PENDEKATAN UANG ANTARA PEMBODOHAN DAN PENGKHIANATAN: “UANG TIDAK PENTING TETAPI POKOK”


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

UNGKAPAN konyol tentang materi khususnya uang memang merasuk di semua lini. No money no honey. Tidak elok membicarakan uang namun tidak ada yang elok tanpa uang. Uang seolah segalanya, dan seolah segalanya bisa dibeli dengan uang. Pendekatan apa saja tatkala uang yang diutamakan maka akan mengabaikan prestasi, kompetensi, kejujuran, kebenaran hingga keadilan.

Prestasi dalam pendidikan pun akan terjadi manipulasi siapa yang sanggup membayar sana-sini dialah yang terbaik dan dianggap berprestasi. Rasa keadilan pun akan hilang, jangan-jangan kemanusiaan pun terabaikan. Pendekatan dengan uang dapat dipastikan akan bersekutu dengan kejahatan cara-cara memperolehnya atau paling tidak membiarkan adanya perkeliruan.

Bisa dibayangkan tatkala pelayanan publik pendekatannya uang, tentu tiada ketulusan bahkan matinya keutamaan. Seringkali nilai-nilai yang hakiki abai atau tergerus oleh rasa utang budi atau sungkan. Uang akan membelenggu kewarasan, bahkan hilang kesadaran untuk hidup sehat. Pendekatan dengan uang akan melahirkan perilaku korup. Mematikan sistem dan membuka peluang dan kesempatan. Kebijakan-kebijakan publiknya tidak lagi membela kepentingan rakyat, melainkan maju tak gentar membela yang mau dan mampu membayar.

Dalam cerita Hans Christian Anderson, raja gila pakaian bida menjadi analogi bagi pendekatan uang. Gaya hidup menjadi konsumtif, pembodohan ada di mana-mana, uang menjadi dewa dan sumber kuasa. Harga diri dimatikan demi uang. Premanisme merajalela karena hukum bisa dibeli. Pencerahan dan transformasi dalam ilmu pengetahuan tiada lagi. Mata hati tak lagi melihat orang yang berprestasi, yang dilihat siapa yang berani membayarnya. Buluh bekti glondong pangareng areng menjadi keunggulannya. Semua dilabel wani piro oleh piro. Nepotisme kolusi bahkan hingga korupsi merajalela bukan lagi organized crime, bahkan sudah menjadi crime in organization.

Bisa dibayangkan bila dalam politik yang berkuasa uang atau menjadi politik uang tentu kebijakan-kebijakan atau aturan-aturan semua menajdi sarat kepentingan. Adakah spirit konstitusi dapat diwujudkan untuk melindungi segenap tumpah darah bangsanya? Tentu saja tidak. Kekayaan alam atau apa saja yang bida dijual, maka akan dijualnya. Impor besar-besaran yang bida jadi mematikan usaha rakyatnya. Mampukah menyejahterakan rakyatnya? Yang ada kroni kliknya saja yang sejahtera. Tiadanya pembelaan atau perjuangan bagi bangsanya terutama kaum marjinal. Hilangnya patriotisme dan menghalalkan segala cara untuk mempertahankan previledge-nya. Mampukah mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara? Justru sebaliknya, pembodohan di mana-mana. Pendidikan bukan lagi kebanggaan, melainkan sebatas status saja, atau gilanya lagi untuk standar memperoleh jabatan. Bagaimana mencerdaskan kalau pendidikan pun sarat dengan tipuan dan digunakan sebagai sarana mencari pesugihan.

Mampukah untuk menjaga ketertiban dunia? Kalau semua pendekatannya hanya uang, maka oleh bangsa lain tidak lagi dianggap berkarakter. Mereka melabel sebagai bangsa yang korup, yang sulit untuk mendapatkan kepercayaan dunia.

Pendekatan dengan uang pun akan mendukung cara-cara post truth melalui hoaks bagi siapa saja yang mengkritisinya. Apalagi yang dianggap mengusik kenyamanannya akan dimatikan karier bahkan hidup dan kehidupannya. Di zaman yang edan, siapa yang tidak ikut edan tidak kebagian. Namun tiada orang edan yang mempunyai keutamaan karena mereka hanyalah kelas pecundang yang akan digilas zaman. Hanya yang mampu eling lan waspodolah dan tetap menjaga kewarasan yang akan selamat dan mampu mengatasi serta mengarungi zaman. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *