harmono 18/09/2017

 

Brigjen Pol Crisnanda Dwi Laksana

POSKOTA.CO – Meminjam istilah Widji Thukul hanya satu kata, lawan. Kali ini hanya satu kata, takut. Takut karo wong edan.

Salah satu amanat UUD 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun sekarang jarang lagi terdengar apa lagi dilakukan. Semua sibuk bekerja seakan membuat fondasi surga. Namun lupa kecerdasan bagi bangsanya justru selalu digerusnya. Dari yang bersifat pribadi sampai publik dipertontonkan aneka ketololan dan berbagai penyesatan oleh para aparaturnya.

Tindakan-tindakan diskresi aktif maupun pasif hari-hari dipertontonkan bahkan menjadi suatu kebanggaan. Ada yang membenarkan, ada yang menginginkan, bahkan ada yang berjuang melanggengkan. Palak memalak, suap, ilegal menjadi santapan yang terus ada, tiada pernah mampu berhenti. Belum lagi yang punya massa besar asas asu gede menang kerah e pasti diterapkan. Yang banyak, yang besar pasti bisa menyesatkan dan membodoh-bodohi banyak orang. Hanya satu kata, takut. Mengapa takut, karena mereka edan. Edan itu lali, lupa jiwa, lupa sesama. Semua boleh semua benar, semua bisa kalau sudah disuarakan dengan lantang dan dengan banyak orang. Sing waras ngalah? Bukan ngalah tetepi kalah. Yang rasional justru disalahkan dan dikalahkan, bahkan selalu dijadikan kambing hitam untuk kalah-kalahan.

Label-label mengerikan dari yang durjana sampai dengan tanda penghuni neraka bisa ditancapkan. Bagi yang dicap akan seperti terkena kutukan stigma dihujat dan publik beropini sesuka hati. Tidak lagi peduli manusia. Yang penting menang, yang penting senang. Tidak peduli rakyat jadi bodoh atau semakin sesat.

Pola premanisme menjadi kebanggaan. Hmmm… ini aku, mana kamu. Semua ingin dihajar dalam ajang-ajang pembantaian, entah virtual maupun aktual akan ingin selalu menjadi pemenang. Akulah yang paling bisa, paling benar, paling ini, paling itu. Walau akhirnya hanya nampak paling ngeden, ngeden untuk nggege mongso berkuasa. Hari hari memang belum saatnya, tetapi sudah saking kebeletnya dihembus-hembuskan bau yang sedap ke mana-mana. Bagai orang ngeden-ngeden di jamban, bau sudah tidak karuan, namun yang bersangkutan dengan tenang menikmati.

Berkuasa itu bukan untuk menang-menangan atau semaunya atau menguasai semuanya lho. Berkuasa itu untuk menjembatani, nguwongke, mencerdaskan, memberdayakan bahkan untuk bisa menghidupkan. Intinya, berkuasa adalah pengorbanan dan keteladanan. Tatkala berkuasa dengan hasrat preman mau menang sendiri dan cara-cara yang nggilani dan njijiki, bisakah berkorban. Tatkala mengajarkan berbagai perkeliruan, bisakah menajdi panutan atau tuntunan. Pasti dikatakan nora mungkin. Pasti hanya ingin nggarong bagi dirinya dan bolo dupaknya. Yang berbahaya ketika era digital malah mengajarkan hidup dalam tempurung atau bathok ketololan. Mumet memang bagi yang waras. Bagi yang edan biasa saja, happy penuh tawa dan canda. Yang merasakan sakit, hanya yang waras. Tidak ada orang edan merasa sakit walau makan sembarangan. Labeling dan hembusan kebencian ini suatu tanda membuang otak untuk terus bahagia dalam bathok ketololan. Edan di dalam kewarasan atau edan yang minta disanjung waras.

Yang ingin berkuasa namun belum waras, ibarat orang lali ora kathok an. Menjadi tontonan bukan tuntunan. Menjadi bahan candaan dan plesetan. Bagai raja gila pakaian yang tanpa ragu dan malu telanjang keliling kota. Yang anehnya, pengikutnya dengan bangga mengelu-elukannya. Ya hanya satu kata, takut. Takut sama wong edan(*)

 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

BREAKING NEWS :