harmono 11/03/2018
Brigjen Pol Crisnanda Dwi Laksana

POSKOTA.CO – Masalah lalu lintas sampai dengan undang-undangnya dijadikan isu yang hampir-hampir mengabaikan road safety. Kebanggaan dari kewenangan sampai dengan tindakan-tindakan pengimplementasianya seakan prasarana dan sarana dijadikan tujuan. Pemahaman lalu lintas secara konseptual lagi-lagi sebatas gerak pindah. Implementasi yang manual parsial dan konvensional dengan berbagai ego sektoral lagi-lagi menjadi kebanggaannya. Pola pemadam kebakaran senantiasa menjadi unggulan, dan menjadi gembar-gembor media. Belum lagi hukum dan penegakan hukum seakan menjadi hantu jalanan yang meresahkan.

Sedih dan memalukan tatkala memahami bahwa lalu lintas sebagai refleksi budaya bangsa dan dipahami sebagai urat nadi kehidupan. Kematian dan kecacatan hingga kerugian material yang luar biasa tak juga menjadikan rasa haru para pemangku kepentingannya. Mungkin akan tersinggung bahkan marah tatkala dikritik keras, namun faktanya terpampang pameran ketololan yang sehari-hari nampak. Contoh saja pengaturan ala ganjil genap yang menunjukkan kelelahan dan kemalasan berpikir. Padahal movement urban management bisa dilakukan.
Sistem big data yang tidak segera terbangun, lagi-lagi teknologi sebatas seremonial dan menyenangkan ndoro-ndoro untuk supervisial atau launching belaka. Penanganan e-tilang yang mana dari sistem CJS yang masing-masing malah membuat rumit dan ladang pungli baru. Semestinya bisa dibuat tabel denda supaya dapat ditemukan rasa keadilan dan tidak perlu susah-payah membayar ke kejaksaan, dan uang di bank tatkala dicek oke tidak ada masalah segera dikirim ke rekening simponi.

Perebutan penggunaan sumber daya di lapangan terus-menerus dijadikan ajang kewenangan. Dana preservasi jalan yang tidak lagi dibuat perpresnya, dijadikan isu revisi uu. Angkutan berbasis online menjadi kambing hitam dan sebagai acuan kesepakatan dari salah satu stakeholder yang mendorong Komisi V berinisiatif merombaknya.

Sistem penanganan kecelakaan yang sebatas pada pro justitia semata. Sistem-sistem penurunan tingkat fatalitas korban kecelakaan diabaikan, dan penindakkan surat-surat terus saja dilakukan. Pelanggaran over dimensi, over load tidak tertangani. Kapasitas jalan dengan jumlah kendaraan bermotor yang tidak seimbang, dan banyak lagi hal yang menajdi fakta atas penseksian dari lalu lintas. Ke mana road safety? Jawabanya mbuh… atau baru dicari-cari pembenaran-pembenarannya dan rasionalisasi-rasionalisasinya othak athik gathuk.

Siapa terharu dengan road safety? Apakah mbuh juga? Para pakar transportasi, pakar hukum, pakar IT, pakar-pakar ilmu sosial lainnya bisa saja marah kalau dituduh sama dengan mbuh. Pejuang-pejuang road safety memang sudah ada apresiasinya sebagian, namun membangkitkan rasa haru bagi para ndoro-nya mungkin belum. Hal ini bisa dibuktikan dengan sulitnya membangun safety driving centre/pendidikan keselamatan/sekolah mengemudi berstandar nasional dan internasional.

Hipotesa saya, para pengemudi angkutan umum bus/truk bisa saja hanya mantan kernet. Bisa jadi mereka hanya memiliki skill dan pengalaman, namun pengetahuan tentang safety sangat minim. Para pengendara kendaraan bermotor yang abai akan seat belt. Sistem pemantauan speed minimal dan maksimal pada jalur-jaur tertentu yang belum ada, kalaupun ada masih sebatas hiasan. Pola penanganan kemacetan masih saja mengandalkan tenaga petugas lapangan. Penilaian dari PBB tentang road safety yang buruk pun dianggap sebagai over view biasa? Mungkin akan banyak lagi keluhan-keluhan tentang road safety yang semestinya di era digital ini meningkat.

Lalu lintas menjadi sangat seksi karena sarat kewenangan dan sumber daya. Potensi-potensi inilah yang menjadi incaran dari undang-undang sampai lapanganya, namun road safety-nya diabaikan. Mungkin akan marah lagi tatkala dikritik mengabaikan road safety. Lihat saja core value dari para pemangku kepentinganya.

Apakah akan menyerah sampai di sini? Tentu saja tidak. Mengkritisi untuk membamgun bukanlah jilatan untuk menyenang-nyenangkan ndoro-ndoro-nya, atau sekadar pokoknya tugas, melainkan berjuang untuk kemanusiaan dan menjadikan keselamatan yang pertama dan utama.

Apa yang mesti dilakukan? Walaupun bisa saja dilakukan secara bottom up tanpa menunggu ndoro terharu, namun political will tetap penting.

Kedua, adalah membangun IT for road safety. Program IT for road safety merupakan langkah mendasar untuk memetakan, membuat model, penanganan secara holistik atau sistemik, pendekatan berbasis pada scientific dan teknologi, terbangunnya big data dalam back office, yang diinput melalui berbagai aplikasi dan juga akan dikaji melalui riset secara ilmiah. Hal-hal yang dilakukan inputing data adalah membuat kategori mengidentifikasi akar masalah penyebab dari setiap permasalahan terkait road safety. Aplikasi pendukung back office adalah membangun automatisasi sistem inputing data yang diperoleh dari berbagai sumber (laka, langgar, traffic attitude record, jalan, kendaraan, alam, lingkungan dan masalah sosial kemasyarakatan dan penyebab lain yang mungkin menjadi menjadi penyebab). Semakin banyak sumber data masuk, semakin akurat dalam hal hasil analisis.

Accident Data Analysis, adalah proses pendalaman data-data terhimpun menuju kesimpulan terkait penyebab. Hipotesa yang dihasilkan dari Accident Data Analysis, perlu diuji melalui research.

Traffic Accident Research, merupakan proses pengujian kebenaran dari hipotesa yang dihasilkan dari data analisis. TARC merekonstruksi hipotesa dan TAA dalam sebuah skenario uji teknis.

TARC, menghasilkan kesimpulan tentang penyebab dan membangun rumusan strategi pemecahan dalam ruang lingkup:
1. Edukasi/pencerahan.
2. Law enforcement.
3. Standard procedur penyelesaian (preventif & post crash).

Ketiga, menggelorakan strategi (edukasi) yang melihat juga analisa dari law enforcement. Strategi yang diterapkan berdasar cakupan masalah yang dihadapi (relatif). Landasan yang dipakai adalah hasil dari TARC. Yang juga dikaitkan pada sistem uji SIM dan pola penindakan pelanggaran penyebab fatalitas korban laka (helmet, speed, drink driving, seat belt, child restrain, penggunaan handphone saat berkendara, melawan arus).

Keempat, membangun SDM yang merupakan team work dengan memiliki karakter kapasitas untuk menguasai dan memahami kemampuan internal guna mendapatkan informasi rasio perbandingan besaran masalah versus tim yang menangani.
Kapasitas tim ini juga termasuk dalam kemampuan terkait penggunaan alat bantu (information technology). Selain dari standar kemampuan dan pengetahuan tentang road safety dan core business proses. Implementasi IT dalam setiap pos penyelesaian maslah road safety melalui smart management dengan catatan core business prosesnya jelas, alurnya nyambung dan logis sebagai kontruksi dan rekonstruksi secara konseptual maupun implementasinya, sehingga dapat ditemukan model dan pola-polanya. Dengan demikian sistem-sistem inputing data terintegrasi dengan satu basis data (output dari TARC), IRSMS, traffic attitude record, ERI, SSC dan SDC.

Data laka menjadi fokus perhatian akan dikembangkan kajianya melalui TARC untuk dapat mengumpulkan dari berbagai sumber yang salah satunya laka, data TAA dan sumber eksternal, selanjutnya melakukan proses pengkajian dan pengujian dengan melibatkan berbagai disiplin pengetahuan. Sehingga hasil dari TARC tingkat akurasinya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah maupun secara hukum dan fungsional kepolisian.

