harmono 10/03/2018
Brigjen Pol Crisnanda Dwi Laksana

POSKOTA.CO – Para stakeholder di bidang lalu lintas angkutan jalan merupakan bagian dari administrasi negara. Pola-pola kerjanya dapat mengacu dari sistem administrasi.

Inti administrasi adalah manajemen, inti manajemen adalah kepemimpinan, inti kepemimpinan adalah pengambilan keputusan, inti pengambilan keputusan adalah human relation.

Lalu lintas merupakan urat nadi kehidupan. Tatkala urat nadi ini tersumbat akibat perlambatan yang tidak tertangani dengan cepat dan tepat berdampak kontra produktif dan menurunnya kualitas hidup masyarakat.

Di era digital konsep kota-kota modern dalam menangani masaah lalu lintas adalah mengacu pada smart city yaitu yang pelayanannya serba prima. Yaitu pelayanan-pelayanan publik yang cepat, tepat, akurat, transparan, akuntabel, informatif dan mudah diakses. Ini semua juga menjadi standar bagi pelayanan di bidang lalu lintas dalam mengatasi kemacetan.

Masalah-masalah penyebab kemacetan memang kompleks. Namun seringkali hanya dilihat dari sisi faktualnya saja. Belum lagi penanganannya masih parsial, konvensional dan manual. Sistem data yang mencakup:
1. Urban movement management ini belum terlihat.
2. Tingkat kepadatan arus lalu lintas tol arteri dan jalur-jalur sekitarnya.
3. Lokasi-lokasi yang menjadi trouble spot mesti dipetakan. Trouble spots dibedakan:
a. Faktor pembangunan yang berdampak berkurangnya kapasitas jalan.
b. Lokasi-lokasi botle neck.
c. Lokasi-lokasi gerbang tol.
d. Situasi kondisi arteri yang menjadi bagian penyebab terjadinya kemacetan.
e. Area parkir atau rest area yang dapat mempengaruhi kemacetan.
f. Perilaku pengemudi saat berkendara.
g. Kecepatan kendaran bermotor terutama angkutan berat yang belum memenuhi standar minimal.
h. Sistem perambuan atau tanda-tanda lain yang kurang atau sudah rusak atau tidak tepat. penempatannya, dan sebagainya.

Penanganan kemacetan polanya dapat mengacu dari sistem administrasi sebagai berikut:
1. Membahas administrasi berarti membahas :
a. Kepeminpinan yang ditunjukkan adanya kebijakan-kebijakan yang transformatif. Visioner, proaktif, problem solving, dan mampu memperbaiki kesalahan masa lalu, siap di masa kini, dan mampu menyiapkan masa depan yang lebih baik.

b. Sumber daya manusia: bagaimana kompetensinya, sistem penempatannya atau penggunaanya, sistem standar keberhasilannya, sistem k3i-nya (komando, pengendalian, komunikasi, koordinasi dan informasi), sistem reward and punishment-nya.

c. Sarana prasarana yang digunakan untuk perorangan, unit maupun kesatuan.

d. Anggarannya.

2. Manajemen bahasanya mencakup: pokok-pokok manajerial yang dijabarkan dalam:
a. Planing.
b. Organizing.
c. Actuating.
d. Controlling.

3. Pada kepemimpinan di sini dijabarkan sesuai dengan struktur organisasi dan bagaimana sistem-sistem k3i dan pengambilan keputusan secara operasional yang dapat ditunjukkan dalam quick response time-nya.

4. Keputusan-keputusan lapangan ini dijabarkan melalui sistem-sistem k3i yang jelas apabila ada masalah secara cepat fungsi-fungsi petugas mengetahui apa dan siapa serta berbuat apa ini bisa terintegrasi. Dalam sistem2 k3i.

5. Poin 1 sampai dengan 4 merupakan sistem-sistem yang saling terkait intinya ada pada sistem k3i yang terintegrasi dalam back office agar implementasinya bisa berjalan sebagaimana semestinya.

