harmono 21/10/2017
Brigjen Pol Crisnanda Dwi Laksana

POSKOTA.CO – Tatkala membicarakan antikorupsi terngiang dan teringat Jenderal Hoegeng Iman Santosa. Keteguhan hati Pak Hoegeng untk bekerja dengan baik dan benar. Yang istimewa dari Pak Hoegeng, kesederhanaan dan keteguhan hati untuk tidak melakukan berbagai perkeliruan terutama yangg berkaitan dengan KKNG (kolusi, korupsi, nepotisme dan gratifikasi).
Banyak cerita yang berkaitan dengan hal KKNG tersebut. Memang tidak mudah memilih jalan lurus walaupun benar, dapat saja dikatakan salah. Di era yang sarat dengan KKNG, Pak Hoegeng muncul sebagai oase segar dan harapan bagi yang berani memilih di jalur untuk tidak KKNG.

Sulit memang, menemukan orang-orang lurus hati karena tidak bisa direkayasa atau tidak bisa dibuat-buat. Tentu juag tidak bisa untuk topeng pencapaian tujuan. Anti-KKNG merupakan suatu ketulusan hati dan kesadaran, bahwa KKNG merupakan pilihan yang menyesatkan bahkan menyengsarakan. Perjalanan untuk tidak KKNG merupakan jalan terjal tanjakan bahkan sempit.
Pilihan anti-KKNG merupakan pilihan tidak populer. Mungkin saja malah dikatakan penghianat bahkan dapat dihakimi secara sosial.

Tatkala mempertanyakan adakah Hoegeng-Hoegeng muda? Tentu banyak, hanya saja karena tidak populer, maka akan tersingkir atau memilih menyingkir. Sebut saja Kombes Darmanto, saya yakin dia tidak meminta dihargai atau diperkenalkan ke publik pilihannya untuk tidak KKNG. Apakah kita takut atau ragu atau malah mencibir pilihan Darmanto? Bisa saja begitu, teman-teman senior-junior sebatas mengatakan Darmanto baik, tatkala susah hanya sebatas Darmanto kasihan, dan sebagainya. Apakah mengapresiasi setelah Darmanto pergi? Apakah pahlawan dan pejuang mmemang label bagi orang yang sudah meninggal? Atau minta bukti untuk mendapatkan talent scouting?

Memang kita tidak peka, bahkan tidak peduli akan sesuatu yang menggetarkan hati nurani. Yang ada malah mencibir dan menyalahkan. Tatkala orang seperti Darmanto ini tersingkir atau bahkan tidak mendapat ruang gerak dalam kariernya, maka bagi yang ingin memilih jalan anti-KKNG mendapat cemoohan dan label buruk. Lihat saja orang-orang seperti Darmanto akan mati dengan idealismenya.

Menanamkan benih antikorupsi tidaklah mudah hanya mwngatakan tidak boleh, dan dengan berbagai ancaman hukuman. Namun tatkala ada sistem dan edukasi yang pembangunan infrastruktur mampu meminimalisir terjadinya KKNG, serta penegakan hukum yang tebang habis bukan tebang pilih, maka perubahan mind set bahkan cultur set dapat dicapai.

Selain itu, figur atau sosok panutan memang diperlukan. Mungkin Darmanto bukanlah golongan kaum suci atau kaum tanpa cacat cela dan dosa. Namun setidaknya pilihan hidup dan cara yang dipilih menjadi oase di sekitarnya. Mungkin teman-teman seangkatan masih sebatas memuji dalam hati atau sebatas Darmanto baik, namun belum mau atau bahkan mungkin takau-takut mendorong Darmanto menjadi ikon anti-KKNG di era pasca Pak Hoegeng. (*)

 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

BREAKING NEWS :