harmono 30/01/2019


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

PARIWISATA adalah bisnis yang menuntut adanya kepercayaan, kenyamanan, kelancaran, dan kenikmatan yang berujung pada kebahagiaan dan kepuasan para pelanggannya. Mampukah para stakeholder mewujudkannya? Itulah yang perlu dibangun suatu kesadaran tanggung jawab dan disiplin mewujudkannya. Upaya-upaya dalam membangun pariwisata bukan sekadar membangun atau menata infrastrukturnya melainkan membangun manusianya. Membangun hati nuraninya, membangun seni dan kebudayaannya, karena hal-hal itulah yang menghidupkan dan menumbuhkembangkannya.

Tatkala ketidakjelasan premanisme hingga pelayanan buruk menimbulkan dampak pada kekecewaan dan ketidakpercayaan. Hal-hal yang membuat kecewa akan berkembang dari mulut ke mulut bahkan viral di media. Ini harga sosialnya sangat mahal yang harus dibayarnya. Sistem-sistem apa pun harus jelas dan dapat dipertanggungjawabkan secara administrasi, secara hukum, secara fungsional, bahkan secara moral sekalipun. Moralitas di dalam pariwisata ini sangat mendasar dan menjadi suatu etika publik bagi para stakeholdernya.

Pariwisata dikemas, dimaknai, dimarketingkan, dan dioperasionalkan secara profesional dengan hati dan ketulusan. Karena mengelola pariwisata dengan baik dan benar merupakan suatu peradaban tinggi. Ini menunjukkan bahwa manusia sebagaimana fokus utamanya yang dilayani secara manusiawi harkat dan martabatnya dapat meningkat. Sistem pengemasan dan pemaknaan ini merupakan suatu rekayasa sosial yang berujung bagaimana pelayanan-pelayanan yang prima dapat diwujudkan.

Palak-memalak, memeras, menyesatkan, menjual barang-barang palsu, penipuan, memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, dan sebagainya ini semua kontraproduktif yang tidak boleh terjadi. Tatkala terjadi pemerintahlah yang harus cepat tanggap menangani, kalaupun pemerintah masih lambat-lambat, stakeholder lainnya menjembatani dan berani mendesak atau mendorong perbaikan-perbaikan.

Membangun masyarakat yang sadar wisata diperlukan suatu rekayasa sosial yang mencakup:

  1. Edukasi untuk menyadarkan dan membuat masyarakat cinta dan bangga akan wilayah seni dan budayanya. serta mampu bekerja secara profesional.
  2. Meminimalisasi berbagai potensi penyimpangan yang dapat menimbulkan premanisme, dan berbagai hal yang kontraproduktif.
  3. Menerapkan dan menegakkan hukum yang berlaku agar ada kepastian.

Masyarakat yang sadar wisata (masdarwis) merupakan proses panjang yang secara holistik atau sistemik menerapkan rekayasa sosial untuk mencerdaskan masyarakat dalam berbangsa dan bernegara. Masdarwis mungkin saja merupakan suatu proses pembangunan bangsa yang multikultural dan berdampak paling soft tetapi memgena dan memggema di semua lini kehidupan. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*