Kesemua hal di atas merupakan sistem yang didukung dengan big data. Di era digital berbagai kehidupan sosial kegiatan keduanya saling terhubung secara elektronik. Produksi barang yang boleh dikatakan sebagian besar dikerjakan dengan mesin atau sistem-sistem robotik. Sistem bisnis dan jual-beli dalam pasar yang dikelola secara online. Sistem perbankan dan pengelolaan keuangan secara elektronik. Sistem pengoperasionalan angkutan umum melalui sistem uber, grab dan sistem-sistem online. Sistem kesehatan pun pendeteksian, pengobatan sampai dengan operasi dan transplantasi dilakukan dengan sistem laser dan kamera-kamera tiga dimensi untuk pemantauan dan proses-proses penyembuhanya. Sistem-sistem informasi dan komunikasi yang semakin canggih membuat dunia tanpa batas ruang dan waktu. Sistem-sistem pengawasan, pengendalian dan penegakan hukum pun bisa melalui sistem-sistem sensor atau melalui kamera-kamera pengawas.

Para petugas cyber cops dituntut untk bekerja cerdas dan mampu memberi solusi-solusi prima. Sistem-sistem aplikasi yang terhubung dapat diaplikasikan dan diberdayakan untuk adanya pelayanan-pelayanan prima kepolisian. Sistem peta digital, sistem-sistem data dari manusia, kendaraan bermotor, jalan, situasi alam dan kondisi sosial kemasyarakatan saling terkoneksi akan adanya sistem pantau, informasi komunikasi dan kodal yang terpadu. Sistem-sistem ada pada aplikasi-aplikasi akan mampu beroperasional dengan baik dan benar tatkala di dukung sistem pendataan yang komprehensif/ holistik/sistemik.

Data yang terintegrasi akan mampu menembus sekat ruang waktu dan permasalahan. Solusi-solusi tepat dapat dilihat dari berbagai keterkaitan antara virtual maupun aktual. Sistem inputing data akan menjadi sangat penting untuk mendukung terbangunnya big data. Sistem-sistem inputing data dapat diperoleh dari pengguna secara proaktif, atau melalui sharing data antar back office, juga dari sistem-sistem informadi komunikasi yang diinput melalui cctv, dan jaringan-jaringan lainnya.

Kegunaan big data akan mengembangkan fungsi aplikasi semakun cerdas dalam menganalisa maupun untuk menemukan solusi. Sistem big data memerlukan energi besar untuk menampung dan mengaplikasikan melalui sistem-sistem analisis program. Produk-produk yang dihasilkan mampu memberikan petunjuk untuk prediksi antisipasi dan solusi.

Kompetensi bagi petugas cyber cops salah satunya adalah penginputan, pengkategorian, pemanfaatan dan analisa data. Karena ini akan menjadi kekuatan untuk mampu memberikan pelayanan-pelayanan prima yg real time dan on time dalam one gate service.

One Gate Service
Pelayanan publik merupakan cermin dari peradaban suatu bangsa? Mungkin terlalu lebay. Pelayanan publik refleksi profesionalisme aparatur negara dan wujud kecintaan serta kebanggaannya di dalam membangun peradaban bangsanya. Mungkin ini sedikit lebih mudah dilihat dan dirasakan oleh publik. Tatkala pelayanan publik ini menjadi sesuatu yang membanggakan menjadi core dan ikon suatu institusi tentu akan dilakukan dengan prima dan tulus hati. Namun sebaliknya tatkala pelayanan publik menjadi ajang penyimpangan perebutan kewenangan bahkan kesewenang-wenangan, sebenarnya tinggal menunggu saja kapan ini meledaknya.

Pelayanan publik dapat dikategorikan sebagai berikut:
* Pelayanan administrasi, yaitu pelayanan yang diberikan kepada publik untuk dapat memanfaatkan administrasi baik untuk perizinan, pengkajian, pengawasan, pertanggungjawaban, bahkan untuk mendapatkan fasilitas-fasilitas baik dari pemerintah maupun sektor bisnis.

* Pelayanan hukum, ini merupakan bagian untuk adanya kepastian bagi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan adanya kepastian.
Pelayanan hukum ini akan memberikan jaminan dari berbagai hal yang bisa menjadi penuh ketidakpastian, juga memberikan solusi secara beradab mampu mencegah bila terjadi penyimpangan-penyimpangan. Selain itu juga mencerdaskan kehidupan bangsa, hukum dan penegakannya dilakukan untuk melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat, korban, juga para pencari keadilan.

