harmono 14/12/2017
Brigjen Pol Chryshnanda Dwi Laksana

POSKOTA.CO – Bagai “katak dalam tempurung” suatu ungkapan yang merefleksikan betapa terbelenggunya pemikiran, pengetahuan yang dimilikinya.

Bisa dibayangkan pada sebuah birokrasi, yang birokratnya bagai katak dalam tempurung, pemikirannya pun terbelenggu. Penuh rasa ketakutan, tekanan, ewuh pekewuh/sungkin, hingga tiada lagi nyali untuk mengungkapkan isi hati dan pikirannya. Yang ada, hanya bagaimana si bos senang, dan kaum-kaum kroninya pun tidak tersinggung.

Menjaga perasaan kaum penguasa, agar selalu nampak mereka berwibawa, inilah yang terus dilakukan. Di sana senang, di sini disayang. Semua bisa didapatkan, kecuali kewarasan. Mengapa demikian? Karena tipu-tipu, kepura-puraan menjadi topeng-bopeng birokrasi.

Birokrasi yang tidak rasional dikembangkan dengan pendekatan personal. Mereka biasanya antikritik dan antiperubahan, menjaga status quo dan kenyamanan yang telah mereka kuasai selama ini.

Siapa saja yang manut ngawulo (mengabdi) akan kanugrahan (mendapat anugerah berupa jabatan basah). Walau menjadi pejabat, sebenarnya mereka hanya jadi mandor di lini-lini terdepan yang mengangkangi sumber daya.

Sertifikasi birokrasi bukan berbasis kompetensi, melainkan siapa yang menjadi kroni penguasa. Semakin besar dan semakain dekat tingkatannya, maka akan semakin berkuasalah dirinya, walau sebatas boneka dan mandor sedot.

Birokrasi seperti ini akan melindas pemikiran-pemikiran untuk kewarasan. Bagi mereka gila adalaah kehormatan dan kebahaagiaan (swargo nunut). Kaum nunut (penumpang) akan menjaga keamanan, kemapanan dan kenyamaanan mereka.

Tidak boleh ada kritik, tidak boleh ada yang melawan atau menghujat ndoro. Semua harus terlihat ndoro seperti apa yang diinginkan, rapi, tertib, aman, nyaman dan semua manut-manut saja.

Beropini akan dianggap celometan. Apalagi ndoro sampai tersinggung, maka kaum kroni akan berjibaku memborgol pikiran dan ide-ide tadi. (*)

 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*