harmono 26/08/2017

 

Brigjen Pol Crisnanda Dwi Laksana

POSKOTA.CO – Memang nasib yang menentukan mujur atau tidaknya hidup seniman. Bagi seniman yang mujur dan terkenal, apa pun yang dibuatnya akan dipuji dan diapresiasi tinggi. Termasuk para galeri dan kurator pun ikut gelap mata. Apa pun semua oke top markotop, dan tanpa ragu dilabel harga tinggi tanpa tahu di mana seninya. Belum lagi orang-orang yang menjadi penguasa tatkala ingin mendapat perhatian dan penghargaan tinggi harus tahu seni. Maka apa yang dipegangnya seakan karya Raja Midas yang langsung seketika menjadi emas.

Bagi seniman yang tidak ketiban pulung, hidup bagai dalam kerudungan sarung atau karung. Menyesakkan kembang-kempis. Kadanng makan kadang tidak. Seumur hidup bisa saja tidak diakui dan tidak mendapat prestasi. Galeri dan kurator pun dengan congkak bisa menolaknya.

Aneh bin ajaib, kurator tidak bisa melukis menilai suatu karya lukisan. Tetapi juga bisa dipahami bahwa pengamat tinju yang belum tentu pernah bertinju. Mengobral pendapat seakan menjual sesuatu yang baik dan benar, serta ajaib lagi menjadi acuan dan selalu dianggap sebagai kebenaran dan dibenarkan.

Kurator dan art galery mungkin bisa menjadi pahlawan kebudayaan dan peradaban, namun sebaliknya justru malah mematikan dan merusak peradaban dengan seniman-senimannya. Menukar seni dengan uang atau materi.

Kritikus seni sangat penting dan harus dilakukan agar seniman memang strugle bukan karbitan. Menjadi seniman itu pilihan Tuhan dari musibah sekaligus anugerah. Namun dalam konteks ini perlu perenungan panjang atas penjelasan kalimat tadi. Dalam konteks yang lebih hakiki adalah kecerdasan bangsa dalam melihat dan mengapresiasi suatu karya seni. Dengan harapan yang baik tidak disingkirkan, dan yang kelas jalanan bisa meningkat dari craft menjadi art. Seni memang unik, bahkan aneh dan sarat misteri seperti halnya dengan yang unik dan misteri dari hidup ini. (*)

 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

BREAKING NEWS :