* Pelayanan keamanan dan keselamatan. Kedua hal ini saling terkait ini akan berkaitan dengan sistem-sistem operasional dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Keamanan dan keselamatan merupakan suatu jaminan yang diberikan untuk memprediksi, mengantisipasi dan memberi solusi dalam kondisi normal maupun kontijensi.

* Pelayanan informasi. Di era digital informasi merupakan suatu sumber kekuatan bagi masyarakatnya. Sehingga kecepatan, keakurasian, dan kemudahan mengaksesnya pun menjadi standar keunggulannya.

* Pelayanan kemanusiaan, merupakan pelayanan sosial agar keteraturan keharmonian dalam kehidupan sosial dapat berjalan dengan sebagaimana semestinya. Pelayanan kemanusiaan sebagai suatu standar prima bagaimana segala sesuatu hal dapat dilakukan secara cepat, tepat, akurat, transparan, akuntabel, informatif, dan mudah mengaksesnya.

Pelayanan publik bisa dikatakan dilayani oleh berbagai institusi. Berbagai spirit menggelorakan untuk sinergi dan berintegrasi, namun faktanya cara-cara konvensional, manual dan parsial terus saja dilakukan. Mengapa demikian terus terjadi? Bisa saja kelompok confort zone, kelompok-kelompok status quo mempertahankan kemapanannya dan kenyamanannya. Enggan untuk melakukan perubahan, atau malah takut kehilangan hak-hak istimewanya? Bisa saja demikian. Namun tatkala core dari pelayanan publik adalah untuk mengangkat harkat manusia dan citra bangsa, maka cara-cara konvensional, parsial dan manual akan diperbaharui dengan sistem-sistem online.

Saatnya kita mengatakan akhir dari sistem birokrasi tidak rasional yang sarat dengan pendekatan-pendekatan personal. Sehingga sulit mengukur standar profesionalismenya baik di dalam birokrasi maupun di dalam masyarakat. Membangun birokrasi yang rasional diperlukan suatu political will yang kuat. Tentu didukung para mitra sebagai bagian dari soft power-nya. Para aparatur negara tanpa dukungan dari luar sulit rasanya memperbaiki birokrasinya. Orang-orang di dalam bisa saja menjadi tempered radical yang berpikir out of the box atau keluar dari mainstream yang ada. Namun jebakan-jebakan labirin birokrasi begitu rumit dan bisa-bisa membuat orang-orang baik atau yang ingin mewaraskan birokrasi terjebak dan dikorbankan.

Dengan kemajuan teknologi, kemitraan dengan para pemangku kepentingan dalam membangun pelayanan dalam one stop service akan semakin mudah dan banyak efisiensi yang bisa dilakukan termasuk menangkal penyimpangan-penyimpangan. Pelayanan-pelayanan publik sekarang ini secara ekstrem saya analogikan seperti pejagalan/tempat pemotongan hewan. Pemotongannya dari ekor. Tatkala dipotong di ekornya rasa sakit akan membuat yang potong berteriak, dan yang memotong pun menghilang dengan potongannya. Demikian selanjutnya memotong kakinya sama juga yang dilakukan sebelum-sebelumnya. Rasa sakit dan penyiksaan inilah yang disukai kaum-kaum mapan dan nyaman.
Tatkala di-online-kan maka sistem-sistem yang di-online-kan secara elektronik melalui back office aplication dan network-nya, maka masyarakat cukup datang ke suatu tempat atau secara online untuk mendapatkan sistem-sistem pelayanan yang dibutuhkan. Yang bisa dikerjakan dengan sistem mengapa harus dilakukan manusia? Pertanyaannya kalau semua online apa gunanya sumber-sumber daya manusia? Ini pertanyaan konyol, namun sering menjadi pembenar untuk berjayanya status quo. SDM ini aset utama bangsa kehebatan manusia ini ada pada pemikirannya, hati nuraninya dan ototnya atau tenaganya. Gerakan-gerakan menuju one stop service dikakukan pada back office melalui aplikasi-aplikasi elektronik yang terhubung satu dengan lainnya. Para pekerja/SDM-nya tentu akan menjadi penghubung, menjembatani untuk adanya solusi-solusi yang profesional, cerdas, bermoral dan modern.