Ke empat poin di atas dalam mengembangkan IT for road safety yang dibangun adalah sebagai berikut:
1. Sistem big data yang mencakup:
a. Jalan dan sistem-sistemnya.
b. Kendaraan yang melintas sebagai alat transportasi.
c. Pengguna jalan inilah pentingnya traffic attitude record.
d. Situasi alam lingkungan yang dipetakan dalam kategori black spot dan trouble spot yang bertingkat-tingkat dengan kode-kode angka atau warna sesuai tingkat kerawanannya.
e. Pemetaan masalah atau hal-hal yang menjadi perlambatan atau konflik-konflik sosial.

2. Data-data yang ada di lima poin tersebut dibuat sistem analisa dengan analogi beragam sebagai contoh a+b+c akan ketemu pola pergerakan dan prediksi kepadatan arus sehingga bisa dilakukan sistem antisipasi dan solusinya. Contoh lain a+d+e menjadi sistem peta digital yang bisa menjadi bagian untuk quick response time sehingga peralatan dan kompetensi petugas bisa disiapkan. Contoh lain b+c bisa dibuat sistem pendidikan keselamatan dan sistem uji SIM serta traffic attitude recordnya dan demerit point system. Contoh lain b+e dapat dibuat sistem-sistem angkutan massal dan juga pembatasan atau berbagai pengaturan untuk mengatasi masalah-masalah sosial dan sebagainya.

3. Setiap peralatan teknologi tidak akan berfungsi apabila tidak ada orang-orang yang mengawakinya maka sistem-sistem operasional pengawasan sampai dengan penanganan dan pelayanan prima diperlukan program-program training, master trainer dan trainernya. Juga latihan-latihan problem solving sebagai simulasinya.

4. Sistem operasional penjagaan pengaturan pada situasi normal samapia dengan kontijensi dilakukan secara virtual dan aktual sehingga dapat dilihat apa yang telah, sedang dan akan terjadi dapat diprediksi dan diantisipasi serta solusi prima dari petugas-petugas lapangan. Maka back office akan menjadi bagian penting menggerakan aplikasi dan sistem-sistem elektronik secara online maupun atas petugas-petugas lapangan.

Pada situasi khusus juga bisa memantau atau menjamin keamanan dan keselamatan VVIP atau VIP dengan juga ada jaminan akan kepastian waktu untuk jarak tempuh dan waktu tempuh. Juga jaminan kenyamanan yang dapat diberikan.
Pada situasi kontijensi ada standar-standar waktu solusi akibat bencana alam, kerusakkan infrastruktur maupun adanya tindakan-tindakan kriminal dari yang konvensional sampai dengan terorisme dapat diprediksi dan diantisipasi serta solusinya untuk tetap terjaminya keamanan dan keselamatan pengguna lalu lintas dan warga sekitarnya.

Sistem operasional menjadi pusat komando, pengendalian, koordinasi, komunikasi dan informasi melalui back office melalui sistem virtual dan aktual secara prima untuk terjaminnya keamanan, keselamatan, keteraturan, kelancaran yang aman, nyaman, selamat dan tepat waktu sampai tujuan.

5. Sistem-sistem pendukung untuk mengatasi poin satu secara sistematis dan terkoneksi dalam one gate service. Maka big data dan sistem-sistem lainya menjadi sangat penting dan perlunya dibuat modelnya sehingga dapat direncanakan untuk SDM-nya, alat peralatan pendukung (perorangan, unit atau kelompok sampai dengan kesatuan).

6. Hal-hal yang sifatnya emergency atau terjadi kecelakaan maka sistem-sistem quick response time menjadi andalan dan sistem pelaporan data menjadi penting. Sistem TPTKP dan sistem-sistem identifikasi hingga scientific investigation menjadi bagian untuk dasar bagi TAA (Traffic Accident Analysis) bekerja mendukung proses penyidikan/untuk pro justitia.

Adapun untuk kepentingan yang lebih luas dalam meningkatkan kualitas keselamatan, menurunkan tingkat fatalitas korban laka dan membangun budaya tertib berlalu lintas agar senantiasa terwujud dan terpeliharanya keamanan, keselamatan, dan ketertiban berlalu lintas di sinilah wadah riset kecelakaan dibangun/TARC (Traffic Accident Research Centre).

