harmono 22/04/2019


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

DARI rakyat untuk rakyat dan oleh rakyat. Semboyan klasik demokrasi yang sangat termashur sebagai refleksi kedaulatan ada di tangan rakyat. Pesta demokrasi sebagai suksesi kepemimpinan dalam memilih wakil-wakil di parlemen menjadi ajang adu kewarasan.

Makna dalam pesta ini kondisi aman dan damai menjadi tolok ukur. Kemenangan siapa pun adalah kemenangan bangsa yang berpesta. Pesta demokrasi juga merupakan pesta kebudayaan suatu bangsa yang beradab. Pesta ini dilakukan sampai komunitas-komunitas terdepan pd TPS ( tempat pemungutan suara).

Menjaga melayani agar seluruh warga yang memiliki hak untuk memilih dapat menyampaikan suaranya dengan bebas dan rahasia yang ditangani dengan jujur dan adil.

Pernahkah kita membayangkan betapa sulit dan rumitnya menyelenggarakan pesta demokrasi? Bagaimana menyiapkan administrasinya? Bagaimana menyalurkan material dan piranti-pirantinya? Bagaimana mengatasi kesulitan lapangan secara geografis? Bagaimana memgatasi potensi-potensi konflik dan kerawanan-kerawanan yang mungkin terjadi? Bagaimana mengajak masyarakat untuk mau berbondong-bondong datang ke TPS? Bagaimana mengatasi konflik dari TPS-TPS sampai kecamatan bahkan kota atau kabupaten? Logistik yang tidak sedikit pengorbanan, yang luar biasa bukan lagi kaum-kaum penebar hoaks, yang mengganggu kaum hacker yang menyerang secara siber? Mungkin cerita menegakkan demokrasi ini bagai kisah 1001 malam yang ada terus menerus tiada henti.

Para kaum yang ambisius, yang kalah yang merasa paling akan mencaci, menghujat bahkan inginnya ribut konflik fisik, perang dan sebagainya untuk mencederai kewarasan dan kecerdasan suatu bangsa. Kecerdasan dan kedewasaan suatu bangsa yang beradab memang bukan pada siapa yang kalah atau siapa yang menang saja, tetapi bagaimana tetap aman, damai, tenteram dan mampu menyelesaikan konflik secara beradab. Peradaban bangsa di era digital adalah tetap mampu menjaga marwah bangsanya, menjaga harkat dan martabat manusia sebagai aset utamanya.

Membodoh-bodohi, menghasut, memprovokasi rakyat untuk konflik bahkan berkelahi antarsesama anak bangsa ini merupakan penghianatan terhadap demokrasi. Ini memamerkan ketololannya bahkan ketidakcintaannya terhadap bangsa dan negaranya. Rakyat yang semestinya dicerdaskan, malah dijadikan alas kasut ambisi yang tidak lagi menghormati manusia dan kemanusiaannya. Tetesan keringat air mata bahkan darah hingga nyawa para pejuang dan pahlawan demokrasi tidakkah dilihat? Tidakkah menjadikan haru? Memang yang ada rasa haru hanyalah orang yang sehat jasmani dan rohani sehingga hati nuraninya masih ada dan terus bisa bergerak untuk adanya haru empati, sadar dan belarasa. Semua itu tidak ada pada orang gila. Pernahkan ada orang gila sakit atau merasa malu? Tentu tidak, hanya orang waras yang punya rasa itu.

Para pejuang dan pahlawan-pahlawan demokrasi walau banyak duri kerikil tajam bahkan tikaman-tikaman yang mengoyak hatimu, namun bangsa beradab akan tetap sehat waras mengenang dan mengapresiasimu. Tidak ada perjuangan yang sia-sia. Kecerdasan bangsa yang berdaulat akan mampu menahan gempuran bahkan penghianatan dan adu domba. Kekuatanmu, perjuanganmu, keringatmu, air matamu, bahkan nyawamu menjadi bunga bakti bagi negeri ini terus abadi.

Pesta telah usai namun kegembiraan, keamanan, kedamaian, kewarasan tetap harus diwujudkan sebagai bakti dan hormat kami sang pejuang dan pahlawan-pahlawan yang telah menorehkan tinta emas untuk tegak berdiri, berdaulat, bermartabat, aman, damai, dan cerdasnya bangsa ini. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*