Meningkatnya harkat dan martabat para aparatur negara tatkala birokrasi mampu membangun sistem-sistem pelayanan dalam one gate service dalam sistem-sistem online melalui aplikasi-aplikasi elektronik yang mampu memberikan pelayanan-pelayanan tersebut secara prima. Yang cepat tepat akurat transparan akuntabel informatif dan mudah diakses.

Kesemua itu akan berjalan perlu penggunaan IT for road safety. Langkah-langkah IT for road safety adalah sebagai berikut:
1. Sistem data dibangun yang mencakup:
a. Jalan dan sistem-sistemnya.

b. Kendaraan yang melintas sebagai alat transportasi.

c. Pengguna jalan inilah pentingnya traffic attitude record.

d. Situasi alam lingkungan yang dipetakan dalam kategori black spot dan trouble spot yang bertingkat-tingkat dengan kode-kode angka atau warna sesuai tingkat kerawanannya.

e. Pemetaan masalah atau hal-hal yang menjadi perlambatan atau konflik-konflik sosial.

2. Data-data yang ada di lima poin tersebut dibuat sistem analisa dengan analogi beragam sebagai contoh a+b+c akan ketemu pola pergerakan dan prediksi kepadatan arus sehingga bisa dilakukan sistem antisipasi dan solusinya. Contoh lain a+d+e menjadi sistem peta digital yang bisa menjadi bagian untuk quick response time sehingga peralatan dan kompetensi petugas bisa disiapkan. Contoh lain b+c bisa dibuat sistem pendidikan keselamatan dan sistem uji SIM serta traffic attitude record-nya dan demerit point system. Contoh lain b+e dapat dibuat sistem-sistem angkutan massal dan juga pembatasan atau berbagai pengaturan untuk mengatasi masalah-masalah sosial dan sebagainya.

3. Setiap peralatan teknologi tidak akan berfungsi apabila tidak ada orang-orang yang mengawakinya maka sistem-sistem operasional pengawasan sampai dengan penanganan dan pelayanan prima diperlukan program-program training, master trainer dan trainernya. Juga latihan-latihan problem solving sebagai simulasinya.

4. Sistem operasional penjagaan pengaturan pada situasi normal samapia dengan kontijensi dilakukan secara virtual dan aktual sehingga dapat dilihat apa yang telah, sedang dan akan terjadi dapat diprediksi dan diantisipasi serta solusi prima dari petugas-petugas lapangan. Maka back office akan menjadi bagian penting menggerakan aplikasi dan sistem-sistem elektronik secara online maupun atas petugas-petugas lapangan.

Pada situasi khusus juga bisa memantau atau menjamin keamanan dan keselamatan VVIP atau VIP dengan juga ada jaminan akan kepastian waktu untuk jarak tempuh dan waktu tempuh. Juga jaminan kenyamanan yang dapat diberikan.

Pada situasi kontijensi ada standar-standar waktu solusi akibat bencana alam, kerusakkan infrastruktur maupun adanya tindakan-tindakan kriminal dari yang konvensional sampai dengan terorisme dapat diprediksi dan diantisipasi serta solusinya untuk tetap terjaminnya keamanan dan keselamatan pengguna lalu lintas dan warga sekitarnya.

Sistem operasional menjadi pusat komando, pengendalian, koordinasi, komunikasi dan informasi melalui back office melalui sistem virtual dan aktual secara prima untuk terjaminnya keamanan, keselamatan, keteraturan, kelancaran yang aman, nyaman, selamat dan tepat waktu sampai tujuan.

5. Sistem-sistem pendukung untuk mengatasi poin 1 secara sistematis dan terkoneksi dalam one gate service. Maka big data dan sistem-sistem lainya menjadi sangat penting dan perlunya dibuat modelnya sehingga dapat direncanakan untuk SDM-nya, alat peralatan pendukung (perorangan, unit atau kelompok sampai dengan kesatuan).

6. Hal-hal yang sifatnya emergency atau terjadi kecelakaan maka sistem-sistem quick response time menjadi andalan dan sistem pelaporan data menjadi penting. Sistem TPTKP dan sistem-sistem identifikasi hingga scientific investigation menjadi bagian untuk dasar bagi TAA (Traffic Accident Analysis) bekerja mendukung proses penyidikan/untuk projustitia.

Adapun untuk kepentingan yang lebih luas dalam meningkatkan kualitas keselamatan, menurunkan tingkat fatalitas korban laka dan membangun budaya tertib berlalu lintas agar senantiasa terwujud dan terpeliharanya keamanan, keselamatan dan ketertiban berlalu lintas di sinilah wadah riset kecelakaan dibangun/TARC (Traffic Accident Research Centre).

7. Pelayanan-pelayanan prima ini semua akan di bangun sistem-sistem yang mendasar pada era digital adalah adanya back office, application dan network yang implementasinya terwujud dalam TMC sebagai big system pendukung road safety management yang didukung sistem-sistem:
a. SSC (Safety and Security Centre) mendukung safer road yang berisi sistem-sistem untuk pemetaan black spot dan trouble spot, speed management, traffic count, e-sidik, e-tilang, sistem data laka (IRSMS).

b. ERI (Electronic Registration and Identification kendaraan bermotor) sebagai pendukung saver vehicle yang berisi sistem verifikasi dokumen dan fisik kendaran bermotor (secara fisik kasat mata, transmisi, emisi gas buang sampai dengan nomor rangka dan nomor mesin) pada sistem ERI untuk jaminan legitimasi pengoperasional pada bagian STNK dan TNKB akan dilengkapi dengan obu (on board unit), RFID (Radio Frequency Identification), atau sistem-sistem ANPR (Automatic Number Plates Recognation). Sistem ERI ini akan mendukung forensik kepolisian dan ELE. Juga menjadi dasar program ERP (Electronic Road Pricing), ETC (Electronic Toll Collection), e-parking, e-samsat, e-banking dan Electronic Law Enforcement.

c. SDC (Safety Driving Centre) untuk mendukung program saver road users. Pada sistem ini mencakup sekolah mengemudi, sistem uji SIM dan sistem penerbitan SIM yang dikembangkan dalam TAR ( Traffic Attitude Record/catatan perilaku berlalu lintas) ini bisa untuk pengemudi maupun kendaraan bermotornya yang akan dikaitkan pada sistem demeryt point (ini sebagai pertanggungjawaban baik pengemudi maupun pemilik kendaraan atas kendaraan miliknya yang dioperasionalkan di jalan).

d. Intan (Intellegence Traffic Analysis) mendukung program post crash care. Intan merupakan sistem-sistem gabungan point a, b, c yang terwujud dalam sistem peta digital sistem komunikasi dan solusi yang terkoneksi melalui call and comand centre. Seperti contoh 110 atau nomor-nomor darurat lainya. Intan akan berkaitan dengan pemadam kebakaran, PLN, ambulans 119, rumah sakit, SAR bahkan juga dengan PSC (Public Safety Centre), petugas-petugas pengawalan dan patroli jalan raya (denwal PJR), juga petugas-petugas emergency dari stakeholder lainnya.

8. Poin 1 sampai dengan 7 akan diatur atau diintegrasikan berbasis SOP yang mencakup:
a. Job Description dan Job Analysis masing-masing bagian.
b. Standardisasi keberhasilan tugas.
c. Sistem penilaian kinerja.
d. Sistem reward and punishment.
e. Etika kerja (apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dikerjakan/do and don’t).

Point a sampai dengan e inilah yang tercakup pada smart management.

9. Poin 1 sampai dengan 8 akan diawaki petugas-petugas yang siap 1×24 jam dan tujuh hari seminggu tanpa putus pada cyber cops. Petugas-petugas cyber cops akan bertugas pada back office untuk inputing data, mengalisa dan menghasilkan produk-produk untuk prediksi, antisipasi dan solusi yang dinamis bahkan sell on time dan real time.