7. Pelayanan-pelayanan prima ini semua akan dibangun sistem-sistem yang mendasar pada era digital adalah adanya back office, application dan network yang implementasinya terwujud dalam TMC sebagai big system pendukung road safety management yang didukung sistem-sistem :
a. SSC (Safety and Security Centre) mendukung safer road yang berisi sistem-sistem untuk pemetaan black spot dan trouble spot, speed management, traffic count, e-sidik, e-tilang, sistem data laka (IRSMS).

b. ERI (Electronic Registration and Identification kendaraan bermotor) sebagai pendukung saver vehicle yang berisi sistem verifikasi dokumen dan fisik kendaran bermotor (secara fisik kasat mata, transmisi, emisi gas buang sampai dengan nomor rangka dan nomor mesin) pada sistem ERI untuk jaminan legitimasi pengoperasional pada bagian STNK dan TNKB akan dilengkapi dengan obu (on board unit), RFID (Radio Frequency Identification), atau sistem-sistem ANPR (Automatic Number Plates Recognation). Sistem ERI ini akan mendukung forensik kepolisian dan ELE. Juga menjadi dasar program ERP (Electronic Road Pricing), ETC (Electronic Toll Collection), e-parking, e-samsat, e-banking dan Electronic Law Enforcement.

c. SDC (Safety Driving Centre), untuk mendukung program saver road users. Pada sistem ini mencakup sekolah mengemudi, sistem uji SIM dan sistem penerbitan SIM yang dikembangkan dalam TAR ( Traffic Attitude Record/catatan perilaku berlalu lintas) ini bisa untuk pengemudi maupun kendaraan bermotornya yang akan dikaitkan pada sistem demeryt point (ini sebagai pertanggungjawaban baik pengemudi maupun pemilik kendaraan atas kendaraan miliknya yang dioperasionalkan di jalan).

d. Intan (Intellegence Traffic Analysis) mendukung program post crash care. Intan merupakan sistem-sistem gabungan poin a, b, c yang terwujud dalam sistem peta digital sistem komunikasi dan solusi yang terkoneksi melalui call and comand centre. Seperti contoh 110 atau nomor-nomor darurat lainya. Intan akan berkaitan dengan pemadam kebakaran, PLN, ambulan 119, rumah sakit, SAR bahkan juga dengan PSC (Public Safety Centre), petugas-petugas pengawalan dan patroli jalan raya (denwal PJR), juga petugas-petugas emergency dari stakeholder lainya.

8. Poin 1 sampai dengan 7 akan diatur atau diintegrasikan berbasis SOP yang mencakup:
a. Job Description dan Job Analysis masing-masing bagian.
b. Standardisasi keberhasilan tugas.
c. Sistem penilaian kinerja.
d. Sistem reward and punishment.
e. Etika kerja (apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dikerjakan/do an don’t).

Poin a sampai dengan e inilah yang tercakup pada smart management.
9. Poin 1 sampai dengan 8 akan diawaki petugas-petugas yang siap 1×24 jam dan tujuh hari seminggu tanpa putus pada cyber cops. Petugas-petugas cyber cops akan bertugas pada back office untuk inputing data, mengalisa dan menghasilkan produk-produk untuk prediksi, antisipasi dan solusi yang dinamis bahkan sell on time dan real time.

Sehingga sistem-sistem penangan angkutan umum secara online, pengaturan, penjagaan bisa mencover seluruh sudut kota, jaminan kamseltibcar lantas dapat dilakukan, penanganan emergency dilakukan, sistem-sistem research pun akan dapat diback up secara scientific yang tingkat akurasinya tinggi, terbangunya budaya tertib melalui ELE, demeryt point system maupun traffic attitude record-nya. Kualitas pengguna jalan meningkat dan sistem-sistem kontrol angkutan umum maupun pribadi bisa terkontrol secara cepat dan tepat. Memback up program-program stakeholder lainya yang berkaitan dengan kriminalitas sampai dengan hal-hal yang bersifat emergency bahkan kontijensi sekalipun.
lalu lintas sexynya krn care dan profesional dlm menangani road safety shg amanat UULLAJ dpt dilaksanakan. Lalu libtas scr konseptual dan teoritikan dpt tertangani dan adanya pelayanan prima. Dan amanat pbb ttg road safety mjd core value dan core function scr manajemen maupun operasionalnya. Tentu terwujud dan terpeliharanya kamseltibcar lalu lintas.
Meningkatnya kualitas keselamatan menurunya tingkat fatalitas korban kecelakaan lalu lintas. Terbangunya budaya tertib berlalu lintas dan senantiasa meningkatnya pelayanan di bidang LLAJ. (*)

 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*