KISAH ADAM DAN HAWA bag-9 – Poskota.co

KISAH ADAM DAN HAWA bag-9

ilustrasi
ilustrasi

POSKOTA.CO – Ada dua orang di dalam diri kita: satu adalah orang yang baik, yang lain adalah orang yang jahat. Sang ular adalah orang jahat dalam diri kita. Kita tahu bahwa kita seharusnya tidak melakukan sesuatu, tapi kita tetap membiarkan itu terjadi – dengan ceroboh, atau bahkan dengan sengaja –
karena kita tak punya cukup kebijaksanaan atau penilaian yang baik.

Karena itu, kita harus memeriksa diri kita setiap hari agar dapat mengetahui apa yang diminta pikiran kita. Apakah itu benar-benar perlu, atau hanya dibesar-besarkan saja? Sesuatu untuk menghabiskan waktu kita yang sebaliknya dapat digunakan untuk memikirkan apa yang benar-benar kita perlukan? Kadang saat kita belanja bahan pangan, kita terpikat iklan di luar toko-toko dan melupakan hal-hal penting yang harus kita beli sebelum kita tiba di toko bahan pangan yang kita tuju.

Kita keluyuran di sana dan membeli ini dan itu. Kemudian kita mungkin kehabisan uang, toko bahan pangan itu mungkin tutup, atau kita mungkin melupakan semua itu. Jadi, kita akhirnya pulang dengan banyak barang yang tak berguna, dan kita tak bermaksud membeli satu pun barang itu.

Sekarang kalian telah membaca cerita ini, kalian dapat memahami mengapa ada orang yang memperlakukan kita dengan buruk meski kita bersikap sangat baik kepada mereka. Bahkan Tuhan tidak bisa memuaskan hati manusia, bagaimana kita bisa? Seperti itulah manusia.

KITA HARUS INGAT

Jadi, kita harus mencegah diri kita agar tidak menjadi seperti itu. Kita harus ingat cerita ini dan mengingatkan diri kita agar tidak menjadi orang semacam itu. Tapi, itu sangat sulit, karena kita sangat mudah membuat kesalahan dan kita suka mendengarkan “ular”. Tak ada orang yang lebih buruk daripada mereka yang bermanis-manis.

Itu sebabnya kami, orang Aulac, takut kepada orang yang manis. Berhati-hatilah jika ada orang bermanis-manis kepada kalian. Gula dan permen tidak membawa kebaikan bagi kita. Gula merusak semua vitamin yang kita makan – demikianlah saya diberitahukan.

Jadi, sekarang kalian mengerti mengapa mereka yang mengonsumsi banyak gula; atau memasukkan banyak gula dalam kopi mereka, terlihat sangat gelisah – karena mereka tak memiliki cukup vitamin. Selain itu, terlalu banyak gula akan menyebabkan kerusakan gigi.

MENJADI GEMUK

Hal yang manis tidak membantu kita. Kita akan menjadi gemuk, mendapat tekanan darah tinggi atau penyakit jantung jika kita makan terlalu banyak kue. Itu adalah penyakit yang fatal. Jadi, hal-hal manis tidak baik sama sekali, demikian juga kata-kata manis.

Tapi, seluruh dunia menyukai yang manis. Itulah masalahnya. Jika kata-kata ular itu tidak begitu manis, Hawa yang bodoh mungkin takkan makan buah itu. Tapi, karena kata-kata ular itu manis, Hawa mempercayainya dan makan buah itu; lalu menyeret jatuh suaminya juga.

Karena cerita ini, orang percaya bahwa perempuan itu seperti ular, karena mereka semua menggoda laki-laki. Saya tak berani mengatakan bahwa itu salah, tapi siapakah
penggoda yang semula? (bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
POSKOTA.CO - Permohonan Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan akademisi ke Mahkamah Konstitusi (MK) sejalan dengan isi Rancangan Undang-Undang (RUU) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Bahkan, dalam RUU tersebut hukuman perzinaan akan diperberat dari sembilan bulan penjara menjadi terancam lima tahun penjara. Pemerintah menanggapi permohonan akademisi terkait permintaan kriminalisasi lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) dan kumpul kebo, di mana materi itu juga masih dibahas di dalam DPR. Sebagai contoh, dalam Pasal 484 Ayat (1) Huruf e RUU KUHP berbunyi, "Laki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat dalam perkawinan yang sah melakukan persetubuhan dipidana lima tahun penjara". Pandangan pemerintah dalam hal ini disampaikan oleh Direktur Litigasi Peraturan Perundang-undangan Kemenkumham Yunan Hilmy dalam sidang lanjutan uji materi KUHP di ruang sidang MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (19/7). Yunan menyebut, pembahasan RUU ini terkesan lambat karena ada beberapa kendala. "Lamanya penyusunan RUU KUHP dipengaruhi banyaknya dinamika di antaranya masalah budaya, agama serta hal-hal lain yang dalam implementasinya harus dapat diukur secara jelas," kata Yunan. Sebab, dalam merumuskan ketentuan pidana berbeda dengan merumus ketentuan lain. Yunan mengatakan, untuk mengukur suatu norma pidana harus dapat dibuktikan secara hukum sehingga untuk dapat memutus suatu norma pidana memerlukan waktu yang lama. Oleh karena itu, pemerintah mengatakan para pemohon dapat memberikan masukan hal ini kepada pemerintah atau DPR. "Dalam rangka turut serta mengatasi problematika pembahasan RUU KUHP, para pemohon dapat memberikan sumbangan pemikirannya terhadap materi RUU KUHP terutama masalah perzinaan, pemerkosaan dan homoseksual. Materi RUU KUHP itu masih dibahas di DPR, dan akhir Agustus mendatang akan kembali dirapatkan usai masa reses DPR. Hukum Penjara Sebelumnya, Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan para akademisi lain meminta homoseks dan pelaku kumpul kebo dihukum penjara. Mereka meminta Mahkamah Konstitusi menafsir ulang Pasal 292. Selain Euis, ikut pula menggugat para akademisi lainnya yaitu Rita Hendrawaty Soebagio SpPsi, MSi, Dr Dinar Dewi Kania, Dr Sitaresmi Sulistyawati Soekanto, Nurul Hidayati Kusumahastuti Ubaya SS, MA, Dr Sabriaty Aziz. Ada juga Fithra Faisal Hastiadi SE, MA, MSc, PhD, Dr Tiar Anwar Bachtiar SS, MHum, Sri Vira Chandra D SS, MA, Qurrata Ayuni SH, Akmal ST, MPdI dan Dhona El Furqon SHI, MH. (*)