harmono 21/09/2017

 

Brigjen Pol Crisnanda Dwi Laksana

POSKOTA.CO – Seni sering dimaknai rumit dengan banyak konsep dan batasan-batasannya. Saking rumit memikirnya malah lupa atau bahkan takut untuk berkarya. Seni pun dikastakan, kelas jalanan, kelas gedongan bahkan kelas kolektor.

Para pengamat seringkali malah membuat pening dan pusing yang tidak memberi solusi, malah hanya nyelathu dan tak jarang membuat seniman-seniman minder. Kaum seni yang borjuis kadang merasa pemegang kunci pasar, dan yang dibilang seni adalah yang laku dijual dengan harga tinggi.

Ketika melihat kondisi seperti ini, kok jadi teringat kata-kata Jack Ma yang kira-kira intinya demikian; “Ketika kamu masih miskin dan belum terkenal (dianggap sukses), kata-kata mutiaramu bagai kentut. Ketika kamu kaya dan terkenal (dianggap sukses), kentutmu membuat bahagia dan menginspirasi”. Apa yg dikatakan Jack Ma benar dan diyakini kaum-kaun yang belum terkenal atau masih marjinal.

Berkarya sebaik apa pun dianggap ya lumayan, cukup bahkan sama kaum borju mafia pasar seni dikatakan sampah, bahkan diambus pun tidak. Sebaliknya bagi yang sudah terkenal, ngawur-ngawur sekalipun tetap disunggi-sunggi, bahkan dipuja sebagai sesuatu yang bernilai tinggi.

Para kurator yang sudah kondang kadang terus ikut berkarya walau juga ngawur, tapi awur-awurannya pun tetap dianggap harum. Dan nyebel-nyebelinnya kadang malah mematikan kreativitas dengan kritik-kritik yang sebenarnya antara omongan dan karyanya tidak sesuai. Tapi apa mau dikata, di dunia ini memang harus ada kastanya.

Bagi pemula atau yang masuk rimba seni pun akan dihadapkan kekecewaan-kekecewaan dan ketidakadilan. Itulah proses tantangan bahkan perjuangan. Siapa bertahan kuat tegar akan menjadi pemenang dan memegang tahta di kastanya walau si seniman sudah di alam baka. Gelo memang tibo mburi.

Seni tak perlu berpikir panjang, ya lakukan dan rasakan dengan hati kalau sreg dan bikin happy lakukan saja. Biarkan semua menggonggong dengan celathu-celathunya toh mereka akan lelah sendiri. Karena gonggongan-gonggongan itu akan semakin meyakinkan kita bahwa seni juga milik kaum marjinal, dan bukan disekat milik mereka yang banyak baca buku dan tahu tentang filsafat seni.

Seni itu milik semua manusia, walaupun sang pencipta dan pemiliknya kadang lupa dan sungguh-sungguh tidak menyadari. Di sinilah peran para kurator pengamat cerdik pandai di bidang seni mampu menemukan seniman-seniman baru. Karya-karya sederhana dijadikan suatu momentum bagi khasanah seni yang tidak terduga dan sungguh-sungguh memanusiakan manusia.

Buku Cikar Bobrok karya Romo Sindu salah satunya mengangkat seniman-seniman yang sederhana dan jauh dari kata terkenal. Namun di situlah ditemukan seni sesungguhnya. Apa yang dilakukan bentara budaya Yogyakarta juga begitu luar biasa. Kembali mengangkat citra karya seni yang jauh dari kelas kaum kaya dan terkenal, namun menunjukkan seni itu yang penting happy.

Mas Mundari dari gresik dengan karya Damar Kurung-nya. Citro Waluyo dengan gambar-gambar mistis cerita-cerita Jawa. Sulasno pelukis kaca Putri Cempo, dan banyak lagi dari pendongeng, dalang, sampai pengamen seperti sujud kendang pun mampu membuat happy. Seni tanda manusia masih ada dan mampu menggerakkan hati nurani untuk semakin manusiawinya manusia. (*)

 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

BREAKING NEWS :