SI VIS PACEM PARA BELLUM: DIPLOMASI YANG MENGINSPIRASI


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

KALAU ingin berdamai harus siap untuk berperang “si vis pacem para bellum”, kira-kira demikianlah makna dari hubungan politik dan diplomasi antarnegara. Mungkin kita mengernyitkan dahi sesaat membaca kalimat di atas. Apakah perang menjadi yang utama dan diutamakan? Tentu saja tidak. Memahami siap berperang adalah memiliki keunggulan. Apa yang akan diunggulkan? Sumber daya manusiakah? Teknologikah? Seni budayakah? Kekuatan militerkah? Ide-ide cerdas lainnyakah? Banyak hal bisa untuk dijadikan modal diplomasi atau melakukan hubungan antarnegara.

Diplomasi yang baik dan kuat tentu bukan sebatas rapat membahas banyak hal tanpa eksekusi. Juga bukan sebatas kerja sama untuk sekadar membeli dan transfer teknologi. Kekuatan dari suatu bangsa di dalam menjaga kedaulatan menumbuhkembangkan bangsanya maju, salah satunya adalah hubungan diplomasi. Diplomasi yang baik adalah saling memguntungkan, ada timbal balik yang sederajat bila memiliki kekuatan. Kalau kekuatan tidak seimbang maka hubungan itu bisa saja jomplang atau tanpa sadar terjadi penjajahan dari berbagai segi kehidupan walaupun bukan secara fisik. Penjajahan secara kebijakan pun bisa mempengaruhi sistem tata kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tidak dapat dipungkiri bahwa teknologi dan ilmu pengetahuan merupakan inti kekuatan dari sistem diplomasi politik walaupun militer atau angkatan perang juga menjadi pertimbangan. Hubungan politik suatu negara bukan ditentukan dari besarnya wilayah, namun dari sistem tata kelola suatu negara yang dipandang mampu membawa manfaat bagi daya tahan dan daya saing untuk menyejahterakan rakyatnya. Hubungan politik seringkali sebatas seremonial membuat berbagai MoU, dan parahnya lagi malah sebatas membuka kran pasar dagang di dalam negeri tanpa mampu membuka ekspor luar negeri.

Kekuatan bangsa Indonesia pada seni budaya kebhinekaan yang seringkali dilemahkan tidak memdapat tepat selayaknya. Fakta dari berbagai konflik primordial yang sering terjadi. Berbagai daerah-daerah yang unik alam seni budayanya justru diangkat dan ditemukan dan diglobalkan oleh orang asing. Sistem birokrasi yang patrimonial dan cenderung korup menjadi biang keladi lemahnya berbagai lini kehidupan. Belum lagi sistem politik uang dan pendekatan-pendekatan sekadar keterpilihan. Kompetensi track record seolah menjadi sampah atau barang yang tiada guna. Politik loyal personal menjadikan sistem politik yang tidak memiliki daya saing atau datar-datar saja.

Diplomasi yang menginspirasi adalah, diplomasi yang mampu menemukan peluang sisi-sisi keunggulan bangsa untuk dijadikan jembatan politik. Politik memang ujung muara dari berbagai gatra atau sisi atau lini kehidupan berbangsa dan bernegara. Kalimat “si vis pacem para bellum” akan menjadi kekuatan dan inspirasi bagi diplomasi yang memginspirasi. Kekuatan seni budaya kebhinekaan dan pariwisata merupakan anugerah bagi bangsa kita untuk dijadikan kemasan diplomasi. Ikon peradaban inilah yang menjadi kekuatan bangsa di era modern. Memang teknologi terus akan merajai. Sistem tata kelola boleh saja online, namun untuk memcicipi keindahan kenikmatannya tetap harus datang sendiri.

Kekuatan daya saing, daya tahan adalah pada kebhinekaan yang dikemas dalam multikulturalisme. Indonesia adalah anugerah alam seni budaya masyarakatnya yang memiliki keunikan keunggulan, yang mampu menandingi negara mana pun. Seni budaya Indonesia dapat menjadi inspirasi dunia dalam membangun peradaban yang damai dan menyejahterakan. Seni budaya dapat menjadi new icon bagi dunia politik yang menginspirasi dan menjadikan bangsa berdaya tahan dan berdaya saing. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *