SENI MEMBUKA HATI DAN PIKIRAN UNTUK TIDAK MENJADI SUMBU PENDEK – Poskota.co

SENI MEMBUKA HATI DAN PIKIRAN UNTUK TIDAK MENJADI SUMBU PENDEK

 

Brigjen Pol Crisnanda Dwi Laksana

POSKOTA.CO – Seringkali kita melihat orang marah mengatasnamakan Tuhan, kesucian, surga namun dengan merusak. Menghakimi, menyerang melukai bahkan membunuh. Pembelaan-pembelaan dilakukan atas dasar yang diyakini dan diteriakkan dengan atas nama untuk adu otot atau kekuatan fisik. Serang ganti serang bunuh ganti bunuh. Solidaritas pamrih. Apalagi disusupi kepentingan untuk berkuasa. Ini sangat menghina kemanusiaan. Mengapa demikian? Karena membodoh-bodohi banyak pihak dan memamerkan ketololan dengan melakukan gerakan-gerakan untuk mempermalukan dan menyerang demi kepentingan-kepentingan di balik selimut.

Pembodohan inilah yang mempermalukan dan merendahkan harkat dan martabat manusia, masyarakat bahkan bangsa dan negara. Ketidakmampuan menggunakan logika akal budi dan hati nurani membuat orang asal jeplak berteriak. Mengapa tidak merasa malu dengan tindakan-tindakan tidak rasionalnya? Entah tidak tahu, entah tidak mau tahu, entah demi sesuatu yang cepat dan dianggap mujarab.

Setelah rusak, setelah ada kehancuran puas, dan melapor untuk mendapat label suci surga paling di muka. Dipamer-pamerkan di semua lini, mengaku dirinya telah membuat suci walaupun tidak manusiawi dan dengan cara-cara yang jauh dari suatu sebutan beradab. Sangat mengerikan ketika manusia sudah merasa siap mengamankan surga atau membuat surga di dunia. Semar saja membangun khayangan bukan surga dunia. Ini cerita wayang yang menunjukkan suatu refleksi kehidupan.

Seni mengasah hati nurani untuk semakin manusiawinya manusia? Jawaban singkatnya iya. Seni itu berupaya membuat harmoni, membuat asri, menjadi wadah ungkapan hati, tentu dalam karya yang tidak harus indah, namun yang jelas tidak melakukan sesuatu yang disebut merusak peradaban. Adakah seni biadab yang diakui dan diyakini sebagai seni dengan pikiran perkataan dan perbuatan yang antimanusiawi? Bila ada yang menjawab, ini mungkin masih dalam golongan prasejarah atau golongan-golongan barbar.

Tatkala di era digital teriakan-teriakan pembohongan dan taburan kebencian apakah layak dianggap suatu pembangunan peradaban? Tentu saja tidak. Mengapa masih terjadi orang-orang yang memimpin benarkah sebagai ikon kesucian, ikon peradaban? Seni tatkala menjadi bagian nafas kehidupan manusia yang terus ditumbuhkembangkan tanpa sadar ikut mencerdaskan dan semakin mengikis keterbelakangan dan berani keluar dr tempurung pembodohan. Seni melepaskan kungkungan moralitas kata nietzche.

Nalar ajar terusan budi motto dari CSIS. Seni membuka nalar utuk diajarkan sebagai refleksi manusia yang berbudi. Seni mendalami suatu apresiasi kecerdasan untuk semakin manusiawinya manusia. Seni memberi pencerahan sebagai fajar budi yang terus menyingsing menyinari kegelapan kebodohan.

Seni membuka tabir adu domba dan kesesatan, dan seni menjadi bagian dari mencerdaskan manusia terlepas dari tempurung ketololan. Bodo panganane wong pinter. Bila suatu bangsa terus bodoh maka akan dijajah dan diadu domba dengan atas nama ini-itu. Dan inilah watak bakung kere. Susah melihat orang senang dan senang melihat orang susah. Seni akan membuka tabir merontokkan kaum-kaum balung kere yang tidak mencintai dan bangga akan bangsanya. (*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_3182" align="alignnone" width="300"] ilustrasi[/caption] POSKOTA.CO- Hukuman mati yang disandang Silvester Obiekwe alias Mustofa,50, Warga Negara Nigeria tidak membuatnya sadar. Justru Silvester Obiekwe alias Mustofa kembali menjalankan bisnis haramnya. Ulah si hitam itu akhirnya dibongkar aparat Badan Narkotika Nasional (BNN), dari dalam Lembaga Pemasyarakatan(Lapas) Pasir Putih, Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Aksi Obiekwe dibantu oleh teman satu selnya bernama Andi,32.” Dia mengendalikan bisnis narkobanya dari balik jeruji besi. Meski sudah divonis mati tidak membuatnya jera,” kata Kepala BNN Komjen Anang Iskandar, Jumat(30/1). Anang menjelaskan, kasus tersebut terungkap setelah petugas BNN menerima inpormasi intelijen, yang menyebutkan bisnis narkoba asal Goangzu, Tiongkok dikendalikan oleh Silvester Obiekwe alias Mustofa, yang mendekam di Lapas Nusakambangan. Berkat informasi itu, kata Anang, petugas melakukan penyelidikan dan menangkap tersangka Dewi disebuah parkiran hotel Gunung Sahari, Jakarta Pusat, pada pukul 22.30 WIB. Dari tangan Dewi petugas menyita barang bukti berupa 1.794 gran shabu. "Kami lakukan pengembangan ke kontrakan di kawasan Kemayoran dan kembali menemukan barang bukti sabu 5.828 gram. Disembunyikan di dalam kardus. Sabu tersebut dikemas dalam 56 pastik berukuran sedang. Jadi total sabunya 7.622 gram," ungkap mantan Deputy Pencegahaan BNN ini. (sapuji)