olok, atau semacam itu.

Jika tidak, mungkin dia bosan di dalam kuil karena tak ada kerjaan, dan berusaha membuat masalah bagi sang murid; karena orang ini, jangankan satu hari, tapi seminggu, tidak perlu bergerak. Tidak masalah, dia telah berlatih lama seperti itu.

Untuk berlatih panas tummo, mula-mula kalian harus bermeditasi dan membersihkan diri kalian. Ada banyak peraturan sebelum sang guru menerima kalian.

Jadi, sebelum kalian ingin belajar panas tummo, kalian berlatih dengan saya untuk duduk dan bermeditasi tanpa bergerak selama sehari, setidaknya. [Gelak tawa] (bersambung). Disampaikan oleh Maha Guru Ching Hai
Austin Center, Amerika Serikat, 27 Agustus 1994 (Asal Bahasa Inggris)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
POSKOTA.CO - Sebanyak delapan Pegawai Negeri Sipil (PNS) menggugat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara terkait aturan mengundurkan diri saat mencalonkan diri sebagai pejabat publik di Mahkamah konstitusi. Kedelapan PNS tersebut: o. Dr Rahman Hadi MSi, o. Dr Genius Umar S Sos MSi, o. Empi Muslion AP SSos MT MSc, o. Rahmat Hollyson Maiza MAP, o. Dr Muhadam Labolo, o. Dr Muhammad Mulyadi AP MSi, o. Sanherif S. o. Hutagaol S.Sos MSi, o. Dr Sri Sundari SH MM, Menurutnya Pasal 119 dan Pasal 123 ayat (3) UU Aparatur Sipil Negara merupakan bentuk perlakuan diskriminatif sekaligus mengamputasi hak konstitusional PNS selaku warga negara. "Memang kami akui bahwa tujuan undang-undang tersebut sangat mulia menjadikan PNS sebagai sosok berintegritas, profesional, bebas KKN, namun yang kami sayangkan adalah adanya ketentuan norma yang diskriminatif menjegal eksistensi PNS untuk berbuat lebih jauh lagi untuk bangsa dan negara ini," salah satu pemohon, Rahman Hadi, saat membacakan permohonannya dalam sidang di MK Jakarta, Senin. Menurut Rahman, UU Aparatur Sipil Negara bertentangan dengan Pasal 27 ayat (1) dan Pasal 28 D ayat (3) UUD 1945. Pasal 27 menyebutkan bahwa segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. Sementara pasal 28D ayat (3) berbunyi setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan. Rahman juga menyoroti ketidakkonsistenan penerapan pasal 119 dan Pasal 123 ayat (3) terhadap Pasal 121 yang menyatakan pegawai Aparatur Sipil Negara dapat menjadi pejabat negara. Sedangkan Pasal 122 menyatakan pejabat negara sebagaimana dimaksud Pasal 121 jika dikaitkan dengan Pasal 123 ayat (1) berbunyi jika pegawai Aparatur Sipil Negara yang diangkat menjadi pejabat negara pada pimpinan dan anggota MK, BPK, KY, KPK, menteri dan dubes, maka pegawai ASN diberhentikan sementara dari jabatannya dan tidak kehilangan status sebagai PNS.