harmono 09/01/2018
Brigjen Pol Chryshnanda Dwi Laksana

POSKOTA.CO – Harapan boleh digantung setinggi langit. Namun, ketika kenyataan berbanding terbalik, tidak dijumpai atau dirasakan seperti yang diharapkan, maka akan terjadi hujat-menghujat, saling menyerang dan menyalahkan, dan menjadi kebencian yang berujung menjadi konflik.

Tatkala membahas polisi di era digital, terjadi banyak perubahaan yang begitu cepat, sehingga dibutuhkan adanya pemolisian yang profesional, cerdas, bermoral dan modern. Idealnya, polisi mampu memberikan pelayanan prima dan sebagai agen perubahan dengan segala inovatif dan kreativitasnya. Namun pada kenyataannya, justru polisi yang sering bermasalah dengan sistem pelayanannya: yang dapat dikatakan konvensional, manual, parsial, dan tertinggal dari perubahan itu. Parahnya lagi, terdapat pelayanannya yang menjadi bulan-bulanan dari perubahan.

Apa yang menjadi penyebab dan apa saja dampaknya? Penyebabnya sangat kompleks, tetapi yang kritikal dapat dicermati, antara lain: (1) birokrasi yang patrimonial; (2) sistem pendekatan personal dalam pembinaan SDM; (3) model pemolisian yang konvensional, manual, parsial, dan bersifat temporary (sementara); (4) tingkat profesionalisme yang rendah; dan (5) pengaruh dari berbagai kelompok status quo, comfort zone (zona nyaman), antiperubahan, yang takut kehilangan privilege-nya.

Model pemolisian kontemporer atau kekinian semestinya sebagai problem solver (pemecah masalah). Namun kenyataannya, pemolisian justru tidak jarang malah menjadi the part of the problem (bagian dari masalah), bahkan dapat menjadi problem maker (pembuat masalah).

Manakala harapan itu tidak sesuai dengan kenyataanya, apa yang terjadi? Pasti berbuah kekecewaan, atau setidaknya ada rasa yang kurang pas di hati, walau tidak diungkapkannya. Rangkaian kekecewaan itu, ketika tidak terobati tetapi semakin ditumpuk dengan berbagai kekecewaan lainnya, maka akan menjadi tumpukan luka batin.

Dalam batin yang sudah terluka, maka pupuslah harapan. Tanpa harapan berarti hilang kepercayaan. Mengembalikan kepercayaan masayarakat kepada polisi bukan perkara mudah, melainkan memerlukan daya-upaya dan membangun sistem. Salah satu solusinya adalah membangun teknologi kepolisian untuk mendukung profesionalisme kepolisian.

Pembangunan teknologi kepolisian dapat digunakan untuk program anti-KKN, reformasi birokrasi, dan berbagai terobosan kreatif dan inovatif. Teknologi kepolisian itu juga menjadi pilar untuk mewujudkan harapan menjadi kenyataan, yaitu: cepat, tepat, akurat, transparan, akuntabel, informatif, dan mudah diakses. (*)

 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*