Djoko Waluyo 14/09/2015

wita baliPOSKOTA.CO – Suatu hari Bhikshuni Wu Jin Cang menemui Master Hui Neng, sesepuh ke 6 dari aliran Chan di China, untuk bertanya tentang Mahaparinirvana Sutra yang belum juga dapat dimengerti walaupun telah dipelajarinya selama bertahun-tahun. Katanya, “Guru, saya tidak mengerti dengan sutra di halaman sekian.” Lalu Master Hui Neng berkata, “Bacakanlah untukku.”

Bhikshuni bertanya, “Bukankah guru seharusnya sudah hafal isi kitab ini di luar kepala? Jangan-jangan guru…”

Master Hui Neng menjawab, ” Benar sekali muridku, aku buta huruf sejak kecil. Jadi tidak mungkin bagiku untuk membaca isi sebuah kitab.”

Bhikshuni Wu Jin Cang sangat terkejut saat mengetahui bahwa Master Hui Neng buta huruf. Ia merasa heran bagaimana Beliau dapat memahami kebenaran padahal tidak mampu membaca.
Lalu ia bertanya dengan gusar, “Jadi selama ini aku diajar oleh orang yang tidak bisa membaca dan menulis? Percuma aku belajar Chan darimu, tidak ada gunanya!”

Master Hui Neng menjawabnya dengan tenang, “Muridku, tenanglah. Kau tahu apa ini?”, katanya sambil mengangkat telunjuknya.
Si murid menjawab, “Itu adalah jari telunjukmu.”
Master Hui Neng menunjuk bulan sambil bertanya, “Kalau itu apa?”
Jawab si murid, “Itu adalah bulan.”
Master Hui Neng berkata lagi, “Kalau tidak kutunjuk dengan telunjukku, apakah kau bisa melihat bulan?”
Si murid merasa bingung.
Lanjut Hui Neng, “Telunjuk adalah diibaratkan sebuah kitab dan semua ajaran di dunia. Rembulan adalah kebenaran mulia. Muridku, aku sudah bisa melihat rembulan tanpa bantuan telunjuk, bagaimana denganmu?”
Si murid menjadi tersadar dan memohon maaf.

Sebenarnya kalimat yang diucapkan oleh Master Hui Neng ini sangat menarik dan memiliki makna yang sangat dalam.bulan
Telunjuk dapat diibaratkan sebagai kitab suci yang kita baca atau pun segala kata-kata yang kita dengar. Bulan adalah ibarat kebenaran mulia itu sendiri.

Jari dapat menunjuk bulan dapat kita artikan sebagai kitab suci yang dapat menunjukkan arah kepada kebenaran mulia dengan baik. Tapi, jangan lalu kita bersandar pada keyakinan bahwa kitab suci adalah kebenaran itu sendiri. Kebenaran adalah kebenaran. Kitab suci adalah kitab suci. Kata-kata adalah kata-kata.

Fanatisme seringkali tidak membawa kepada kemajuan bahkan menyebabkan kemunduran batin.
Apa yang kita pikir benar, mungkin karena kita dengar dari orang yang kita anggap pasti benar, menjadi sesuatu yang kita pegang erat tanpa coba kita renungkan dan buktikan.

Jari memang dapat menunjuk bulan. Tapi bila mata kita sendiri yang salah melihat dan pikiran kita salah menafsirkan, jari menjadi kehilangan arti. Alih-alih menunjukan bulan kepada kita, bahkan langit indah yang penuh bintang pun mungkin tidak bisa kita lihat.

Dan saat kebenaran sudah benar-benar dimengerti, maka kata-kata dan kitab suci sudah kehilangan arti. Kata-kata dan kitab suci sudah menyelesaikan tugasnya. Yang kita lihat hanya kebenaran mulia itu sendiri.

Seseorang yang sudah melihat kebenaran itu tidak membutuhkan jari lagi. Ia sudah menikmati indahnya bulan. (Setiawan Pryana)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

BREAKING NEWS :