Djoko Waluyo 26/07/2015

POSKOTA.CO – Jadi, kalian paham, ya kan? Jangan datang ke saya dan bertanya, “Bisakah saya menjadi Buddha malam ini atau dalam waktu seminggu?” Meski pencerahan seketika bisa didapatkan, tapi perlu waktu bagi kalian untuk mengasimilasikan dengan kebijaksanaan kalian sendiri yang sudah lama dilupakan.ch2

Jadi, perlu waktu lama bagi kalian untuk ingat kembali, karena dosis besar kebijaksanaan akan membunuh kalian seperti halnya dosis besar vitamin atau dosis protein atau makanan bergizi apa pun yang kuat akan membunuh bayi, iya kan? Jadi, mereka perlu waktu untuk makan makanan itu dan tumbuh besar.

Segala sesuatu perlu waktu. Sama halnya dengan kita. Kita mendengar bahwa Sang Buddha duduk di bawah pohon bodhi selama enam tahun dan menjadi Buddha. Jadi, jika kalian ingin, kalian bisa coba. Kita punya banyak pohon bodhi di sini (Hadirin tertawa) dan semuanya gratis.

Jika kalian ingin, kalian bisa duduk di sana dan kami bawakan makanan setiap hari untuk kalian, dengan tangan terlipat. Ada yang ingin duduk di bawah pohon bodhi selama enam tahun? Ya? Itu pekerjaan yang sangat mudah, hanya duduk di sana dan tidak berbuat apa-apa (Guru dan semua tertawa).

Tidak perlu menanam rumput atau apa pun (Semua tertawa). Tanpa rock’ & roll’ *(Guru dan semua tertawa). Siapa di sini yang ingin mendaftarkan diri? Yah, enam tahun adalah waktu yang sangat singkat.CH

Bukannya enam tahun atau enam bulan. Itu banyak, banyak masa kehidupan bekerja keras. Dan mungkin, ini adalah yang terakhir kali, jika kalian berhasil. Jika kalian inginkan, kalian bisa melakukannya kali ini. Jika kalian tidak inginkan, oke saja. Kalian bisa datang kembali (Guru tertawa).

Duduk di bawah pohon bodhi enam tahun lagi. Setiap orang punya kesempatan untuk kembali ke Kerajaan Tuhan yang gilang-gemilang, tapi setiap orang harus menjalani sendiri, meski dengan berkah Guru. Harus menjalani sendiri. Hanya saat kalian jatuh dan kalian dalam masalah, maka Guru akan urus.

Jika tidak, harus berjalan. Orangtua tak bisa berjalan bagi anak-anaknya, bukankah begitu? Meski kita mencintai mereka, mereka harus berjalan sendiri; dan mereka belajar dari kesalahan-kesalahan, mereka terguling dan mereka jatuh dan kemudian mereka berjalan lagi, sampai mereka bisa berlari.

Jadi, sama halnya dengan masing-masing kita. Saya menjalani jalan saya, kalian menjalani jalan kalian. Saya berjalan sebelumnya, saya datang kembali dan membawa kalian, jadi saya tahu jalan yang lebih baik, itu saja. Jadi, kalian harus berjalan, oke? Saya bersiaga dan kalian berjalan. (Guru dan semua tertawa. Hadirin bertepuk tangan)

Sumber:
http://www.godsdirectcontact.org.tw/eng/news/50/0d.html

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*