Sehingga sistem-sistem penangan angkutan umum secara online, pengaturan, penjagaan bisa mencover seluruh sudut kota, jaminan kamseltibcar lantas dapat dilakukan, penanganan emergency dilakukan, sistem-sistem research pun akan dapat di-back up secara scientific yang tingkat akurasinya tinggi, terbangunya budaya tertib melalui ELE, demeryt point system maupun traffic attitude record nya. Kualitas pengguna jalan meningkat dan sistem-sistem kontrol angkutan umum maupun pribadi bisa terkontrol secara cepat dan tepat. Memback up program-program stakeholder lainya yang berkaitan dengan kriminalitas sampai dengan hal-hal yang bersifat emergency bahkan kontijensi sekalipun.

Smart city bukanlah sebagai tujuan utama melainkan meningkatnya kualitas hidup masyarakatlah tujuannya. Kota yang humanis aman nyaman asri termasuk lalu lintasnya yang aman, selamat, tertib dan lancar. Sejalan dengan hal tersebut program IT for road safety merupakan langkah mendasar untuk memetakan, membuat model, penanganan secara holistik atau sistemik, pendekatan berbasis pada scientific dan teknologi, terbangunnya big data dalam back office yang diinput melalui berbagai aplikasi dan juga akan dikaji melalui riset secara ilmiah. Hal-hal yang dilakukan inputing data adalah membuat kategori mengidentifikasi akar masalah penyebab dari setiap permasalahan terkait road safety.

1. Tahapan Identifikasi akar masalah penyebab sebagai berikut:
a. Merumuskan model automatisasi system inputing data yang diperoleh dari berbagai sumber (laka, langgar, traffic attitude record, jalan, kendaraan, alam, lingkungan dan masalah sosial kemasyarakatan dan penyebab lain yang mungkin menjadi menjadi penyebab). Semakin banyak sumber data masuk, semakin akurat dalam hal hasil analysis.

b. Accident Data Analysis, adalah proses pendalaman data data terhimpun menuju kesimpulan terkait penyebab. Hipotesa yang dihasilkan dari Accident Data Analysis, perlu diuji melalui research.

c. Traffic Accident Research, merupakan proses pengujian kebenaran dari hipotesa yang dihasilkan dari data analisis. TARC merekonstruksi hipotesa dan TAA dalam sebuah skenario uji teknis.

d. TARC, menghasilkan kesimpulan tentang penyebab dan membangun rumusan strategi pemecahan dalam ruang lingkup:
1. Edukasi/pencerahan.
2. Law Enforcement.
3. Standard Procedur Penyelesaian (Preventif & post crash).

2. Implementasi strategi (Edukasi atau Law Enforcement). Strategi yang diterapkan berdasar cakupan masalah yang dihadapi (relatif). Landasan yang dipakai adalah hasil dari TARC. Yang juga dikaitkan pada sistem uji SIM dan pola penindakan pelanggaran penyebab fatalitas korban laka (helmet, speed, drink driving, seat belt, child restrain, penggunaan HP saat berkendara, melawan arus)

3. Kapasitas tim: adalah penting untuk menguasai dan memahami kemampuan internal guna mendapatkan informasi rasio perbandingan besaran masalah versus tim yang menangani.
Kapasitas Team ini juga termasuk dalam kemampuan terkait penggunaan alat bantu (Information Technology). Selain dari standar kemampuan dan pengetahuan tentang road safety dan core bussines proses. Implementasi IT dalam setiap pos penyelesaian maslah road safety melalui smart management dengan catatan core business prosesnya jelas, alurnya nyambung dan logis sebagai kontruksi dan rekonstruksi secara konseptual maupun implementasinya sehingga dapat ditemukan model dan pola-polanya.

4. Sistem-sistem inputing data terintegrasi dgn Satu basis data (Output dari TARC), IRSMS, traffic attitude record, ERI, SSC dan SDC. Data laka menjadi fokus perhatian akan dikembangkan kajianya melalui TARC untuk dapat mengumpulkan dari berbagai sumber yang salah satunya laka, data TAA dan sumber eksternal, selanjutnya melakukan proses pengkajian dan pengujian dengan melibatkan berbagai disiplin pengetahuan. Sehingga hasil dari TARC tingkat akurasinya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah maupun secara hukum dan fungsional kepolisian. (*)

 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

BREAKING NEWS :