Djoko Waluyo 17/06/2016
Letkol Inf Purnomosidi
Letkol Inf Purnomosidi

POSKOTA.CO – Tidak ada yang berduka dengan datangnya Ramadhan kecuali memang bagi sebagian anak-anak kecil kita yang terancam mulai esok pagi karena sudah tidak bisa menikmati jajanan makanan, meskipun saat memasuki buka puasa, kompensasi kegembiraannya menghapuskan kesedihannya karena menahan lapar.

Tuntunan dan ajaran dalam agama menganjurkan berpuasa agar kita bisa merasakan penderitaan orang miskin dan meningkatkan ibadah serta iman dan takwa kita, karena Tuhan akan melipat gandakan pahala ibadah kita di bulan Ramadhan ini.

Bertolak dari itu, tentunya bisa kita lebarkan ke wilayah lain semacam puasa ramadhan yang saat ini kita jalani dengan membuka pintu pemahaman yang lebih luas dan aplikatif, apakah puasa itu hanya untuk menahan lapar dan dahaga saja ?

Apakah puasa itu hanya untuk menahan nafsu untuk tidak bersenggama di siang hari ? apakah puasa itu hanya untuk merasakan penderitaan orang miskin saja ? apakah tidak ada nilai lain yang terkandung dalam puasa yang lebih luas yang bisa kita gali bersama ?

Semua jawaban ada didalam individu masing-masing, tergantung bagaimana cara ia memahami ibadah puasa ,atau bagaimana ia menyimpulkan hasil dari ia melakukan ibadah puasa, tanpa harus menyeret individualis ke ranah privasi orang lain.

Di Palestina, tepatnya di Kota Ramalah, di tahun 1999, 3 komunitas agama terbesar yang ada di kota tersebut secara bersamaan melakukan ibadah puasa, dengan aturan dan tuntunan sesuai keyakinan masing-masing.

Suatu peristiwa yang perlu dicermati, terlepas konflik yang terjadi di kawasan timur tengah tersebut, yaitu semangat persatuan dan kesatuan diantara segala perbedaan.

BELUM TENTU ISLAM

Sedikit mengutip kata-kata tokoh nasionalis Palestina, Yasser Arafat pada tanggal 9 Desember 1999 atau 1420 H, jelang awal Ramadhan berlangsung :

عرب هو غير مسلم بالضرورة، إسرائيل ليست يهودية بالضرورة، أوروبا المسيحية ليس بالضرورة، ولكن فلسطين فلسطيني، والفلسطينيون هم من المسلمين واليهود والمسيحيين

“Arab belum tentu Islam, Israel belum tentu Yahudi, Eropa belum tentu Kristen, tetapi Palestina adalah orang Palestina, dan orang Palestina adalah Islam, Yahudi ,Kristen”.

3 ibadah puasa dijalankan bersama dari 3 agama yang berbeda, justru menjadi titik tolak dari kecenderungan media saat itu, yang lebih menyorot persoalan agama menjadi alasan, padahal, konflik yang berkepanjangan di kawasan tersebut, lebih dari persoalan politik semata.

Yang paling menarik, disaat umat Islam melakukan shalat Idul Fitri, dengan menenteng senjata, Garda Yerusalem Timur, yang notabene 100% beragama Kristen, menjaga teritorial kawasan tersebut dari aksi kelompok ekstrem (sayap kiri) dan masuknya militer Israel.

Demikian juga sebaliknya, ketika umat Kristen memperingati Natal di Kota Betlehem, Garda Yerusalem Barat, yang notabene 100% beragama Yahudi, mengawal jalannya perayaan Natal di kota tersebut, dengan senjata lengkap.

Dan Gereja Orthodox terbesar di Palestina, St. Marie (sebelum dihancurkan oleh rudal Israel di tahun 2004), menjadi kunjungan dari seorang Yasser Arafat, tanpa absen sama sekali, bahkan ketika mendapat undangan kehormatan dari Presiden Perancis Jacques Chirac di tahun 2001, ia menolak dan lebih memilih duduk bersama dengan warga Palestina yang sedang memperingati Natal.

HEBAT

Bangsa Indonesia merupakan bangsa hebat yang memiliki berbagai macam keanekaragaman suku, bahasa, budaya, agama dan adat istiadat, dan dari segala macam perbedaan itu kita sebagai bangsa Indonesia patutnya bangga, dimana jika kita lihat dari keberagaman tersebut tersimpan suatu makna keindahan yang tidak dimiliki bangsa-bangsa besar lainnya.

Pancasila adalah pandangan hidup bangsa Indonesia, dimana isinya mengandung arti ketuhanan, kemanusian, persatuan, kerakyatan dan keadilan, dan dari makna-makna tersebut diharapkan dalam hati sanubari seluruh rakyat Indonesia tersimpan rasa kesatuan yang kuat dalam menjaga dan membangun negara serta terus melestarikan keanekaragaman budaya.

Untuk tercapainya tujuan-tujuan mulia yang telah dicita-citakan bersama maka kita harus menanamkan rasa nasionalis yang kuat dalam diri kita, serta hilangkan segala rasa perbedaan dan banggakanlah atas keanekaragaman yang telah dianugerahkan pada kita. Oleh : Letkol Inf Purnomosidi (Dandim 0809/Kediri)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*