harmono 26/05/2018

Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

PADA saat pemilihan umum banyak tawar-menawar, lobi-lobi politik menawarkan calon-calon pemimpin yang dijagokannya. Tatkala banyak calon ditawarkan dan memulai mengiklankan dirinya, teringat akan pasar yang sarat pedagang barang dagangan dan pembeli pembeli yang hiruk-pikuk membahas barang dagangannya.

Calon-caon pemimpin saling beradu konsep janji, bahkan ada juga yang melibatkan pendukung dan loyalisnya terjun dalam area pasar pemimpin untuk ikut meyakinkan para pembelinya.

Di pasar pemimpin semua nomor satu, semua menjadi terbaik, rakyat marginal pun tak jarang bisa menjadi latar yang seakan-akan mereka mengamini. Dari hal-hal primordial sampai teknis, profesional pun bisa dijadikan pembenaran-pembenaran.

Masihkah berlaku asas vox populi vox dei (suara rakyat suara Tuhan)? Suara rakyat menjadi harapan akan adanya perubahan. Suara rakyat mungkinkah dikopi? Jika mungkin, maka akankah pasar sehat? Tentu tidak, karena akan saling adu kekuatan yang muaranya pada money politic. Siapa sangka kalau suara rakyat bisa menjadi atas nama dan untuk mengatasnamakan, walaupun jauh dari kebaikan apalagi kebenaran. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*