harmono 11/06/2019


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

AKU terlalu tua untuk berbisnis? Atau ungkapan terlambat memulai berbisnis? Kita semua kaum kebanyakkan terlalu lama cuek dengan segala sesuatu, mungkin juga terlena sehingga lemah atau malah sama sekali tidak peka terhadap peluang-peluang bisnis yg ada. Atau belum bernyali memulai, masih ketakutan ini dan itu atau malah sudah dipatahkan asanya oleh dirinya sendiri. Tidak ada lagi self confidence-nya.

Bisnis dapat dimulai dari kemauan, ketertarikan atau malah dari semangat tinggi yang akan diimbangi dengan potensi dan kompetensi. Tahu akan apa yang akan kita jadikan peluang yang tentu memiliki daya saing. Tatkala ditabur ia akan tumbuh berkembang bahkan bisa pesat melampau prediksi normal. Masalah memulai bisnis akan menghadapi birokrasi, menghadapi kompetitor bahkan menghadapi premanisme yang siap mematikan kapan saja.

Bisnis juga adu kekuatan dan paham relasi sebagai mitra sekaligus jejaring. Bisnis wajib memikirkan bagaiman membangun trust dan mampu empowering. Tatkala sadar akan trust, maka power sangat dibutuhkan untuk menggerakkan roda bisnis sebagai keunggulan dan kebanggaan. Gerakan roda bisnis akan juga bergantung dari marketing yang wajib dilakukan, karena untuk meyakinkan para pihak terutama triple helix plus (pemerintah sektor bisnis pemanfaatan IT dan masyarakat) untuk mendapatkan pasar membuka jejaring dalam membangun trust dan relasi. Marketing bukan semata-mata pada selling, tetapi juga membangun jembatan atau kaki-kaki jejaring termasuk tatkala mengatasi masalah dari hulu sampai hilir. Kemasan yang tak kalah pentingnya untuk membuat mitra konsumen bahkan kompetitor kita berkata wow.

Peluang bagi bangsa Indonesia yang begitu besar mungkin pada alam, religi, tradisi, seni, dan teknologi melalui darwis (sadar wisata). Alam, religi, tradisi, seni hingga teknologi merupakan karakter yang dapat dibangun untuk ketahanan nasional juga dalam bisnis. Yang harus dipikirkan untuk menghadapi perubahan yang begitu cepat dan upredictable. Darwis melalui rekayasa sosial terhadap alam, religi, tradisi, seni dengan memanfaatkan teknologi akan tetap berdaya tahan dan berdaya saing tatkala dikelola secara profesional, kreatif, dan inovatif. Dengan demikian selalu terbarukan dalam wujud kecerdasan-kecerdasan untuk memprediksi mengantisipasi dan terobosan-terobosan baru untuk solusi prima. Infrstruktur dan sumber daya manusia berbasis standar prima yag dalam pelayanannya: cepat, tepat, transparan, akuntabel, informatif, dan mudah diakses.

Hoki? Hahaha… ini yang sering orang bisnis kejar bahkan kadang irasional juga dilakukan. Bisnis darwis tetap haruss memposisikan apa yang berbeda dengan lain dan membangun brand.

Di era digital triple helix (government, business, tecknology) plus society harus mampu menggali dan memberdayakan apa saja dengan cara sederhana hingga kompleks untuk menjadi ikon atau sebagai karakternya. Dari ikon itulah akan muncul power yang menjadi sumber energi yang memotivasi, memberdayakan, berdaya saing, serta menginspirasi. Apa yang dilakukan tak lekang ruang dan waktu. Apa saja, di mana saja, kapan saja, dan siapa saja bisa.

Bisnis darwis seperti gendang dan pemainnya. Ada alat musik gendangnya sisi kanan kiri sebagai input serta outputnya dan tengahnya sebagai prosesnya. Sang penabuh ini kekuatan sumber dayanya yang berkompetensi, maka tabuhan gendang akan menjadi harmoni, baik untuk main rampak gendang, main dengan alat musik lainnya, atau mengiringi penari bahkan penonton bisa ikut hanyut dalam irama dan tabuhannya. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*